<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Arczre's Novels blog</title>
	<atom:link href="http://arczre.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://arczre.wordpress.com</link>
	<description>Ketika pena ingin dituangkan dalam sebuah kanvas</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Apr 2008 10:25:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='arczre.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Arczre's Novels blog</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://arczre.wordpress.com/osd.xml" title="Arczre&#039;s Novels blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://arczre.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Catatan Terhadap Dawn of the Dragons</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/04/02/catatan-terhadap-dawn-of-the-dragons/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/04/02/catatan-terhadap-dawn-of-the-dragons/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Apr 2008 06:33:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata ada serial Dawn of the Dragons. Setelah kemarin aku cari-cari di internet. Well, kalau begitu dengan terpaksa aku merubah ceritanya dan juga judulnya dari awal. Mohon maaf yang udah baca ceritaku. Setelah ini ceritanya benar-benar restart. Dengan judul yang baru. Semoga kalian suka.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=12&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ternyata ada serial Dawn of the Dragons. Setelah kemarin aku cari-cari di internet. Well, kalau begitu dengan terpaksa aku merubah ceritanya dan juga judulnya dari awal. Mohon maaf yang udah baca ceritaku. Setelah ini ceritanya benar-benar restart. Dengan judul yang baru. Semoga kalian suka.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=12&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/04/02/catatan-terhadap-dawn-of-the-dragons/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dawn of The Dragons &#8211; bag 5</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/03/21/dawn-of-the-dragons-bag-5/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/03/21/dawn-of-the-dragons-bag-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 17:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adventure]]></category>
		<category><![CDATA[Fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Bertahan 2 Jagu bergolak hatinya ketika para monster ciptaannya dengan mudah dicabik-cabik oleh Yarma. Naga hijau itu ternyata lebih kuat daripada dugaannya selama ini. Dia mencoba untuk tetap bisa tegar menghadapi Yarma, walaupun mengetahui tak akan mungkin dia bisa menang melawan sang naga. Luerthe benar-benar berambisi untuk bisa mengalahkannya. Keseriusannya itu sudah terbukti. Tiga monster [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=10&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Bertahan 2</b></p>
<p>Jagu bergolak hatinya ketika para monster ciptaannya dengan mudah dicabik-cabik oleh Yarma. Naga hijau itu ternyata lebih kuat daripada dugaannya selama ini. Dia mencoba untuk tetap bisa tegar menghadapi Yarma, walaupun mengetahui tak akan mungkin dia bisa menang melawan sang naga. Luerthe benar-benar berambisi untuk bisa mengalahkannya. Keseriusannya itu sudah terbukti. Tiga monster pohon raksasanya dikalahkan dengan dicabik-cabik oleh Yarma dengan brutal. Sang naga terbang ke langit hingga seolah-olah tak bisa dijangkau oleh siapapun. Lalu hewan itu berbalik dan menukik ke bawah.</p>
<p>Apabila dua orang penyihir bertempur, mereka menggunakan kekuatan pikiran mereka untuk menjatuhkan lawan. Itulah yang dilakukan oleh kedua orang ini. Selain berhadapan langsung, mereka juga saling berperang dalam benak mereka. Jagu mencoba membobol isi pikiran Luerthe dan juga sebaliknya Luerthe mencoba menembus pikiran Jagu. Keduanya benar-benar bertempur antara kenyataan dan maya.</p>
<p><i>&#8220;La Zarathu&#8221;</i>, kata Jagu.</p>
<p>Jagu menumbuhkan akar-akar pohon lalu membentuk ribuan anak panah secara alami dan kemudian membentuk busurnya. Ribuan panah itu terarah ke Luerthe dan Yarma. Kecepatan naga itu semakin cepat ke bawah, seolah-olah ingin langsung menghantam Jagu yang ada di bawah sana. Dan ketika Luerthe dan Yarma sudah semakin dekat, Jagu menunjuk ke arah Luerthe dan Yarma. Langsung saja ribuan anak panah menghantam ke duanya. Namun Yarma dan Luerthe berpisah. Luerthe melesat menjauh dari Yarma, sehingga ia tak terkena anak panah. Sayap Yarma terkena panah tapi ia masih bisa sempat menghindar. Luerthe lalu mendarat dengan sukses di atas tanah hutan Fogus.<br />
<span id="more-10"></span><br />
Jagu menghantamkan tangan kanannya ke tanah sampai pergelangannya masuk ke tanah. Luerthe yang baru saja berdiri dengan sempurna harus dikejutkan lagi dengan akar-akar pohon yang mengejarnya, pohon-pohon yang hidup mencoba untuk meraih dan menyerangnya. Luerthe pun mengeluarkan pedangnya. Ia tebas akar-akar itu dan berbagai serangan dari tumbuhan yang tiba-tiba menjadi hidup. Hutan Fogus menjadi hidup dan benar-benar membuat suasana hutan itu makin kian panas oleh pertempuran antara dua orang yang hebat.</p>
<p>Yarma terbang berputar. Ia melihat para penyihir yang membentuk pelindung untuk Hutan Fogus, sehingga para Wyverd tidak bisa masuk ke dalam hutan tersebut. Matanya menatap tajam kepada para penyihir itu, nafasnya berat dan tampak asap keluar dari hidungnya. Api keluar dari mulutnya dan ia pun menukik ke arah para penyihir dengan kecepatan yang hebat. Para penyihir menyadari hal ini. Mereka membentuk pertahanan. Dan mengucapkan mantra-mantra.</p>
<p>&#8220;Bodoh!!&#8221;, Yarma masuk ke dalam benak mereka. Dan telinga mereka langsung mengeluarkan darah. Ketika mereka mengerang kesakitan itulah Yarma menyemburkan apinya. Para penyihir itupun terbakar dan sebagian digigit oleh naga hijau itu dan membawanya terbang. Di udara ia mengoyak penyihir itu dan menguyahnya, lalu menelannya. Para penyihir itu ketakutan dan sebagian di antara mereka lari. Wyvern-wyvern itu mengetahui kalau pertahanan telah bobol dan segera saja mereka masuk ke Hutan Fogus. Meka mendarat dan berlari di antara pepohonan untuk menembus pertahanan Aldemaria. Namun mereka juga direpotkan oleh pohon-pohon yang tidak mengijinkan mereka untuk bisa masuk lebih jauh ke dalam hutan terlarang itu.</p>
<p>Jagu lalu mencabut tangannya dari bumi lalu ia pun seperti mengambil sebilah pedang yang berwarna hijau keputih-putihan. Di pinggirnya terdapat ukiran-ukiran bahasa kuno. Pelindung pedangnya terbuat dari logam yang sangat khusus, ditempa dengan platina, dan membentuk sebuah ukiran seni yang hanya dimengerti oleh keagungan para peri. Gagangnya terbuat dari kayu yang paling baik. Jagu lalu melayang di udara mengepakkan sayap kupu-kupunya. Rambutnya yang panjang dan berwarna putih berkibar-kibar di saat ia melayang menghantam angin yang berhembus di sela-sela pepohonan.</p>
<p>Dari kejauhan ia bisa melihat Luerthe yang bertarung melawan akar-akar pohon. Jagu bersiap untuk menebasnya dengan tebasan pertama, mungkin dengan sekali ayunan pikir Jagu. Namun ternyata Luerthe lebih siaga, ia dengan cepat tanggap menyingkirkan akar-akar pohon yang menghalangi jalannya, lalu menahan serangan Jagu yang kekuatannya menggetarkan tubuh mereka berdua ataupun orang yang mendengarkan dentingan suara pedang mereka beradu.</p>
<p>&#8220;Haa..!! Mengabdilah pada Dedgard, dan kau akan kuampuni&#8221;, kata Luerthe.</p>
<p>&#8220;Tak akan!&#8221;, balas Jagu.</p>
<p>Mereka pun akhirnya terlibat dengan adu pedang. Luerthe melawan Jagu dengan ratusan akar-akar yang terus menjalar dan pohon-pohon yang terus menyerangnya. Dan juga melayani adu pedang dengan peri itu. Jurus demi jurus mereka arahkan ke lawan mereka. Luerthe dengan cukup lincah bisa menghindari dan menahan serangan dari Jagu. Luerthe berguling ke sana ke mari dan berlindung di balik pohon ketika Jagu ingin menebasnya. Namun Luerthe tak berhenti di situ saja, ketika Luerthe bersembunyi di balik pohon Jagu pun menebas pohon tersebut, sehinga hal ini membuat Luerthe makin senang dan makin menikmati pertempuran ini.</p>
<p>Jagu mendengar suara-suara Wyvern yang mulai masuk hutan, jeritan-jeritan yang sangat khas itu bisa dia dengar dari jarak yang masih mencakup wilayah hutan Fogus. Suara itu juga di dengar oleh Verta yang saat ini hampir ke luar dari hutan bersama Nu. Ia berbalik dan berteriak, &#8220;Breitaaa (Kakaaak)!!&#8221;</p>
<p>Nu ikut berbalik dan melihat Verta yang kelihatannya khawatir dengan keadaan Jagu. Ia menghampiri Verta lalu bertanya, &#8220;Apa kita harus kembali?&#8221;</p>
<p>Verta terdiam, dan benaknya mulai bicara, &#8220;Aku sebenarnya tak ingin meninggalkan kakak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Baiklah kita kembali&#8221;, kata Nu sambil melangkah kembali tapi Verta mencegahnya.</p>
<p>&#8220;Tidak, kita tetap harus pergi!! Maafkan keegoisanku&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Nu mengangguk. Mereka berdua melewati sebuah jalan berbatu dan akhirnya berakhir di sebuah danau yang airnya tenang, seolah-olah tidak pernah tersentuh oleh apapun. Nu kemudian berjalan mendekat ke danau tersebut. Verta tiba-tiba lemas, ia terjatuh. Nu terkejut dan berbalik.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;, tanyanya sambil membantu Verta untuk bangkit.</p>
<p>&#8220;Kekuatanku melemah, kita sudah keluar dari hutan Fogus&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Katamu kekuatanmu akan baik-baik saja&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Iya&#8221;, jawab Verta dengan yakin.</p>
<p>&#8220;Lalu, kenapa kau begini?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Peralihan kekuatan. Kekuatanku dan kakak terbagi, ketika aku berada di hutan Fogus, kekuatan kami hanyalah separuh dari kekuatan kami kalau kami tidak bergabung. Tapi ketika aku keluar dari hutan ini, siapapun yang ada di dalam hutan Fogus berhak mendapatkan seluruh kekuatan dari siapa yang keluar darinya&#8221;, jelas Verta. &#8220;Kini kekuatanku sedang bergerak meninggalkan tubuhku untuk menjadikan kekuatan kakakku sesungguhnya&#8221;.</p>
<p>&#8220;Celaka, kalau begitu kau bisa mati&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Tidak, Luth akan mengisi kekuatanku dengan kekuatan yang baru kalau aku masuk ke danau itu&#8221;, kata Verta. &#8220;Masukkan aku ke sana, Luth akan memberiku kekuatan&#8221;</p>
<p>Nu kemudian membopong tubuh Verta untuk bisa masuk ke dalam danau. Tubuh peri ternyata tak begitu berat, pikir Nu. Verta hanya tersenyum kecil, seolah-olah ia tahu pikiran pemuda ini. Air danau itu bergelombang ketika tubuh ke duanya masuk ke sana. Verta lalu diturunkan oleh Nu. Ia menyaksikan Verta berjalan perlahan menuju tengah danau, diiringi suara gemercik yang halus, seperti buaya yang masuk ke dalam air. Kemudian sedikit demi sedikit tubuh Verta masuk ke danau dan ia tenggelam. Nu hanya berdiri di tempatnya tak mengerti apa yang harus dia lakukan.</p>
<p>Suara binatang malam kini terdengar nyaring. Jangkrik-jangkrik kecil, kumbang-kumbang, dan berbagai hewan-hewan lainnya mulai bernyanyi. Nu melihat bintang jatuh di langit, dan dari atas danau ini Nu bisa melihat bintang-bintang dengan jelas. Malam tanpa bulan ini serasa sunyi ditambah lagi dengan Verta yang masih lama di dalam air. Pikiran Nu kembali kepada Verta. Seorang peri cantik yang membuat hatinya bergetar. Seorang peri yang bakal mendampinginya dalam mencari Dragon Lord. Seorang yang mungkin nanti akan mengisi hidup-hidupnya. Nu mendesah dan menghambil nafas panjang. Ia menoleh kiri kanan dan melihat ke belakang. Ia tak tahu apa yang terjadi di belakang sana. Tubuhnya telah lelah. Ia ingat kalau dia belum makan siang hari ini. Ia terlalu disibukkan dengan berbagai urusan yang mengejutkan dua hari ini. Dan sekarang ia berada di sebuah danau yang misterius dengan seorang peri yang cantik menyertainya.</p>
<p>Nu merasa ia terlalu lama berdiri di sana, ia mencoba menghitung. Ia bilang pada dirinya sendiri akan menghitung sampai enam puluh. Mungkin setelah itu Verta akan keluar. Ia pun menghitungnya. Dari satu, sampai ke tiga puluh ia resah. Dan setelah bilangan enam puluh itu tersentuh ia tambah khawatir. Kenapa Verta sangat lama sekali berada di dalam danau itu. Bahkan tak muncul gelembung udaranya. Apakah Verta bunuh diri? Tak mungkin seorang peri bunuh diri. Nu berpikir Verta mungkin mempunyai ingsang yang tersembunyi di balik tubuhnya yang bisa membuatnya bernafas. Ia bersedekap. Dan mendesah lagi. Ia coba menghitung lagi dan kalau sampai hitungannya habis ia akan bertanya kepada Verta apakah dia baik-baik saja. Ia hitung lagi dan sampai ke bilangan terakhir.</p>
<p>&#8220;Verta kau baik-baik saja?&#8221;, tanya Nu. Tak ada jawaban. Mungkin karena di dalam air, jadinya Verta tak bisa mendengar pikir Nu. Eh, apa hubungannya? Akukan bicara dengan benakku.</p>
<p>Nu segera berlari menuju ke tengah danau, namun sebelum ia melangkahkan kakinya untuk ke tiga, dari tengah danau muncullah sebuah kepala. Nu tak melanjutkan langkahnya. Di hadapannya ada seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun putihnya, telinganya masih runcing. Dan sayap hitamnya yang membuka lebar. Kepalanya mendongak dan menghirup udara dengan bebas. Tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu kehabisan nafas. Saat itu juga Nu mengira Verta punya ingsang.</p>
<p>&#8220;Aku tak punya&#8221;, kata Verta dengan mulutnya. &#8220;Kau pikir aku ini apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh,&#8230;kukira&#8221;, kata Nu lega. Tapi ia terkejut kemudian, &#8220;Kau bicara dengan mulutmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja, aku baru saja belajar bahasa manusia&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Secepat itu?&#8221;, tanya Nu. &#8220;Aku jadi tertarik apa yang ada di dalam sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tidak ingin tahu hal itu&#8221;, kata Verta. &#8220;Luth yang mengajariku dengan <i>`auto readernya`</i>&#8220;.</p>
<p>&#8220;<i>Auto Reader</i>?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, kita harus pergi dari sini&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Sayapmu lebih lebar dari dugaanku&#8221;, kata Nu. Beberapa saat ia merasa lega bisa menggunakan mulutnya daripada menggunakan pikirannya. Tapi hal itu membuatnya tak berpikir lagi kenapa Verta bisa melakukannya. Karena sayap Verta melipat lagi, kemudian berjalan menepi. Nu mundur dan mengikutinya.</p>
<p>&#8220;<i>Ge Dura</i>&#8220;, kata Verta. Tiba-tiba air yang ada di seluruh tubuhnya berpencar dari tubuhnya sehingga membuat pakaiannya kering sempurna. Ia lalu menatap Nu yang masih terbengong. &#8220;Ada apa? Ayo kita berangkat!!&#8221;</p>
<p>Nu mengerutkan dahi dan menatap pakaian Verta yang ternyata hanya satu helai. Nu juga terheran-heran sebenarnya ada apa di bawah sana, sampai-sampai pakaian Verta pun berganti. Nu menggeleng-geleng. &#8220;Sebaiknya kau cari pakaian yang lebih baik dari itu&#8221;.</p>
<p>Verta tersenyum dengan senyuman yang khas. Telinganya bergerak-gerak. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan meninggalkan danau misterius itu.</p>
<p>***</p>
<p>Raja dan seluruh pasukannya terus menahan hantaman demi hantaman Kull dan Troll di pintu gerbang kastil. Gempurannya makin kuat dan kuat, seiring makin gelapnya malam. Berkali-kali getarannya membuat tembok istana bergemuruh. Dan berkali-kali pula membuat sorakan dan teriakan untuk menyemangati pertempuran ini.</p>
<p>Jagu juga berjuang sampai dengan tetes darah terakhir. Pertarungannya dengan Luerthe tak bisa dianggap remeh. Sang penunggang naga itu bergantiang menyerang Jagu. Dan berkali-kali lempar-melempar elemen ke arah keduanya tak bisa dihindari. Jagu melempar api, Luerthe melempar es. Mereka bertarung dalam kekutan sihir tingkat tinggi.</p>
<p>&#8220;Sepertinya kekuatanmu bertambah&#8221;, kata Luerthe.</p>
<p>Dalam hati Jagu tahu bahwa sekarang ini Verta telah pergi keluar dari hutan Fogus, jadi sekarang ia agak sedikit lega dan sangat bersemangat dalam pertarungan itu. Namun juga disadari oleh Jagu kekuatan Luerthe sedikit demi sedikit terus bertambah. Bahkan mungkin sekalipun dengan bertambahnya kekuatan yang diberikan oleh Verta kepadanya, sepertinya agak jauh kalau harus melawan Luerthe.</p>
<p>Keduanya tiba-tiba berhenti untuk saling menyerang. Tampaknya Jagu memikirkan taktik dan sambil mengatur nafas sejenak. Jagu menatap tajam ke arah manusia bernama Luerthe ini. Ia tak habis pikir harus berhadapan dengan D Knight. Ia harus memikirkan taktik yang paling ampuh untuk mengalahkannya. Jagu pun mengerti satu hal, ia harus mencari kelemahan elemen dari Luerthe barulah ia bisa menaklukkannya.</p>
<p>&#8220;<i>Huriele, na akwli la befara tyuhngeita</i>!!(Sungguh, aku benar-benar dan yakin dengan sungguh-sungguh akan menghancurkanmu)&#8221;, kata Luerthe.</p>
<p>&#8220;<i>Ne laa, detyuhngeina basera syaelafusta, meena syaleafusna akwli be dareta</i>!!(Aku tak akan sekali-kali, aku dihancurkan dengan tebasan pedangmu, justru pedangkulah yang akan menebasmu)&#8221;, jawab Jagu.</p>
<p>Jagu berpikir, sambil mengeluarkan serangan-serangan dari seluruh tangannya. Ia mengeluarkan api, Luerthe bisa membalasnya. Jagu berpikir bukan api. Kemudian Jagu menyerang lagi dengan es. Tapi bisa dielakkan oleh Luerthe. Kemudian ia menyihir angin untuk bisa menghantamnya, tapi Luerthe bisa dengan mudah menghancurkan sihir angin itu. Jagu kemudian memejamkan matanya, tiga elemen bisa dielakkan oleh Luerthe. Ia pun memilih menggunakan elemen tanah, apakah dia bisa dikalahkan dengan elemen tanah.</p>
<p>&#8220;<i>La Eretha</i>!!&#8221;, kata Jagu, seketika itu tanah bergelembung dan membentuk dua lengan yang sangat besar, lalu lengan itu menghantam Luerthe. Luerthe yang belum sigap atas mantra itu menerima begitu saja bogem mentah elemen tanah. Ia pun melayang menghantam pohon besar yang tak jauh dari tempatnya. Luerthe jatuh terjerembab. Ia pun mencoba berdiri.</p>
<p>&#8220;Keparat, aku lengah&#8221;, kata Luerthe.</p>
<p>Bumikah yang menjadi kelemahannya?</p>
<p>Jagu masih ragu, ia pun kemudian kembali menyerangnya dengan elemen bumi. Dua lengan raksasa yang terbentuk di tanah lagi-lagi menyernag Luerthe. Tapi Luerthe sekarang sigap dan menghempaskan dua lengan jadi-jadian itu hanya dengan sekali ayunan pedang.</p>
<p>&#8220;Baiklah, saatnya sungguh-sungguh, sedari tadi kau masih pemanasan. Mau ke sebuah tantangan yang lebih besar, selain ingin tahu apa kelemahan elemenku?&#8221;, tanya Luerthe.</p>
<p>Jagu terbelalak. Selama ini Luerthe hanya main-main?</p>
<p>&#8220;Kau kira aku selama ini bertarung sungguh-sungguh? Aku itu adalah D Knight. Kau tidak boleh lupa hal ini. Aku belum mengelurkan seluruh kekuatanku, bahkan separuh pun tidak. Pemanasan kali ini sudah cukup. Aku akan mengeluarkan kekuatanku seluruhnya, sehingga kau bisa tahu bagaimana kekuatanku yang sesungguhnya agar kau tidak mati penasaran&#8221;, kata Luerthe dengan menampakkan senyuman yang sangat mengerikan.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;, tanya Jagu.</p>
<p>&#8220;Tak ada tempat lagi untuk kabur wahai peri hutan, hutanmu akan mati&#8221;, Luerthe tiba-tiba melompat ke atas. Lompatan yang tinggi itu adalah gerakan cepat ke langit kemudian bersalto dan duduk di sebuah naga yang terbang di atas hutan Fogus. Luerthe lalu berdiri di atas pundak sang naga. &#8220;Kau tahu kenapa kami D Knight bisa kuat? Itu karena sang naga memberikan kami kekuatan. Dan sang naga juga memberikan kami tenaga yang berlipat-lipat yang tidak akan habis oleh zaman. Lihat dan saksikan kekuatanku yang sebenarnya!!!!&#8221;</p>
<p>Luerthe kemudian mengambil ancang-ancang, lalu ia seperti menarik sesuatu yang tak tampak. Dan tiba-tiba bumi bergoyang. Jagu tak habis pikir apa yang terjadi berikutnya adalah lebih megerikan dari apa yang ia mimpikan selama ini.</p>
<p>&#8220;<i>De wood, falasheira almengtyu pa de vernee</i>&#8220;, bacaan mantra yang nyaring itu membuat makhluk-makhluk merinding dan ternyata benar. Tiba-tiba dari bawah akar-akar pohon muncul dan menjerat tubuh Jagu. Jagu tak habis pikir apa yang terjadi.</p>
<p>Kakinya terbelenggu oleh akar pohon yang kuat dan kemudian pedangnya pun terjatuh. Ia tak bisa apa-apa karena kaki sampai pinggangnya telah terikat. Luerthe pun tertawa terbahak-bahak. Ia pun turun dari naganya sementara itu naganya masih ada di atas udara. Ia tak perlu melompat turun, tapi ia berjalan dan ketika berjalan, tampak tumbuh-tumbuhan yang ada di sini tidak patuh lagi kepada Jagu. Mereka memberontak dan sekarang tubuh Jagu tak bisa digerakkan.</p>
<p>&#8220;Pertahananmu hanya sampai di sini saja&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Karena sekarang kau milikku&#8221;.</p>
<p>Jagu sekarang menghadapi bahaya, Luerthe makin dekat dan makin dekat. Luerthe tampaknya puas melihat sengsaranya Jagu ingin melepaskan ikatan akar-akar itu.</p>
<p>&#8220;Kau tahu sekarang bukan, aku adalah D Knight Wood. Nagaku adalah naga Wood. Yarma Wood Dragon. Elemen wood. Yang mana seharusnya kekuatan ini kau sadari sudah lama, tapi kau diam saja ketika bertarung tadi. Kau tahu bukan kelemahan wood itu apa, benar sekali, kelemahannya adalah Rock!!&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Aku hanya perlu melempar sihir Rock kepadamu, sehingga kau akan jadi batu selamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak mungkin, tidak mungkin!!&#8221;, kata Jagu.</p>
<p>&#8220;Tenang saja, kau bakal menjadi patung yang paling indah, karena kau adalah bangsa peri&#8221;, Luerthe sekarang berada di hadapan Jagu. Ia tersenyum, senyum kemenangan. &#8220;Aku hanya ingin kau menjerit, menjerit dan menjerit, hahahahaha!!&#8221;.</p>
<p>Jagu yang sudah tidak bisa apa-apa itu hanya pasrah, tangannya pun tak bisa menjangkau Luerthe, tapi ia sangat senang dan tersenyum kepada Luerthe. &#8220;Ya&#8230;, aku kalah.&#8221;</p>
<p>Hal itu membuat Luerthe tertawa terbahak-bahak. Pengakuan musuhnya itu membuatnya tahu bahwa pintu kemenangan itu makin dekat, sehingga ia pun mencoba mendekat ke arah Jagu, dan ia pun mulai mendekat. Jagu lalu menggumamkan sesuatu yang sampai-sampai orang didekatnya pun tidak bisa mendengar apa yang diucapkan.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;, tanya Luerthe. &#8220;Aku tidak dengar tadi. Ulangi!!&#8221;</p>
<p>Jagu pun membungkuk.</p>
<p>&#8220;Kau akhirnya menyerah juga, hahahahaha!!!&#8221;, kata Luerthe.</p>
<p>Luerthe makin mendekat ke Jagu dan kini ia menjambak rambut Jagu yang berwarna putih itu. Tapi Jagu malah tersenyum. Ia tiba-tiba memegang kaki musuhnya, dan ini membuat Luerthe terbelalak.</p>
<p>&#8220;Kalau aku bisa mati oleh Rock, maka kau juga bisa mati olehnya&#8221;, kata Jagu.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;, tanya Luerthe ingin tahu.</p>
<p>Jagu berkata, &#8220;Aku sudah mengeluarkan mantra yang mana seluruh hutan Fogus menjadi batu. Kalau kau tak cepat-cepat kau pasti akan kecewa karena tak sempat lagi menghirup udara bebas&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bangsat!!&#8221;, Luerthe ingin melepaskan diri darinya. Ia memukul Jagu, memukul lagi dan lagi agar ia bisa terbebas. Yarma yang melihatnya pun ingin turun, tapi ketika melihat hutan dari pinggir ke tengah menjadi batu semuanya, ia jadi setengah berani setengah takut. &#8220;Yarma ayo tarik aku ke atas, aku tak mau menjadi patung!&#8221;</p>
<p>Dengan cepat hutan Fogus pun berubah. Kini hutan itu menjadi batu yang sangat keras. Batu itu terus merambat hingga ke tempat Jagu terjerat akar-akar pohon. Yarma memberanikan diri untuk mengambil Luerthe, karena walau bagaimanapun dia adalah D Knightnya. Yarma menarik Luerthe dengan menggunakan rahangnya. Ia pun segera mengarik kaki Luerthe. Sedikit demi sedikit Jagu terlihat menjadi batu, mulai dari akarnya yang melilit, baru kemudian tubuh Jagu dan kemudian sampai pada kaki Luerthe yang sekarang menjadi batu, tapi sebelum jauh merambat lagi Luerthe bisa diambil oleh Yarma. Dia mengerang kesakitan ketika terjadi hal itu. Kini kaki kanan dari Luerthe mejadi batu.</p>
<p>&#8220;Kurang ajar!!!&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Selama bertarung, kau adalah orang hebat dari semua musuh-musuhku&#8221;.</p>
<p>Kaki Luerthe sekarang ini ibarat patung yang belum sempurna dan sekarang Luerthe menjadi meraung-raung kesakitan, karena kakinya sekarang ibarat batu yang menyatu dengan tubuh manusia. Dan Luerthe pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Sang penjaga itu pun sekarang tak bisa berkutik melawan D Knight dan naganya. Paling tidak, Jagu telah berusaha.</p>
<p>Hal itu pun dirasakan oleh Verta yang sudah berjalan jauh. Ia menangis sambil memeluk Nu. &#8220;Kakakku, kakak!!&#8221;. Dan Verta pun menangis.</p>
<p>&#8220;Percayalah dia masih hidup, tak mungkin orang sepeti kakakmu mudah dikalahkan begitu saja&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Tapi barusan ia berkata kalau sekarang ini ia sudah menjadi patung, terkena sihir Rock miliknya sendiri untuk mengalahkan Luerthe dan Yarma&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Nu terdiam.</p>
<p>***</p>
<p>Para Goblin sudah mulai masuk ke area istana, hal itu membuat para prajurit kelabakan, apalagi para Goblin itu dibantu oleh para Mist. Pertempuran hebat di lorong-lorong saluran air itu tak bisa dihindari, walaupun sempit tapi pertarungan mereka di sana benar-benar panas. Dan karena para prajurit terdesak, para penyihir mulai membantu orang-orang yang ada di dalam lorong-lorong tersebut.</p>
<p>Sehingga para Mist kekuatannya masih tetap, dan kini pintu gerbang tiba-tiba saja makin kencang mendobraknya. Raja tetap bertahan. Namun keanehan terjadi, tiba-tiba kekuatan mereka bertambah dan bertambah lagi. Sehingga pintu gerbang pun terbuka, karena memang kekuatan mereka lebih wah.</p>
<p>Pertempuran sengit tak bisa dihindarkan, raja Aldemaria berada diurutan paling depan. Ia menebas siapa saja yang berani menyentuh dia dan prajuritnya. Pertempuran yang tak terelakkan terjadi di gerbang selatan. Ibarat semut yang jumlahnya ribuan ingin masuk pada sebuah sarang.</p>
<p>Pintu gerbang barat juga terbuka, para prajurit kebingan dan mereka pun tak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga kemudian, sang raja memerintahkan, &#8220;Bawa pergi wanita dan anak-anak beserta penduduk dari sini melalui pintu bawah tanah!!&#8221;.</p>
<p>Dan mereka pun tak bisa bertahan lebih lama lagi selain harus berlari dari tempat itu menyelamatkan diri. Namun raja bertekat akan bertarung habis-habisan. Tapi ia juga ingat untuk menjadi pengajar Dragon Lord. Tidak mungkin dia harus mati di sini.</p>
<p>&#8220;Yang mulia, pergilah!!&#8221;, kata sang panglima.</p>
<p>&#8220;Tidak, aku masih ingin rakyatku selamat&#8221;, kata raja.</p>
<p>&#8220;Paduka, besok paduka masih bisa bertempur, tapi rakyat tidak&#8221;, kata panglimanya. &#8220;Terkandang mundur juga disebut sebagai taktik&#8221;.</p>
<p>Raja kemudian ditarik oleh panglima untuk keluar dari peperangan ini.</p>
<p>&#8220;Pimpinlah rakyat paduka untuk meninggalkan tempat ini&#8221;, kata panglima tersebut.</p>
<p>Raja berpikir melarikan diri, memang ini adalah cara pengecut, tapi&#8230;demi keselamatan rakyatku. Aku bisa lakukan apa saja. Sebab inilah tujuanku menjadi raja. Dan ia pun akhirnya mantap, hingga kemudian menuju ke rakyatnya yang mana mereka dalam kondisi berat, dan ketakutan terhadap perang yang besar ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=10&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/03/21/dawn-of-the-dragons-bag-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dawn of The Dragons &#8211; bag 4</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/03/20/dawn-of-the-dragons-bag-4/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/03/20/dawn-of-the-dragons-bag-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 13:26:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adventure]]></category>
		<category><![CDATA[Fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Bertahan 1 Sang raja terus-menerus memperhatikan setiap pertempuran yang terjadi. Ia melihat para Mist membentengi diri mereka dengan perisai yang mereka buat dengan menggunakan sihir. Ribuan Troll dan Kull mencoba memakai tangga untuk menjangkau benteng. Para prajurit bergotong-royong untuk menjatuhkan tangganya. Beberapa Kull dan Troll mati terpanah dan terjatuh dari tangga. Pertempuran untuk bertahan ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=9&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Bertahan 1</b></p>
<p>Sang raja terus-menerus memperhatikan setiap pertempuran yang terjadi. Ia melihat para Mist membentengi diri mereka dengan perisai yang mereka buat dengan menggunakan sihir. Ribuan Troll dan Kull mencoba memakai tangga untuk menjangkau benteng. Para prajurit bergotong-royong untuk menjatuhkan tangganya. Beberapa Kull dan Troll mati terpanah dan terjatuh dari tangga. Pertempuran untuk bertahan ini begitu sengit, sementara ini keunggulan berada di tangan pasukan Aldemaria. Mereka bisa membendung serangan pasukan musuh. Namun raja berpendapat lain. Ia masih khawatir.</p>
<p>&#8220;Yang Mulia sepertinya kita berada di atas angin&#8221;, kata salah seorang prajurit yang baru datang.</p>
<p>&#8220;Kalian jangan bangga dulu. Mereka baru pemanasan, pertempuran yang sesungguhnya belum terjadi&#8221;, kata sang raja. &#8220;Perasaanku tidak enak, bagaimana keadaan hutan Fogus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tim kavaleri sudah dikirim ke sana&#8221;, kata sang panglima.</p>
<p>&#8220;Aku tidak bertanya pasukannya, aku bertanya bagaimana keadaannya&#8221;, kata sang raja.</p>
<p>Tiba-tiba dari langit muncul seekor elang yang terbang mengitari kerajaan Aldemaria. Elang itu berputar dan berputar dengan suaranya yang melengking. Raja mendongak, ia tampaknya mengetahui sesuatu. Elang itu pun mulai mendarat di atas kerajaan Aldemaria. Sang raja menarik nafas panjang. Ia kenal burung elang itu. Dan elang itu ukurannya tidak normal, elang itu tiga kali lebih besar dari ukuran manusia.<br />
<span id="more-9"></span><br />
&#8220;Raja Aldemaria Klosva!!&#8221;, elang raksasa itu mulai berbicara. Ia bertengger seenaknya di atas benteng. Para prajurit tertegun. Mereka seakan-akan baru pertama kali melihat elang raksasa tersebut, dan tentu saja mereka terkejut. Tampak aura yang aneh terasa di atas benteng itu.</p>
<p>&#8220;Raja Elang Terhormat Cerathu&#8221;, sahut sang raja.</p>
<p>&#8220;Aku ke sini tidak karena urusan yang sepele. Aku ingin memberitahukanmu satu hal yang akan mengejutkanmu dan juga orang-orang yang ada di depanku&#8221;, kata elang raksasa tersebut. &#8220;Dan aku terpaksa ke sini untuk memberitahukannya secara langsung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Boleh kutahu apa itu Yang Mulia?&#8221;, tanya Klosva, raja Aldemaria.</p>
<p>&#8220;Tugasmu sebagai raja di Aldemaria hampir berakhir. Dragon Lord telah muncul, batu rubi yang akan digunakan sebagai bahan pedang D Knight telah bersinar. Dan akan terus bersinar sampai Dragon Lord mati atau D Knight sendiri yang mengambilnya. Ketika dia bertemu denganmu suatu saat nanti, berjanjilah kepadaku, atas nama Luth dan seluruh penduduk Aldemaria untuk memberikan kekuasaanmu kepadanya&#8221;, kata sang elang.</p>
<p>Sang raja terkejut mendengarnya, &#8220;Sudah munculkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah, dan dia ada di sini. Dia akan belajar banyak darimu sebagai seorang ksatria pedang terhebat di Aldemaria, dia juga akan belajar kepada Archles sebagai seorang pewaris naga sejati, dia juga akan belajar kepada Elfara sebagai seorang yang bijak, dan dia juga akan belajar kepadaku untuk mengendalikan Dragon Lord&#8221;, kata Cerathu, untuk sesaat ia menolehkan kepalanya kepada pertempuran yang ada di bawah.</p>
<p>&#8220;Apakah berarti aku harus menyerah di sini?&#8221;, tanya Klosva.</p>
<p>Sang elang menjerit dan membuka sayapnya, &#8220;Aku tidak menyuruhmu untuk mengalah sobat!!&#8221;, tampak kemarahan menyeringai dari wajah sang elang.</p>
<p>&#8220;Oh, maaf&#8221;, kata Klosva. Cerathu menutup sayapnya lagi, tampak sayapnya melipat seperti lipatan kasur, karena bulunya yang sangat tebal. Temboloknya beberapa kali naik turun.</p>
<p>&#8220;Apabila kau ingin menyerahkan Aldemaria ini kepada Dedgard itu adalah urusanmu. Aku hanya menyampaikan hal ini karena Luth yang meminta. Dia langsung berbicara kepadaku, dan aku tahu ini pasti urusan yang sangat penting&#8221;, kata Cerathu. &#8220;Aku tak bisa membantu peperanganmu di sini, kerajaanku juga akan jadi incaran Dedgard dan pasukannya. Satu-satunya kerajaan manusia yang masih bertahan melawan Dedgard adalah Aldemaria. Negha hancur, Poefamus telah dikuasai, Lumdeger telah jadi abu, Hubadern telah jadi penjara para raja, dan Gnomebunm menjadi tangan panjang Dedgard untuk mengembangkan kerajaan Arthemis miliknya. Kalau Aldemaria hancur, tak ada lagi tempat yang bisa dijadikan perlindungan bagi manusia.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana dengan bangsa peri?&#8221;, tanya raja.</p>
<p>&#8220;Para peri akan hidup dengan kekuatan mereka masing-masing, selama mereka berada dalam daerah kekuasaannya mereka akan tetap tak terkalahkan. Namun aku dengar kabar di hutan mistis Nefiris, mereka sedang menanti kedatangan sang Dragon Lord. Sampai sekarang, tidak ada satupun yang tahu di mana Dragon Lord berada. Keberadaannya hanya diketahui oleh D Knight yang menjadi tuannya. Negeri Aura dan negeri Genji&#8211;negeriku&#8211;perlahan-lahan juga mengatur strategi untuk menghancurkan kekuasaan Dedgard yang semakin kuat. Tapi, kondisi negeriku sekarang ini sedang lemah, rakyatku sedang dalam masalah. Aku tak bisa membantu Aldemaria, dan negeri-negeri yang lain. Akupun terpaksa ke sini dan aku setiap hari menangis karena kekuasaan Dedgard makin besar sedangkan aku tak satupun membantu mereka&#8221;, kata Cerathu sambil menitikkan air mata.</p>
<p>Seekor burung elang raksasa yang menangis adalah hal yang aneh bagi sebagian orang. Namun hal itu nampak kian jelas ketika dari matanya keluar bulir-bulir air yang membasahi paruh dan bulunya yang lembut berwarna coklat itu. Angin berhembus menerpa bulu-bulu halus itu. Sang raja menghela nafas panjang, lalu menghadap ke arah peperangan yang terjadi di bawah.</p>
<p>&#8220;Kebangkitan Dragon Lord, mudah-mudahan bisa mengakhiri semua ini&#8221;, kata Klosva.</p>
<p>&#8220;Aku sangat ingin membantumu, tapi aku harus pergi, rakyatku membutuhkanku&#8221;, kata Cerathu.</p>
<p>Dengan posisi membungkuk dan dengan sekejap Cerathu melesat ke langit yang tidak dihiasi bulan satupun. Melihat Cerathu pergi dari Aldemaria para prajurit Dedgard bersorak. Mereka sebelumnya menduga elang raksasa itu akan membantu Klovis untuk menggempur mereka, tapi ternyata tidak. Ada urusan yang lebih penting yang harus dilakukan oleh Cerathu. Elang itu menghilang di balik awan gelap, meninggalkan bau darah dan jeritan kesakitan di bawah sana.</p>
<p>Raja pun menunduk, ia lalu berjalan meninggalkan tempat dia berdiri untuk kembali ke ruangannya sejenak. Ia mengisyaratkan agar tidak diikuti oleh siapapun. Raja kemudian berjalan menuju ke sebuah tangga yang terletak di samping ruang utama. Ia terus turun lalu berbelok ke sebuah lorong yang sempit, kemudian menekan salah satu batu yang berada di perempatan lorong. Kemudian dilanjutkannya berjalan, dan ia berhenti tepat di tengah-tengah lorong. Lalu ia menghadap ke kanan dan menekan dindingnya. Tampaklah sebuah pintu rahasia terbuka. Tembok itu seperti berputar 180 derajat. Yang kemudian diakhiri dengan suara seperti anak kunci mengunci. Raja berada di sebuah ruangan yang hanya disinari oleh cahaya batu berwarna biru yang sangat aneh.</p>
<p>Batu itu seperti sebuah bongkahan kerucut yang menghadap ke bumi. Benda aneh itu menempel di atap dan juga sebagai satu-satunya penerang di tempat itu. Tampak tepat di bawah batu itu ada sebuah altar yang di tengahnya menancap sebilah pedang berwarna biru keputih-putihan. Pedang itu sangat anggun dan menawan. Tampak digagangnya ada ukiran-ukiran yang sangat halus, seperti terbuat dari tangan seorang peri. Tampak juga sebuah tulisan di mata pedang itu. Sebuah bahasa yang asing. Dan pelindung pedangnya, tampak berkilauan seperti emas.</p>
<p>Altar itu merupakan sebuah batu yang berbentuk seperti sebuah piringan. Di atas altar itu ada batu biru tadpi yang bercahaya seperti kristal. Di tengah altar itulah pedangnya. Di pinggir batunya terdapat huruf-huruf yang tidak bisa dimengerti oleh manusia pada umumnya.</p>
<p>Raja mendesah lalu duduk di sebuah batu yang ada di hadapan pedang tersebut. Ia lalu berbicara, &#8220;Aku sangat resah, aku takut, takut kalau apa yang aku pimpin selama ini salah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kau berkata seperti itu?&#8221;, terdengarlah sebuah suara. Sang raja tampak tidak terkejut. Ia sepertinya mengenali suara itu.</p>
<p>&#8220;Sebentar lagi hidupmu akan berakhir, mungkin hidupku juga. Tapi aku masih ragu, apakah aku bisa mengajarkan ilmu pedang kepada penguasa Dragon Lord?&#8221;, kata Klovis. Ia meremas lututnya dan sesekali mendesah seperti orang yang resah.</p>
<p>&#8220;Aku tak mengerti, kau harusnya bangga&#8221;, kata suara itu lagi.</p>
<p>&#8220;Aku tak tahu perbedaan antara bangga dan menyesal. Kau lihat di luar sana, bagaimana prajuritku mati-matian untuk membela Aldemaria, sedangkan aku yakin pasti aku tak akan mampu untuk membendung kekuatan mereka yang cukup besar&#8221;, kata Raja. &#8220;Lihatlah, para naga telah keluar dan berpihak pada Dedgard, sedangkan di pihak kita hanya satu naga. Aku tak yakin Dragon Lord mampu untuk mengubah keadaan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Akulah yang lebih tahu tentang Dragon Lord, akulah yang berperang bersamanya, aku jugalah yang bakal menjadi pedangnya lagi, kau tak berhak bicara seperti itu&#8221;, kata suara itu lagi.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku, baiklah untuk Dragon Lord, aku akan melindungi Aldemaria&#8221;, kata sang raja. &#8220;Aku akan bertarung habis-habisan. Walaupun nanti aku akan kehilangan nyawaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, itu yang ingin aku dengar darimu sang raja&#8221;, kata suara misterius. &#8220;Jangan sampai ketika pedang ini tercabut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aku akan menanti Dragon Lord. Dan ingatlah bertahanlah, bertahanlah!!!&#8221;</p>
<p>Sang raja mengambil nafas panjang. Lalu ia berdiri, berbalik meninggalkan ruangan kecil dan sedikit penerangan itu. Ruangan misterius itu ditinggalkan raja sedangkan cahaya biru yang ada di dalam masih menyala. Suara langkah berat sang raja terdengar di lorong, kemudian dia di sambut oleh sebuah teriakan pertempuran ketika berada di luar lagi. Seorang prajurit tampak tergopoh-gopoh berlari dari bawah tangga.</p>
<p>&#8220;Paduka!! Paduka!!?&#8221;, prajurit itu tampak kelelahan.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221;, tanya Klovis.</p>
<p>&#8220;Goblin!! Goblin masuk dari saluran air!!!&#8221;, kata prajurit tersebut.</p>
<p>Raja terbelalak. Ia segera berlari menuju ke atas benteng, jubahnya berkibar seperti tertiup badai. Dan dia menyaksikan sendiri pasukan musuh sudah masuk benteng mencoba membuka gerbang dari dalam.</p>
<p>&#8220;Aku salah perhitungan, bagaimana bisa terjadi?&#8221;, tanya Klovis.</p>
<p>&#8220;Goblin dan Mist, mana mungkin mereka bisa masuk tanpa bantuan Mist&#8221;, kata panglima. &#8220;Raja, aku akan terjun langsung dalam pertempuran ini, permisi!&#8221;</p>
<p>Sang panglima membungkuk, kemudian dengan langkah yang tergesa ia pergi meninggalkan sang raja sendirian bersama para pengawalnya. Namun ada sesuatu yang lain yang mengganggunya. Ia bisa melihat keseluruhan sudut dari Aldemaria ketika ada di puncak benteng ini. Dan ia bisa melihat dari jauh apa yang sebenarnya terjadi di bawahnya. Dan ia juga terkejut ketika melihat sesuatu di padang rumput, pintu bagian barat Aldemaria. Sesuatu itu tak akan bisa dilihat, terkecuali oleh raja sendiri. Ia benar-benar tak menyangka pertempuran seberat ini.</p>
<p>&#8220;Tutup rapat pintu sebelah barat!!! Dark Knight!! Dark Knight!!! Serangan kavaleri di bagian barat!!!&#8221;, kata sang raja.</p>
<p>Serentak para prajurit yang sedang bertempur habis-habisan makin terasa berat beban mereka. Mereka belum tuntas untuk bertempur kini sudah ditambahi dengan pertempuran yang lebih berat lagi. Kini Aldemaria telah dikepung dari tiga penjuru, akankah mereka akan bertahan terhadap gemburan ini? Dari sebelah barat tampak derap kaki kuda bergemuruh, dan terlihatlah ribuan kavaleri yang mereka memakai baju besi hitam dengan kuda-kuda hitam muncul dari gelapnya malam. Diiringi dengan itu makhluk-makhluk aneh yang lainnya juga bermunculan. Diantara mereka ada yang mempunyai kaki seperti burung onta dan tubuh seperti kadal, dan mempunyai lengan seperti kangkuru dan kepala seperti kadal. Tampak mereka memakai baju besi lengkap dan membawa kapak besar. Ada juga yang mereka adalah raksasa dengan kepala yang sangat lonjong, tubuhnya sangat jakung, kakinya panjang dan jemari tangannya sampai menyentuh mata kakinya. Ia melangkah dengan santai dengan jangkahan yang panjang. Kedua makhluk itu adalah Lizardman dan Necromancer. Keduanya terkenal sangat bengis, sadis, dan mereka adalah makhluk-makhluk terkutuk. Necromancer bisa mengubah mayat menjadi zombie, dan Lizardman sendiri sangat ahli dalam menempel di tembok dan melompat. Mereka bisa masuk ke dalam benteng dengan mudah, kalau pasukan panah tidak sigap.</p>
<p>Tampak nafas-nafas berat mereka terdengar dari kejauhan, hal itu membuat para prajurit Aldemaria gentar. Mereka bersiap-siap untuk menunggu apa yang akan terjadi nantinya. Sang pemanah bersiap di gerbang barat. Ratusan pemanah bersiap, lalu menarik busur mereka dan melepaskan ratusan anak panah yang melayang bagaikan hujan. Panah-panah itupun mengenai beberapa Lizardman, beberapa diantara mereka menghalaunya dan menghindari. Para Dark Knight sama sekali tak gentar dengan panah itu, mereka mengibaskan tameng dan pedang mereka dari atas kuda untuk menghalau panah tersebut. Sang Necromancer lebih mengerikan, sekalipun tubuh mereka ditembus panah, mereka sama sekali tak jatuh, tak terluka dan hanya menyeringai dengan wajah yang sangat mengerikan.</p>
<p>&#8220;Berikan jerami!!&#8221;, kata raja.</p>
<p>&#8220;Berikan jerami!!&#8221;, kata panglima menyuruh para prajuritnya.</p>
<p>&#8220;Bakar Necromancer dan Lizardman! Mereka takut pada api&#8221;, kata raja.</p>
<p>Para prajurit saling bergotong royong untuk membawa jerami ke atas benteng, lalu menjatuhkannya ke bawah, tumpukan jerami itu kemudian dipanah dengan panah api. Dengan sekejap api melalap jerami-jerami itu. Pintu barat Aldemaria sekarang terbungkus api, Lizardman dan Necromancer berhenti menyaksikan api-api itu. Namun salah seorang Dark Knight maju dan mengibaskan pedangnya yang besar. Angin menyapu bersih mengusir api-api itu, dan disambutlah salah satu Necromancer maju dan menabrakkan tubuh raksasanya ke gerbang. Suara guncangan yang hebat membuat bergetar seluruh dinding kastil. Raungan suara semangat para musuh makin membuat gentar para prajurit.</p>
<p>&#8220;Jangan panik!!&#8221;, kata raja memperingati. Ia sudah mencabut pedangnya. Pedangnya berkilat-kilat karena cahaya api. Ia pun sudah bersiap kalau-kalau musuh akan mendobrak gerbang. Sementara itu para prajurit juga bertempur di saluran air. Mereka menghalau Goblin dan Mist yang masuk lewat sana.</p>
<p>Sementara itu para pengungsi mau tak mau harus membantu para prajurit melawan goblin-goblin itu. Beberapa orang yang terdiri dari wanita dan anak-anak ketakutan. Mereka bersembunyi di antara tumpukan gerabah dan beberapa diantaranya ikut melawan Goblin dan berjuang melawan mereka.</p>
<p>Tak ada yang bisa dilakukan oleh para prajurit Aldemaria selain bertahan. Mereka harus bertahan dan bertahan agar Aldemaria tak jatuh dalam kekuatan jahat Dedgard. Sampai sekarang keadaan sepertinya berbalik, pasukan Dedgard makin kuat dan makin mendesak untuk bisa membobol pertahanan Aldemaria. Para panglima berjuang keras untuk menahan gerbang agar tidak goyah. Prajurit yang di dalam berjuang menghalangi para Goblin dan Mist masuk dari saluran air.</p>
<p>Sang penguasa juga ikut berjuang untuk menahan gerbang agar tidak ditembus oleh para Kull dan para Troll. Raja Klovis bersama-sama prajuritnya terjun sendiri dan menahan gerbangnya dari dobrakan.</p>
<p>&#8220;Bertahan kalian semua!! Bertahanlah!!&#8221;, kata raja. &#8220;Jangan biarkan mereka menyentuh tanah kita sekalipun hanya sejengkal. Kita mati di sini atau kita harus ditindas oleh mereka. Jangan biarkan jumlah menciutkan nyali kalian!! Kita di sini karena kita adalah yang berperan dan tanggung jawab kitalah yang membuat kita kuat. Kalian adalah peran utama dari diri kalian sendiri. Bagiku tak ada yang lebih baik daripada mempertahankan diri, dan mengorbankan diri untuk Aldemaria. Berjanjilah pada diri kalian sendiri, berjanjilah kepada keluarga kalian, berjanjilah kepada diriku, bahwa kalian tidak akan menyerahkan Aldemaria kepada Dedgard!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayee!!!&#8221;, para prajurit yang tersemangati dengan kata-kata yang membakar semangat sang raja. Mereka seolah-olah mendapatkan kekuatan baru. Sang raja tersenyum dan kembali lagi dobrakan menghantam gerbang kastil.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=9&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/03/20/dawn-of-the-dragons-bag-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dawn of The Dragons &#8211; bag 3</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/03/14/dawn-of-the-dragons-bag-3/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/03/14/dawn-of-the-dragons-bag-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Mar 2008 12:50:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adventure]]></category>
		<category><![CDATA[Fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Invasi Nu duduk di pinggir sumur yang ada di dekat tenda wanita gipsi itu. Ia menggigil apabila mengingat lagi apa yang dikatakan si wanita tadi. Nu melihat tanah yang ia pijak. Terus terang baginya adalah hal yang mustahil untuk bisa menerima perkataan wanita gipsi tersebut. Tapi ketika ia telah melihat peri dengan mata kepalanya sendiri, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=8&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Invasi</b></p>
<p>Nu duduk di pinggir sumur yang ada di dekat tenda wanita gipsi itu. Ia menggigil apabila mengingat lagi apa yang dikatakan si wanita tadi. Nu melihat tanah yang ia pijak. Terus terang baginya adalah hal yang mustahil untuk bisa menerima perkataan wanita gipsi tersebut. Tapi ketika ia telah melihat peri dengan mata kepalanya sendiri, maka batas-batas rasa ketidak percayaan itu hilang. Ia makin yakin dan mantap kalau mimpinya adalah sebuah pertanda. Pertanda yang akan mengantarkan dirinya menuju ke sebuah samudra yang luas, yang disebut dengan petualangan.</p>
<p>Paman Nu baru datang setelah lama sekali Nu menunggu dengan perasaan yang bercampur aduk. Pamannya duduk di sebelahnya. Nu terkejut dengan kehadiran pamannya itu. Ia lalu berdiri.</p>
<p>&#8220;Mau kemana, kita duduk dulu&#8221;, kata pamannya. Tampak sang paman membawa sebuah karung.</p>
<p>&#8220;Apa itu paman?&#8221;, tanya Nu sambil duduk.</p>
<p>&#8220;Kebutuhan sehari-hari, paman sengaja beli banyak&#8221;, kata paman. &#8220;Untuk berjaga-jaga karena semua orang takut akan ancaman Dedgard yang akan menyerang Aldemaria.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimana ancamannya?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Aku dengar dari prajurit, &#8216;Untuk seluruh penduduk Aldemaria, kesempatan kalian tunduk di bawah kepemimpinan Dedgard hanya tinggal hari ini!!&#8217; dan tentu saja itu membuat semua orang panik. Seperti para prajurit yang kita lihat tadi, mereka semua bersiap untuk penyerangan tiba-tiba&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memangnya Aldemaria sudah terkepung?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Kelihatannya seperti itu, satu-satunya jalan yang paling mudah adalah dari pintu depan Aldemaria yang merupakan padang pasir yang luas dan pintu sebelah timur, sebab pintu belakang Aldemaria adalah air terjun Rockdown, pintu sebelah barat adalah hutan Fogus, pintu sebelah timur adalah padang rumput Aldemaria yang sangat luas&#8221;, kata paman.<br />
<span id="more-8"></span><br />
&#8220;Kenapa dengan hutan Fogus, kan mereka bisa saja masuk lewat sana&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Entahlah, tapi sepertinya hal itu dihindari oleh para prajurit&#8221;, kata paman Nu. &#8220;Mereka menganggap hutan Fogus adalah hutan mistis. Mungkin hanya para penyihir yang disiapkan untuk berjaga di sana.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu kita bagaimana paman?&#8221;, tanya Nu dengan sedikit khawatir.</p>
<p>&#8220;Malam nanti kita akan tinggal di dalam kastil, sore ini juga kita bawa bibimu&#8221;, kata paman. &#8220;Dan ingat kita tak punya waktu.&#8221;</p>
<p>Hari begitu cepat bergulir. Nu membantu paman dan bibinya berkemas. Mereka membawa apa saja yang bisa mereka bawa dan terpaksa meninggalkan sapi-sapi mereka di kandang. Tampak di jalan-jalan para prajurit membantu para penduduk untuk mengungsi. Di antara mereka ada yang membawa ternak-ternak mereka, ada juga yang membawa buntelan yang sangat besar. Nu ingin bertanya banyak hal pada Verta, dan mungkin ingin mengucapkan selamat tinggal pada Verta, sebab tak tahu apakah ia akan bertahan hidup atau tidak dalam peperangan kali ini. Ataukah mungkin perasaan cintanya yang mengalahkan segala kewarasan di dalam akalnya.</p>
<p>Nu keluar dari rumah dengan membawa anak panahnya. Ia lalu menyeberangi lahan peternakan yang sangat luas. Ia sesaat merasakan sesuatu yang aneh, seperti menembu sesuatu. Nu, tidak sadar kalau dia baru saja menembus pelindung yang telah diciptakan oleh Jagu dan Verta. Nu tak tahu tujuannya ke mana tapi ia yakin bisa memanggil Verta dengan benaknya.</p>
<p>&#8220;Verta, verta, kau bisa dengar aku?&#8221;, tanya Nu dengan benaknya.</p>
<p>&#8220;Ya, aku bisa dengar. Ada apa?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Dedgard, ia akan menyerang Aldemaria, apakah kau sudah tahu?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Kami belum tahu bocah&#8221;, kata Jagu. &#8220;Tapi Luth sudah memperingatkan kami sejak lama tentang Dedgard, tadi malam kekuatan kami dijajal.&#8221;</p>
<p>Nu terkejut. Ia seakan tak percaya apa yang barusan Jagu katakan, &#8220;Siapa yang menjajal? Dedgardkah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja bukan dia anak bodoh, anak buahnya dong. Kalau Dedgard sendiri yang ke sini, tentu saja akan ada pertempuran sengit di hutan Fogus, dan sudah tentu rumahmu akan terkena imbas dari pertempuran ini&#8221;, kata Jagu dengan nada sombong.</p>
<p>&#8220;Aku ingin bertemu dengan kalian, sekaligus bertanya sesuatu&#8221;, kata Nu. &#8220;Aku tahu ini gila, tapi aku sedang terburu-buru.&#8221;</p>
<p>&#8220;<i>Lu Portia</i>!!&#8221;, sebuah mantra muncul dari mulut Verta. Dan efek itu mengakibatkan Nu terhisap ke sebuah lubang aneh, lalu ia muncul di sebuah tempat yang lain. Dan di hadapannya tampak Verta dan Jagu dengan pakaian yang aneh. Kedua peri itu memakai pakain yang terbuat dari sebuah logam yang membungkus tubuh mereka. Seolah-olah mereka mau berperang.</p>
<p>Verta mengerutkan dahinya, &#8220;Apa yang mau kau tanyakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengarkan aku, karena hanya kalianlah yang sekarang ini bisa menjawab pertanyaanku. Tadi malam&#8230;.&#8221;, Nu mengambil nafas panjang lalu bercerita. &#8221; Tadi malam aku bermimpi dengan mimpi yang sangat aneh. Aku melihat sesosok makhluk yang mengerikan, matanya tajam dan&#8230;..dan&#8230;.aku melihat sepasang sayap yang mirip dengan sayapmu!&#8221;</p>
<p>Nu menunjuk Verta. Jagu tersentak. Ia kaget dengan cerita Nu tersebut. Verta lebih tak percaya apa yang dikatakan oleh Nu. Jagupun kemudian duduk di atas akar pohon yang sangat besar. Dia mengusap rambutnya yang berwarna putih. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan dan dahan pohon. Verta menundukkan wajahnya.</p>
<p>&#8220;<i>Haza qudrey laa hub ghuba, el laa sychaell nabarafmakhre</i> (Sudah ditakdirkan bahwa nantinya akan seperti ini, sang ksatria bakal menjemputku)&#8221;, kata Verta. &#8220;<i>Naa yumie assa Nu, be na fatakhu</i> (Mimpiku sama seperti mimpi Nu, aku sudah cerita tadi)&#8221;</p>
<p>&#8220;<i>Tad</i>&#8230;(Tapi)&#8221;, Jagu tampak menitikkan air mata. &#8220;<i>Nafayena </i>(Kenapa harus sekarang)?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hallooo, kalian bicara apa?&#8221;, tanya Nu. &#8220;Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan, tapi kumohon kalian pasti tahu apa arti mimpiku. Aku tadi ke seorang peramal dan kuceritakan mimpiku. Lalu ia berkata kalau aku orang spesial, seorang yang bakal menjadi raja, dan aku akan bertemu dengan seorang peri yang bakal menjadi teman hidupku dan seterusnya.&#8221;</p>
<p>Verta dan Jagu tiba-tiba mematung tak bersuara, sepertinya mereka sedang saling bertukar benak. Nu makin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>&#8220;Kak Jagu, aku tahu ini terlalu cepat, tapi ingatlah kata Luth. Kita sudah menanyakan hal ini sejak tadi kepadanya. Aku harus mendampingi dia&#8221;, kata Verta yang masuk ke benak Jagu.</p>
<p>&#8220;Verta, kita sudah bersama-sama selama ini. Aku tak rela kau tinggalkan begitu saja. Aku tak bisa menjaga hutan ini sendirian&#8221;, kata Jagu.</p>
<p>&#8220;Kau pasti bisa, sebab kaulah kakakku&#8221;, kata Verta. &#8220;Apa kau ingin aku melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh Luth? Luth berkata, bahwa pagi ini Nu akan kemari dan menanyakan hal ini dan aku harus mengikuti dia. Dan hanya dengan cara inilah Ramsus akan bisa dikalahkan, dan kita bisa mengakhiri peperangan yang tak ada hentinya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kalau kau keluar dari hutan&#8230;.&#8221;, Jagu mengingatkan lagi.</p>
<p>&#8220;Luth sudah menjamin. Ketika aku dipanah oleh Nu untuk pertama kali, aku sudah menjadi pendampingnya untuk selamanya. Maka dari itulah, apa yang kurasakan sama seperti apa yang dia rasakan. Mimpinya, hatinya, pikirannya, akan menyatu denganku. Sampai nantinya sang naga akan bangkit sendiri&#8221;, kata Verta mencoba membesarkan hati Jagu. Ia tahu Jagu akan sangat kesepian karena ditinggal olehnya.</p>
<p>Jagu mencoba menahan tangisnya. Nu tampak keheranan, dilihatnya Jagu dengan penuh tanda tanya. Tiba-tiba Jagu bangkit dan ingin memukul Nu, tapi tiba-tiba Verta menghalangi dan Verta terkena pukulan kakaknya, seketika itu juga Verta ambruk dan Nu menangkapnya.</p>
<p>Hutan pun langsung bergemuruh. Nu tidak tinggal diam. Setelah ia meletakkan Verta, ia bangkit dan membalas pukulan Jagu tadi. Pukulan itu tepat mengenai wajahnya. Dan Jagu terpental beberapa tombak ke belakang.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu memukul adikmu sendiri?&#8221;, tanya Nu. Tiba-tiba saja, angin berubah menjadi tidak bersahabat. Angin sepoi-sepoi tadi mulai bergemuruh.</p>
<p>&#8220;Nu&#8230;, sudahlah&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Jagu langsung menghampiri Verta, &#8220;<i>Verta, el laa meana syukza</i> (Verta, aku tidak bermaksud seperti itu)&#8221;</p>
<p>Tumbuhan rambat tiba-tiba mengerubungi Verta. Dan dedaunan menempel di pipi Verta yang terluka. Dan tak berapa lama kemudian luka itu menghilang. Nu mulai terbiasa dengan kejadian itu. Tampak Verta bisa merasakan darah Nu yang mendidih. Ia sepertinya marah. Verta lalu berdiri, &#8220;<i>Na Fahwaa, Breita</i> (Maafkan aku, kak)&#8221;</p>
<p>Nu yang tidak mengerti pembicaraan mereka lalu masuk ke benak pikiran mereka berdua, &#8220;Hutan Fogus adalah salah satu basis pertahanan dari Aldemaria, kita harus bekerja sama bukan saling pukul!&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan itu masalahnya Nu&#8221;, kata Verta. &#8220;Aku harus ikut denganmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Karena aku adalah takdirmu&#8221;, jawab Verta.</p>
<p>&#8220;Tapi, katamu kau akan lemah kalau keluar dari hutan ini&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Sekarang sudah tidak, aku harus mendampingimu. Karena kaulah D Knight&#8221;, kata Verta. &#8220;Dan akulah yang akan menjadi pemandumu untuk menemukan nagamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mempunyai mimpi yang sama dengamu. Kami berdua bertanya kepada Luth. Luth berkata bahwa kau akan datang lagi menanyakan hal ini kepada kami. Kau adalah orang yang akan membangkitkan sang naga. Di mana, di dunia ini sekarang akan lahir puluhan ksatria naga yang mereka berperang memperebutkan kursi untuk menjadi raja. Karena itulah kekuatan Ramsus meningkat, karena kata Luth, hampir seluruh ksatria naga diperolehnya. Dan kaulah satu-satunya yang tersisa sekarang. Jagu tak ingin aku pergi dari tempat ini. Makanya ia ingin menyakitimu, tapi sekarang aku menjadi pelindungmu. Aku akan berjalan kemana pun engkau akan berjalan. Sudah banyak D Knight yang menjadi anak buah Ramsus. Engkaulah yang harus menentukan, berada di pihak yang jahat ataukah yang benar. Ketika kau memberikan mengucapkan perjanjian untuk menjadi D Knight, artinya kau memilih jalanmu sendiri, bukan aku yang menentukan jalanmu&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Nu makin tidak faham.</p>
<p>&#8220;Kau tak perlu bingung. Kau tinggal bersama paman dan bibimu, kau sekarang berada di tengah medan perang. Pertahanan terakhir Aldemaria hanya hutan ini. Para penyihir pun mungkin tak akan mampu untuk membendung kekuatan Dedgard dan pasukannya. Bisa jadi kalau kau tak ikut andil dalam pertempuran ini, paman dan bibimu tak akan bisa terselamatkan. Juga para manusia di dunia ini, karena mereka akan menjadi budak Dedgard&#8221;, kata Verta menjelaskan dengan sabar. &#8220;Hanya kakakku mungkin yang sanggup untuk menjadikan hutan ini sebagai basis pertahanan terakhir, di saat semua orang sudah tidak lagi percaya kepada peri. Dan mereka sekarang akan menggantungkan hidup mereka kepada peri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku masih tak percaya kalau aku harus berhadapan dengan ini semua. Aku baru kemarin bertemu denganmu dan sekarang harus berhadapan dengan ini semua&#8221;, suara benak Nu, seakan-akan terdengar sampai ke seluruh hutan. &#8220;Tapi, apapun itu, kalau untuk menyelamatkan mereka, aku tak akan ambil pusing. Aku tak percaya kepada cerita peri, sampai aku melihatnya, aku dulu tak percaya kepada monster, hantu dan kutukan, tapi kehadiranmu untuk pertama kalinyalah yang membuatku percaya. Aku terima perjanjian sebagai D Knight!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah, perjanjian diterima&#8221;, kata Verta. Seketika itu tubuh Nu bergetar hebat. Dari dahi Verta terpancar seberkas cahaya yang kemudian cahaya itu mengarah ke dahi Nu.</p>
<p>&#8220;Dengan kau menjadi D Knight, kau sekarang mempunyai kunci untuk bisa menggerakkan sang naga. Perjanjian ini akan berakhir, apabila nagamu telah binasa di tangan musuh. Jadi kau harus temukan sang naga secepatnya sebelum semuanya terlambat, kita tidak punya waktu lagi&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Seketika itu Nu mundur sampai menghantam pohon besar yang ada di belakangnya. Punggungnya terasa sakit, ia pun tersungkur. Kini di dahinya ada sebuah titik kecil. Orang-orang tak akan faham titik kecil itu terkecuali mereka memperhatikannya. Nu bangkit perlahan, kini ia seperti orang baru. Jagu dan Verta menyadari sesuatu dalam diri Nu yang berubah.</p>
<p>&#8220;Aku seperti mendapatkan sesuatu yang aneh&#8221;, kata Nu. &#8220;Kau apakan aku tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini adalah kunci sang naga. Sekarang hanya kau yang bisa membangkitkan sang naga, sebelum ia di bunuh oleh orang-orang Dedgard&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Tapi aku harus menemui pamanku, apakah kau juga akan ikut? Aku takut terjadi sesuatu denganmu nantinya&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Tak perlu takut&#8221;, kata Verta. &#8220;Sebab tujuan kita tidak ke tempat pamanmu&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi,&#8230;.setidaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka&#8221;, kata Nu berkeras, tampak dahinya berkerut dan mulutnya terkatup rapat.</p>
<p>&#8220;Untuk bertemu pamanmu masih ada waktu, tapi untuk menyelamatkan dunia ini, sudah tidak ada waktu lagi. Apakah hanya untuk pamanmu kau mau mengorbankan segalanya?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Hei anak bodoh!!&#8221;, panggil Jagu.</p>
<p>Nu menoleh ke arahnya.</p>
<p>&#8220;Kau itu bodoh atau apa? Tenang saja, tempat ini aku yang menjaga. Tak akan kubiarkan mereka masuk ke hutan ini. Jadi kau bisa serahkan paman dan bibimu kepadaku. Aku akan jaga mereka dan seluruh hewan-hewan yang ada di hutan ini akan menjaganya. Percayalah!!!&#8221;, kata Jagu dengan percaya diri. Ia membelakangi Nu, seolah tak mau melihat mukanya lagi. &#8220;Jangan pernah kembali sebelum dunia ini selamat di tanganmu. Kalau tidak percuma saja aku mengijinkan adikku pergi bersamamu. Kau hanya si pengganggu, yang seharusnya sudah kulenyapkan dari dulu, kalau tidak adikku menaruh perasaannya kepadamu. Pergilah kalian, sudah tidak ada waktu lagi&#8221;</p>
<p>Sementara itu di sebuah bukit yang tinggi di padang pasir Aldemaria. Tampak sesosok makhluk berleher panjang, mempunyai ekor yang sama panjangnya, bersisik dan sayapnya sangat panjang bertengger di puncaknya. Matanya yang tajam melihat ratusan mill jauhnya sampai ke istana Aldemaria. Tampak di punggungnya seseorang dengan tubuh tinggi menungganginya. Seorang dengan baju besi yang kelihatannya berat, pedang yang sangat panjang dan berwarna hitam, sebuah helm yang besar dan panjang, jubah berwarna hitam gelap berkibar di terpa angin. Sementara di jauh di bawahnya, di atas padang pasir, tampak ribuan pasukan yang sudah siap menyerang. Mereka terdiri dari Kull, Troll, Goblin, dan Mist. Mereka semua adalah pasukan dari Dedgard.</p>
<p>Kull adalah sesosok makhluk yang mempunyai tanduk yang sangat besar. Badannya dua kali lebih tinggi dari pada manusia dan mereka memakai pakaian dari kulit binatang. Kull terkenal sangat bengis dan sangat menyukai pertempuran. Troll adalah makhluk hijau yang berotot besar, wajahnya jelek dan giginya runcing. Berambut panjang dan tidak bertanduk. Kekuatannya hampir sama dengan Kull. Namun mereka lebih cerdas dari Kull. Goblin adalah salah satu ras yang mempunyai telinga panjang. Tubuh mereka kerdil, tapi sangat tangguh dalam pertempuran. Dan salah satu yang istimewa adalah Mist. Mist adalah sesosok manusia yang menguasai Sihir Gelap. Mereka adalah separuh ksatria separuh penyihir. Ada rumor yang mengatakan mereka tak bisa mati terkecuali jantung mereka dihunus pedang.</p>
<p>Makhluk besar itu lalu menyeringai sambil mengeluarkan suara yang melengking, menyebabkan seluruh bulu kuduk merinding. Sang penunggang melihat seseorang yang menghampirinya dari arah belakang. Orang itu adalah Dark Knight yang tadi malam ingin masuk ke hutan Fogus. Orang itu berlutut dan melapor.</p>
<p>&#8220;Yang mulia Luerthe, hutan Fogus sangat sulit ditembus oleh kekuatan kami. Saya tak bisa menghancurkan pelindung yang melindungi hutan tersebut. Kita tak bisa menyerang lewat hutan&#8221;, kata sang Dark Knight.</p>
<p>&#8220;Hutan Fogus, berarti ada peri di sana&#8221;, kata sang penunggang. &#8220;Tentu saja kau tak akan bisa, sebab di sanalah peri Dragon Lord berada. Aku sendiri yang turun tangan di sana. Kalian semua, serang Aldemaria dari arah depan!! Aku dan pasukan Wyvern yang akan menyerang hutan Fogus. Pergilah!!&#8221;</p>
<p>Sang Dark Knight menyingkir perlahan. Dan Luerthe mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, &#8220;Prajuritku, hari ini kesetiaan kalian sebagai prajurt Dedgard diuji. Di hadapan kalian adalah daerah yang harus ditaklukkan. Kalian mati atau hidup pada pertempuran ini, tujuan kalian cuma satu, yaitu mengalahkan Klosva, Raja Aldemaria. Menduduki tanahnya dan menjadikan kekuasaan Dedgard menjadi lebih sempurna.&#8221;</p>
<p>Suara gemuruh para prajurit menyatu dengan suara angin padang pasir. Suara yang mengerikan, menyayat hati, seperti suara nyanyian alam. Dedgard, siapa yang bisa mengalahkannya? Di pihaknya sekarang banyak sekali pihak-pihak yang mendukungnya. Dan kali ini pasukan yang diterjunkan tidaklah main-main. Sekitar 100.000 orang, belum ditambah pasukan udara Wyvern yang masih belum tampak.</p>
<p>&#8220;Aku Luerthe akan menyerang Aldemaria dari barat. Aku akan mencincang Dragon Lord, dan darahnya untuk kalian agar kalian bisa hidup abadi. Dan kalian cincang para prajuritnya dari depan. Mereka terlalu meremehkan D Knight. Aku dan nagaku akan mengoyak mereka seperti srigala yang mengoyak mangsanya&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Maju!!!&#8221;</p>
<p>Sangkakala ditiup. Genderang penyemangat ditabuh. Kali ini pertempuran yang luar biasa bakal terjadi. 100.000 pasukan berjalan merayap. Mereka berjalan dengan cepat tampak para Kull dan Troll ada di depan. Di tengah ada para Mist yang mereka tak menyentuh tanah sama sekali. Di belakang para Goblin dengan senjata tombak dan pedang. Mereka menderu seperti suara genderang. Hentakan kaki mereka menakutkan dan gerakan mereka sangat cepat.</p>
<p>Di sisi gerbang Aldemaria tampak suasana yang mengejutkan dan membuat panglima mereka pucat. Pasukan Dedgard telah bergerak. Dari padang pasir yang luas, mereka terlihat seperti gerombolan semut hitam yang bergerak sangat cepat. Sangkakalapun ditiup, sebuah suara yang sangat tidak dinantikan itu pun datang.</p>
<p>&#8220;Mereka sudah bergerak!!&#8221;, seru salah seorang prajurit. &#8220;Bersiaplah untuk bertahan!!!&#8221;</p>
<p>Dari dalam istana, seorang berjanggut putih dengan mahkotanya duduk di sebuah singgasana sambil memejamkan mata. Baju besi yang dipakainya mengkilat-kilat terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela kastil. Para panglima yang ada di hadapannya siap untuk menerima perintah.</p>
<p>&#8220;Yang Mulia, mereka sudah bergerak. Ancaman itu tak main-main&#8221;, kata salah seorang panglima. &#8220;Yang Mulia!?&#8221;</p>
<p>Sang raja membuka matanya. Wibawa yang dia tampakkan benar-benar luar biasa, membuat seluruh panglima langsung menundukkan kepala mereka. Sang raja menghela nafasnya. Ia berdiri, diangkat pedangnya yang mempunyai pelindung terbuat dari emas. Kemudian ia menatap seluruh mata yang sedang menunggu perintahnya.</p>
<p>&#8220;Aku menjadi raja ini bukan untuk diriku sendiri, tapi karena perintah ayahku yang menjadikan Aldemaria menjadi bebanku. Aku memerintah karena aku mempunyai tanggung jawab yang berat. Menjadi raja bukan pilihanku, tapi menjadi raja adalah takdirku. Kalau pun aku mati dalam pertempuran ini, maka dunia ini sudah berakhir, tak ada yang bisa kita harapkan lagi. Segalanya telah musnah. Tapi, kita harus berjuang. Memang kekuatan musuh di depan kita bukanlah bayangan, tapi kenyatan. Kita hanya punya satu jiwa. Kita harus mengalahkan mereka, atau kita yang kehilangan harga diri, kehormatan dan dunia ini.</p>
<p>&#8220;Rockdown telah dipersiapkan para pemanah dan prajurit tombak. Dari sebelah barat para penyihir telah bersiap untuk serangan-serangan yang berbahaya, dari timur ada padang rumput yang sangat luas. Serangan yang paling berbahaya adalah dari arah depan dan timur. Sekalipun terbuka peluang untuk itu, aku ingin seluruh orang bersungguh-sungguh juga menjaga daerah barat dan belakang. Kita tak tahu musuh akan menyerang dari mana. Prajuritku, bersiaplah berperang, hari ini&#8230;.nyawa kita dipertaruhkan!!&#8221;, kata-kata raja itu langsung disambut teriakan &#8216;Aye!!&#8217; oleh seluruh panglima yang ada di sana.</p>
<p>Raja kemudian berjalan dengan menenteng pedangnya. Langkahnya yang berat dan terburu-buru membuat seluruh lorong menjadi seperti gempa. Sang raja kemudian berkata kepada salah seorang panglima, &#8220;Pastikan ratu dan keluargaku di tempat yang aman!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kami sudah mengungsikan mereka dengan menggunakan Baron&#8221;, kata salah seorang panglima. &#8220;Tujuan mereka adalah Pohon Nafalus, satu-satunya tempat yang mana Dedgard tak akan berani mengusiknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, aku berhutang nyawa padamu&#8221;, kata raja. &#8220;Baiklah, aku ingin melihat pasukan mereka.&#8221;</p>
<p>Raja pun keluar dari dalam kastil. Ia berada di puncak benteng bersama pasukan panah yang sudah berjaga-jaga di sana. Raja mengambil teropong dan melihat pasukan musuh dari jarak jauh. Dan ia sama sekali tak akan percaya terhadap apa yang ia lihat.</p>
<p>&#8220;Demi Tuhan yang menguasai alam ini, aku tidak akan percaya melihatnya terkecuali dengan kepalaku sendiri. Kalian semua siap?&#8221;, tanya Raja.</p>
<p>&#8220;Kami siap kapan pun paduka minta&#8221;, kata sang panglima.</p>
<p>Bendera Aldemaria adalah bergambar singa dan pedang. Dua singa tampak mencoba meraih pedang ksatria. Bendera itu berwarna dasar merah. Bendera itu tampak berkibar di bawah sang raja. Dan ia melihat dari kejauhan sesuatu yang melayang di udara, seperti kumpulan burung yang terbang menjauh. Sang raja mengamatinya dengan seksama.</p>
<p>&#8220;Burug pemakan bangkai?&#8221;, gumam panglima.</p>
<p>Raja berpikir sejenak, ia merasa ada yang aneh. Kawanan burung itu menuju ke barat. Untuk sesaat ia tak curiga, tapi ada perasaan ingin tahu yang mendalam di dalam dirinya, pasukan musuh di depan yang makin dekat di tambah kawanan burung yang terbang menjauh. Apa yang terjadi? Sang raja mengarahkan teropongnya ke arah kawanan burung itu. Dan dilihatnya sesosok makhluk yang mengerikan. Mereka seperti kawanan kelelawar, menyeringai dan saling mendahului. Wyvern!!</p>
<p>&#8220;Celaka, para penyihirku&#8230;.bagaimana mereka?&#8221;, tanya raja.</p>
<p>&#8220;Mereka telah siap di hutan Fogus&#8221;, jawab sang panglima.</p>
<p>&#8220;Jangan, jangan biarkan mereka berjuang sendirian. Celaka, dugaan kita salah. Dalam waktu ini kita tak akan sanggup menyusul mereka. Hutan Fogus dalam bahaya. Mereka menyerang lewat sana&#8221;, kata sang raja dengan wajah cemas.</p>
<p>&#8220;Tak mungkin&#8221;, kata panglima.</p>
<p>&#8220;Kirim berita ke para penyihir, mereka harus bersiap serangan yang besar, aku yakin Jagu dan Verta bisa melindungi Fogus, tapi aku melihat D Knight&#8221;, kata raja.</p>
<p>&#8220;D Knight?&#8221;, tentu saja hal itu mengejutkan sang panglima. &#8220;Celaka&#8230;.&#8221;</p>
<p>Sementara itu pasukan musuh sudah mendekat dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka sekarang hanya tinggal beberapa saat saja untuk bisa menggempur gerbang kastil. Matahari sudah mulai turun menampakkan warna keemasan. Dan para penduduk sudah mengungsi ke dalam kastil. Tidak ada lagi yang tersisa di pedesaan terkecuali dua orang, yaitu paman dan bibi Nu.</p>
<p>&#8220;Aku tak akan pergi tanpa Nu&#8221;, kata bibi Nu. &#8220;Ia belum kembali&#8221;</p>
<p>&#8220;Kita terlalu lama di sini, kita harus berpikir positif kalau Nu sudah ke tempat yang aman. Ayo!!&#8221;, kata paman Nu.</p>
<p>Dengan mata berkaca-kaca bibi Nu mengikuti apa yang dikatakan sang suami. Dan dengan berat hati mereka meninggalkan rumah dan peternakan. Mereka harus ke tempat yang lebih selamat, karena itu satu-satunya cara agar mereka bisa mengetahui kabar Nu. Hanya membawa dua buntelan yang berisi pakaian dan beberapa potong keju, mereka berangkat. Dan mereka adalah orang yang terakhir kali menuju ke kastil.</p>
<p>Sementara itu Nu dan Verta berlari dan berlari menuju ke arah utara. Menembus semak belukar dan berbagai tanaman duri. Hawa dingin mulai terasa, matahari sudah mulai turun dan Nu makin ke arah utara.</p>
<p>&#8220;Bisa kau katakan dengan alasan yang lebih baik, kenapa kita tidak menggunakan teleport seperti yang kau gunakan tadi?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Energiku tak akan cukup kalau hanya untuk memindahkan kita langsung ke tempat tujuan&#8221;, kata Verta dengan benaknya.</p>
<p>&#8220;Tapi setidaknya kita bisa berpindah ke tempat yang lebih baik&#8221;, kata Nu sambil konsentrasi untuk tidak terantuk oleh akar pohon, sebab ia berkali-kali terantuk.</p>
<p>&#8220;Untuk memindahkan kita berdua, aku harus mempunyai energi yang sama seperti aku mengangkat tubuhku dan kau. Artinya sihir itu tidak asal mengucapkan mantra dan selesai. Sihir itu punya aturan, yaitu energi yang kau keluarkan sama seperti energi yang kau gunakan ketika tidak menggunakan sihir. Kalau kau menggunakan sihir memindahkan gunung, maka kau perlu energi yang cukup besar untuk itu, bahkan mungkin kalau tak sanggup kau bisa mati. Aku berjaga-jaga untuk menyisakan tenagaku untuk melindungimu, karena kau belum terlatih untuk menjadi seorang ksatria. Kau bahkan mungkin sekarang tak akan mampu untuk melawan sepuluh orang bersenjata lengkap. Kau belum siap, maka dari itu satu-satunya orang yang melindungimu sekarang ini adalah aku&#8221;, kata Verta dengan panjang lebar menjelasakan.</p>
<p>&#8220;Oh bagus, paling tidak aku tahu ternyata peri punya keterbatasan&#8221;, kata Nu dengan mulutnya.</p>
<p>&#8220;Sepertinya bahasamu bisa aku fahami&#8221;, kata Verta. &#8220;Aku akan mengajarimu bahasaku dan aku akan ingin kau mengajariku bahasamu, bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Setuju tapi&#8230;.&#8221;, Nu terantuk akar dan ia jatuh berguling. Lalu ia dengan terengah-engah melihat ke arah Verta yang masih berdiri dengan tubuh yang sangat ringan. &#8220;&#8230;apakah kau bisa mengajarkanku sihir seperti yang kau lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum saatnya, kau akan punya guru sendiri&#8221;, kata Verta. &#8220;Suatu saat kau akan mengerti hal ini&#8221;.</p>
<p>Tepat matahari menghilang pasukan Dedgard berusaha menembus tembok. Kull dan Troll membawa sebuah batu yang sangat besar dan panjang menghantam pintu gerbang. Di dalam, para prajurit menahannya dengan sekuat tenaga. Dan dari atas benteng, para pemanah beraksi. Ternyata para Troll dan Kull memakai tameng juga. Walaupun begitu beberapa orang terkena panah oleh serangan itu.</p>
<p>Para Mist bertindak. Mereka mulai maju dengan menggunakan sihir mereka. Di dalam kastil ternyata ada para penyihir yang lain. Raja juga memerintahkan mereka untuk menjadi pasukan bertahan yang menjaga pintu depan. Raja melihat peperangan itu dengan kecemasan yang luar biasa.</p>
<p>&#8220;Yang Mulia, kami sudah mengirim kavaleri ke hutan Fogus&#8221;, kata panglima.</p>
<p>&#8220;Sekalipun begitu, kita sudah terlambat. Mereka benar-benar habis-habisan menyerang kita&#8221;, kata sang Raja. Jenggotnya tampak berkibar tertiup angin. Raja pun memejamkan mata sejenak. Ia bingung apa yang seharusnya dilakukan.</p>
<p>Sementara itu para Wyvern telah sampai di pinggir hutan Fogus, dan mereka mulai menembakkan api-api dari mulut mereka. Walaupun kecil bola api mereka, tapi dalam jumlah banyak mereka bukanlah tandingan yang bisa diremehkan. Jagu memperbesar dan mempertebal pelindung hutan. Para penyihir dari Aldemaria mulai membantu Jagu. Mereka sudah masuk ke hutan dan menambah kekuatan pelindung.</p>
<p>Bola-bola api itu terpental. Pelindung hutan itu terlalu kuat untuk sebuah bola api yang kecil. Jagu tersenyum untuk beberapa saat, tapi yang paling tidak mengenakkan bagi dia sekarang ada di hadapannya. Sebuah benak yang sangat kuat dan jahat menembus pikirannya dan mencoba menguak apa yang ada di dalam pikirannya. Jagu harus konsentrasi pada sihirnya dan juga harus konsentrasi menghalangi orang itu masuk benaknya. Jagu berpikir, &#8216;Para penyihir istanakah? Tidak, ia adalah musuh, siapa?&#8217;</p>
<p>&#8220;Kau kira siapa dirimu berani menyerang hutan ini?&#8221;, tanya Jagu.</p>
<p>&#8220;Ternyata benar, seorang peri. Dan yang pasti aku tidak salah, aku bisa merasakan Dragon Lord, ia ada di sini&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Dragon Lord!!&#8221;</p>
<p>Nu tiba-tiba terjatuh. Ia menutup telinganya, suara yang sangat memekik membuatnya pusing. Sebuah suara yang melengking yang ia sendiri baru pertama kali mendengar suara itu bahkan kini ada seseorang yang sedang ingin merasuki pikirannya, ia merasakan pikirannya bergerak sendiri. Langsung saja ia mengerahkan tenaga untuk menahan serangan orang itu. Melihat itu Verta tak tinggal diam, ia juga masuk ke pikiran Nu dan berjuang untuk menghalangi orang itu masuk ke benak Nu.</p>
<p>&#8220;Siapa kau?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Dragon Lord!!! Aku tahu kau Dragon Lord!! Dan dia adalah perimu&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Aku Luerthe, bergabunglah bersama kami Dragon Lord. Hanya kau satu-satunya yang belum bergabung bersama kami. Kumohon jangan melawan, aku sudah membunuh puluhan D Knight hanya untuk mencari Dragon Lord. Dan kuharap kau tak melawan.&#8221;</p>
<p>Nu berteriak ia tak tahan lagi, emosinya bercampur aduk dan ia mengenyahkan dan menghempaskan Verta dan Luerthe dari benaknya. Verta sampai mundur beberapa langkah. Nu lalu menghadap ke langit. Ia bisa merasakan keberadaan Luerthe, Nu kemudian mencoba melawan Luerthe, ia mencari sesuatu di dalam pikirannya, dan ia kemudian menembukan sebuah benar berwarna merah, benang itu lalu menuntunnya pada sesosok manusia dan seekor naga. Naga yang kulitnya bersisik dan berwarna hijau. Naga yang sayapnya lebar, selebar yang ia lihat di mimpinya.</p>
<p>Luerthe melihat Nu dalam benaknya mereka seperti berhadap-hadapan. Ternyata Luerthe membiarkan Nu melihatnya karena Luerthe ingin melihat langsung bagaimana Nu itu.</p>
<p>&#8220;Masih anak-anak? Dragon Lord masih anak-anak? Tidak mungkin&#8221;, kata Luerthe. &#8220;Kau jangan bercanda&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak bercanda, aku akan dapatkan nagaku, dan aku akan mengalahkanmu. Lihat saja nanti, aku berjanji akan mencarimu Luerthe, sebab nagaku lebih hebat daripada nagamu. Aku akan mengalahkanmu&#8221;, kata Nu. &#8220;Tunggulah sampai aku dapatkan nagaku, kau tak akan ada apa-apanya bagiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kapankah saat itu? Oh&#8230;aku sudah tidak sabar&#8221;, ejek Luerthe. &#8220;Kau masih anak-anak, banyak potensi yang harus kau gali. Ikutlah denganku dan kau akan kuajarkan menjadi D Knight sejati.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, aku akan menempuhnya dengan caraku sendiri, sebab aku adalah D Knight, aku yang akan menjadi raja di Aldemaria ini. Kau hanyalah sebagai orang yang tertinggal. Ingatlah kata-kataku!!&#8221;, Nu lalu menutup seluruh benaknya dan ia menggandeng Verta melanjutkan larinya.</p>
<p>Luerthe yang ada di langit hutan Fogus marah. &#8220;Bakar hutan ini Yarma!! Bakar!! Bakar!!! Jangan sampai ada yang tersisa!!!&#8221;</p>
<p>Dari mulut sang naga itu tersemburlah api yang sangat besar, namun masih saja api itu dihalangi oleh pelindung hutan itu. Jagu menyadari satu hal, &#8220;Aku tak bisa bertahan terus, naga itu akan terus menyerangku, aku tak punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan naga itu, seandainya ada Verta di sini, mungkin kekuatanku dengan naga itu akan imbang&#8221;.</p>
<p>Naga terus menyembur dan menyembur. Api itu terus mendesak. Jagu lalu bergumam dengan bahasanya, &#8220;Ye Harste Bagara Jazwa!!!&#8221;</p>
<p>Dan hutan itu bergetar hebat, tanah yang menjadi pijakan pohon-pohon pun bagaikan bergelombang. Dan pohon-pohon bersatu, mereka saling berpadu dan mengikat antara satu dengan yang lainnya. Suara dedaunan yang bergesekan membuat makin riuhnya suasana hutan. Para penyihir yang ada di hutan Fogus terkejut menyaksikan perubahan pada hutan itu.</p>
<p>&#8220;Apa yang terjadi dengan hutan ini?&#8221;, tanya salah seorang dari mereka.</p>
<p>&#8220;Kita harus pertahankan pelindung ini jangan sampai dirusak oleh para Wyvern-wyvern itu!!&#8221;, sahut yang lain.</p>
<p>&#8220;Kau benar, apapun yang terjadi kita tetap harus mempertahankan keadaan ini&#8221;.</p>
<p>Kini di atas hutan Fogus ada sesosok tiga pohon raksasa. Mereka tampak mempunyai mata dan mulut. Mulut mereka tanpa gigi seperti orang ompong, dan mata mereka menyala berwarna biru. Tangan mereka yang berbentuk aneh dan bergelombang memberikan kesan yang menggelikan sekaligus jijik, sedangkan mereka tak mempunyai siku, langsung jemari tangan yang bisa mereka ubah sekehendak hati mereka, bisa sepuluh, bisa dua puluh ataupun hanya sebuah sulur panjang yang bisa mengikat apa saja.</p>
<p>Naga hijau itu menghentikan semburan apinya. Ketiga pohon raksasa itu menembakkan dedaunannya ke arah Wyvern-wyvern, akibatnya puluhan wyvern tumbang akibat serangan itu, sang naga hanya berbekal pelindung api, sehingga daun itu tak menyentuhnya sama sekali. Daun-daun yang ditembakkan oleh monster pohon raksasa itu seperti sebuah pisau yang menembus apa saja yang melewatinya.</p>
<p>&#8220;Hahahahaha&#8230;&#8230;., menarik sekali baiklah, aku tak tahu kalau kekuatanmu sekuat ini, aku akan mencabik-cabik dirimu&#8221;, kata Luerthe.</p>
<p>&#8220;Coba saja!!&#8221;, kata Jagu.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=8&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/03/14/dawn-of-the-dragons-bag-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dawn of The Dragons &#8211; bag 2</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/03/12/dawn-of-the-dragons-bag-2/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/03/12/dawn-of-the-dragons-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 11:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Si Pengganggu Nu terbangun ketika percikan air mengenai wajahnya. Ia melihat seorang laki-laki asing yang ada di depannya dengan wajah yang penuh tanda tanya. &#8220;Waaa&#8230;..!!!&#8221;, dengan suara yang mengejutkan ia berjalan mundur dan mundur lalu jatuh dari kasur anyaman yang terbuat dari rumput, dedaunan dan tanaman jalar. Nu jatuh bedebum. Ia lalu mengerang. &#8220;A mu(Ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=7&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Si Pengganggu</b></p>
<p>Nu terbangun ketika percikan air mengenai wajahnya. Ia melihat seorang laki-laki asing yang ada di depannya dengan wajah yang penuh tanda tanya. &#8220;Waaa&#8230;..!!!&#8221;, dengan suara yang mengejutkan ia berjalan mundur dan mundur lalu jatuh dari kasur anyaman yang terbuat dari rumput, dedaunan dan tanaman jalar. Nu jatuh bedebum. Ia lalu mengerang.</p>
<p>&#8220;<i>A mu</i>(Ada apa)?&#8221;, tanya Verta yang kepalanya menyembul dari sebuah rumah pohon yang sangat besar.</p>
<p>Rumah pohon itu dibuat benar-benar menjadikan sebuah pohon yang sangat besar sebagai tempat tinggal. Wajah Verta menampakkan sebuah senyuman, lalu disusul tawa yang memecah suasana hening. Jagu mengerutkan dahi, ia merasa dirinya adalah orang yang paling aneh yang ada di tempat itu.</p>
<p>Nu bangkit lalu merasakan pegal-pegal di tubuhnya. Ia melihat wajah Verta dan Jagu, juga melihat rumah pohon yang besar itu. Ia meringis sambil memijati pinggangnya yang kesakitan. Ia juga memeriksa kepalanya apakah terluka atau tidak, karena ia merasa sangat pusing.</p>
<p>&#8220;Kau tak apa-apa?&#8221;, tanya Verta dengan benaknya.</p>
<p>&#8220;Ya, rasanya tak apa-apa&#8221;, jawab Nu dengan benaknya.</p>
<p>Jagu lalu berjalan ke arah Verta, hal yang menakjubkan terjadi lagi. Kini setiap Jagu melangkah tanaman jalar tumbuh untuk menjadi alas pijakannya, hingga Jagu sampai di rumah pohon. Nu mengernyit, baginya petualangan fantastis yang berkali-kali ini membuatnya serasa berada di sebuah negeri dongeng. Namun hal ini benar-benar nyata, kalau dibandingkan cerita-cerita yang sering didengar dari bibinya. Ia benar-benar terkejut, terpesona dan sangat kaget menyaksikan peristiwa yang luar biasa tersebut.<br />
<span id="more-7"></span><br />
&#8220;<i>Hu bietu strengi, alfeimu na kapayuszche </i>(Dia sangat aneh, ketakutan melihat diriku)&#8221;, kata Jagu. &#8220;<i>A hu nei ja varai elfu</i> (Apa dia baru saja melihat peri)?&#8221;</p>
<p>&#8220;<i>Ta bi ducei</i>(Setidaknya kau yang kedua)&#8221;, jawab Verta.</p>
<p>&#8220;Bicara apa kalian?&#8221;, tanya Nu dengan benaknya.</p>
<p>&#8220;Nggak usah dipikirkan&#8221;, jawab Verta sambil tersenyum. &#8220;Masuklah ke rumahku. Kami berdua tinggal di tengah-tengah hutan Fogus. Masuklah!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah nggak, tidak usah. Sudah siang&#8221;, kata Nu. &#8220;Aku harus kembali ke peternakan. Takut kalau bibi mencariku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Peternakan? Kau punya peternakan masih berburu?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Peternakan kami sebenarnya ternak sapi perah, dagingnya tidak kami olah, tapi kami berburu&#8221;, jawab Nu. &#8220;Dan terkadang harus ke kota untuk beli daging. Tapi karena uang kami menipis, maka berburu adalah salah satu hal yang harus aku lakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh ya, sebentar&#8221;, Verta tiba-tiba memberikan sesuatu kepada Nu. Dua ekor kelinci yang tertidur.</p>
<p>&#8220;Apa maksudnya?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Ini dua ekor kelinci buatmu, mereka kusihir agar tertidur. Aku cari mereka di hutan bagian utara&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Nu sebenarnya tak ingin menerimanya, tapi ia melihat ke langit, matahari sudah mulai condong ke barat. Mau tak mau ia harus menerimanya. Sebenarnya ia ingin menunjukkan bakatnya dalam berburu kepada bibinya. Tapi pertemuan dengan dua spirit di hutan aneh ini adalah sebuah pengalaman yang sangat melelahkan. Pemuda ini sampai tidak habis pikir, bagaimana nantinya dia bisa bilang kepada bibinya kalau dia menemukan dua ekor kelinci sedang tertidur karena pengaruh obat. Atau yang lebih parah dia akan bilang terus terang kepada bibinya kalau dia bertemu peri dan kemudian orang-orang desa bakal mencari Verta dan Jagu untuk kemudian dibakar ramai-ramai, karena dianggap sebagai pembawa sial. Apalagi ternyata berita tentang orang-orang yang hilang di hutan Fogus itu bukanlah isapan jempol belaka. Sebagaimana dia melihat dua peri ada dihadapannya, yang satunya sembunyi di sebuah rumah pohon dan yang satunya cantik serta membantunya memberikan buruan kelinci.</p>
<p>&#8220;Errr&#8230;., baiklah&#8221;, kata Nu. Ia menerimanya langsung dari Verta. Sesaat ia bersentuhan lagi dengan kulit Verta yang lembut. Ia merasakan sesuatu yang aneh yang sampai sekarang dirasakannya. Bau harum para peri itulah yang mungkin menghipnotisnya.</p>
<p>Ia tanpa rasa penasaran langsung menerima dua ekor kelinci yang dipegang telinganya itu. Nu melihat anak panah dan busurnya ada di atas tempat tidur anyaman tadi. Ia segera mengambil busur dan anak panahnya dan menaruhnya pada tempatnya. Nu tersenyum kepada Verta, &#8220;Terima kasih atas semuanya. Besok aku akan kembali ke sini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau yakin bisa pulang?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>Pertanyaan itu membuat Nu ragu untuk beberapa saat. Ia berpikir keras, apa ia masih ingat jalan pulang. Terlebih lagi hutan Fogus adalah hutan yang sangat luas. Ia bisa saja tersesat, atau bahkan ia bisa saja malah makin dalam masuk ke dalam hutan yang aneh ini. Ia pun dengan perasaan pasrah dan menyerah menggeleng.</p>
<p>&#8220;Aku antar&#8221;, kata Verta sambil menarik tangannya.</p>
<p>Nu menarik tangannya.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Aku tak mau terbang seperti tadi&#8221;, jawab Nu.</p>
<p>Verta tertawa ngikik. Tertawa yang sangat aneh. Mirip tertawa arwah gentayangan. Hanya saja Nu tak berani untuk menegurnya, ada bagian-bagian benaknya yang tak ingin diketahui oleh Verta. Ia tersenyum dan mereka pun berjalan.</p>
<p>&#8220;<i>Breita, na teravie Nu alanyi rija </i>(Kak, aku mau mengantar Nu pulang ke rumah)&#8221;,  kata Verta.</p>
<p>Nu yang tidak mengerti bahasa peri hanya diam saja. Pikirnya mungkin Verta minta ijin kakaknya untuk mengantarnya pulang. Dan memang benar.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian mereka berdua mengikuti jalan sungai yang mengalir membelah hutan Fogus. Kali ini sang peri berjalan di atas tanah. Meskipun begitu, terkadang-kadang ia melayang untuk menghindari terperosok ke dalam lubang ataupun tersandung.</p>
<p>Di sepanjang perjalanan Verta bernyanyi. Suaranya membelah keheningan hutan. Tampak suaranya diiringi goyangan pohon-pohon dan rumput-rumput yang bergoyang. Nadanya yang enak dan suaranya yang menusuk jiwa membuat Nu sesekali menarik nafas panjang.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri bahwa ia sekarang jatuh cinta sejak pandangan pertama. Hanya saja ada kesan yang tidak enak pada diri Jagu. Dan itu juga disadari oleh Nu. Ia pun bergelut pada perasaannya sendiri. Antara suka dan tidak.</p>
<p>Sang peri menghentikan nyanyiannya. Ia menoleh ke arah Nu yang sejak tadi menatapnya. Nu lalu menoleh ke arah yang lain.</p>
<p>&#8220;Siapa ayahmu kalau boleh aku tahu?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Ayahku adalah seorang ksatria dari Aldemaria. Dia meninggal ketika aku masih kecil&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Oh..maaf, berarti kau sekarang anak yatim&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Ya, begitulah&#8221;, jawab Nu. &#8220;Ibuku juga meninggal saat aku juga masih kecil. Kejadian tepatnya aku tidak tahu, aku hanya tahu kalau aku selalu diasuh oleh paman dan bibiku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua, karena aku tidak dilahirkan dari siapapun&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Koq bisa?&#8221;, tanya Nu. &#8220;Setiap makhluk hidup pasti dilahirkan dari orang tua mereka.&#8221;</p>
<p>&#8220;Entahlah, aku lahir dari bunga Farga, dan seluruh yang aku lakukan diajarkan oleh Luth&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Berarti kau tahu tentang Luth?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu saja, hubungan kami para peri dengan Luth sangat dekat. Kata Luth banyak sekali para peri yang ada di dunia ini. Mereka bertugas pada daerah mereka masing-masing&#8221;, Verta menerawang. &#8220;Seperti misalnya di hutan ini, aku hanya bisa hidup di hutan ini. Pernah aku mencoba untuk keluar dari hutan ini, akibatnya aku jadi lemah, beruntunglah Jagu menolongku. Jadi aku tak bisa jauh dari hutan ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, itu sebabnya&#8221;, Nu mengangguk tanda mengerti. &#8220;Berarti kau hanya sendirian bersama Jagu di hutan ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begitulah&#8221;, jawab Verta. &#8220;Kami sudah ada di sini sekitar 200 tahun lamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, usia yang sangat tua&#8221;, kata Nu. &#8220;Manusia tidak ada yang hidup sampai 200 tahun lamanya.&#8221;</p>
<p>Sampailah mereka di pinggir hutan sebelah timur. Nu bisa melihat matahari telah tenggelam ketika mereka sampai. Dan tampak pekarangan yang sangat luas terhampar di hadapan Nu. Itu adalah peternakan milik paman dan bibinya. Lampu rumahnya sudah dinyalakan.</p>
<p>&#8220;Hanya sampai di sini saja ya?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku ingin ikut, aku ingin melihat dunia luar sana&#8221;, jawab Verta.</p>
<p>Nu berpikir sejenak. &#8220;Kurasa tidak, paman dan bibiku akan membunuhmu dan kau akan dijadikan tontonan di sirkus apabila sampai tahu aku punya teman sepertimu. Manusia di tempat ini sangat aneh, dan tidak bersahabat kau tak akan suka bergaul dengan mereka.&#8221;</p>
<p>Verta menggerak-gerakkan telinganya sambil tersenyum. Pipinya yang kemerahan semakin mereka ketika Nu menatap matanya. Lagi-lagi perasaan berdesir itu datang.</p>
<p>&#8220;Aku akan kembali lagi besok&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Iya, aku tunggu&#8221;, jawab Verta.</p>
<p>Nu melangkah meninggalkan Verta sendirian di tepi hutan. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan kalau makhluk halus itu tidak mengikutinya. Sekali lagi ketika ia menyeberang pekarangan yang sangat luas itu ia memastikannya berulang-ulang. Ia melihat Verta masih di sana. Sampai kemudian ia sampai di teras rumah, ia menoleh lagi ke belakang Verta sudah tidak ada lagi. Ia tersenyum lalu masuk ke rumah.</p>
<p>Di dalam rumah, tampak kelegaan menghiasi wajah bibinya. Mengetahui sang anak pulang dengan selamat, ia langsung mengambil buruan yang di bawa oleh Nu. Tapi sedikit heran dengan buruan yang telah dibawanya.</p>
<p>&#8220;Belum kau bunuh?&#8221;, tanya bibinya.</p>
<p>&#8220;Nggak, aku&#8230;ehmmm&#8230;..menemukan mereka sedang tidur, mungkin habis makan daun yang bisa menidurkan mereka, tapi tenang saja daunnya tidak beracun, mungkin hanya membius mereka&#8221;, kata Nu dengan nada sok tahu.</p>
<p>Bibinya mengerutkan dahi, &#8220;Hmm&#8230;.., baru tahu aku ada daun yang seperti itu di hutan&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hutan itu luas bi, mungkin saja ada juga tanaman yang bisa bergerak seperti manusia, atau mungkin ada juga hantunya, mana kita tahu&#8221;, kata Nu.</p>
<p>Bibinya segera mempersiapkan pisau di dapur dan kedua kelinci itu sudah tergorok lehernya. Dari pintu depan tampak terdengar suara langkah kaki yang berat. Nu menoleh ke arah pintu depan dan ia melihat seorang separuh baya dengan janggut putih lebat dan bawaannya yang banyak memasuki pintu.</p>
<p>&#8220;Aku pulang&#8221;, kata orang tua itu yang tak lain adalah paman Nu.</p>
<p>&#8220;Sayang, lama sekali kau perginya&#8221;, kata bibi Nu.</p>
<p>&#8220;Aku terpaksa harus ke kastil dengan yang lainnya, karena mereka sedang mempersiapkan diri untuk perang&#8221;, kata paman Nu. &#8220;Dedgard mulai mengerahkan pasukannya di sebelah selatan Aldemaria. Aku harus membantu menyiapkan perbekalan para prajurit. Seandainya aku seperti kakakku menjadi ksatria, tentu aku akan ikut peperangan itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dedgard?&#8221;, tanya Nu. &#8220;Apakah ia salah satu yang memuja Ramsus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dan kekuasaan Dedgard sekarang makin besar. Seluruh negara-negara pembela Ramsus sekarang bersatu di bawah kekuasaan Dedgard. Mereka makin berbahaya sekarang ini. Dan kalau sampai mereka menyerang Aldemaria dan menang, maka tidak ada lagi yang tersisa di dunia ini. Sebab di sinilah pertahanan terakhir dari Luth&#8221;, kata paman Nu.</p>
<p>Berarti masih jauh dari hutan Fogus. Peperangan itu tidak akan sampai ke sini, pikir Nu. Ia menghela nafas lega. Takut kalau terjadi sesuatu di hutan tempat dia mengetahui ada peri yang sangat cantik.</p>
<p>&#8220;Apa yang kau lakukan hari ini Nu?&#8221;, tanya pamannya.</p>
<p>Nu tersentak dan ia menjawab, &#8220;E&#8230;.aku tadi berburu&#8221;</p>
<p>&#8220;Wow, benarkah? Kau menggunakan segala yang apa paman ajarkan?&#8221;, tanya pamannya sambil memukul bahunya.</p>
<p>&#8220;Ehmm&#8230;.ss..sebenarnya tidak juga&#8221;, Nu meringis.</p>
<p>&#8220;Kebetulan saja Nu menemukan kelinci yang tertidur, dia bawa ke rumah&#8221;, kata bibinya.</p>
<p>Pamannya mengernyit, pertanda ia tahu bahwa Nu bohong. &#8220;Sepertinya kau menyembunyikan sesuatu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, aku tak menyembunyikan apapun&#8221;, kata Nu.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian, daging kelinci panggang dan sambal telah matang. Nu langsung memakan daging itu. Ia benar-benar kelaparan, seperti tidak pernah makan selama seminggu. Paman dan bibinya kemudian ikut makan. Meja makan itu makin ramai ketika pamannya menceritakan pengalmannya selama ia berada di kastil. Bertemu dengan panglima-panglima dan para prajurit yang dibekali kemampuan sihir untuk bisa melawan pasukan Dedgard yang katanya lebih tangguh.</p>
<p>Malam itu Nu tidur di kamarnya dengan perasaan bercampur aduk. Ia menerawang jauh ke langit. Ia melihat bintang-bintang yang ia bisa melihatnya dari jendela kamarnya. Selimut tebalnya membuatnya hangat dengah suhu yang sangat dingin di pinggir hutan Fogus. Apakah ia akan menceritakan pengalamannya di hutan tadi kepada pmaan dan bibinya? Tapi akankah mereka percaya begitu saja? Kalau mereka percaya apa yang akan terjadi? Apakah peri-peri itu akan terusik? banyak sekali yang dipikirkan oleh Nu, dan yang paling akhir adalah ia kemudian terlelap dalam buaian mimpi.</p>
<p>Sementara itu malam makin larut saat Verta duduk sendirian di kamarnya, di sebuah bilik di rumah pohon. Ia di terangi oleh cahaya yang berputar-putar seperti kunang-kunang. Ia juga memikirkan Nu. Sebuah benak merasuk ke pikirannya.</p>
<p>&#8220;Kau belum tidur Verta?&#8221;,tanya Jagu.</p>
<p>&#8220;Belum&#8221;, jawab Verta. &#8220;Dia mengganggu tidurku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Si pengganggu itu membuatmu tidak bisa tidur?&#8221;, tanya Jagu.</p>
<p>&#8220;Begitulah, sepertinya darah ksatrianya yang murni membuatku jatuh cinta&#8221;, jawab Verta.  &#8220;Aku tak bisa membohonginya, aku juga tak bisa bohong padamu Jagu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tak suka dia&#8221;, kata Jagu. &#8220;Rasanya ia seperti orang yang akan memisahkan kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kau berpikir seperti itu? Dia sama sekali tak membahayakan kita&#8221;, kata Verta membela Nu. &#8220;Walaupun dia masih pemakan daging.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau baru mengenalnya, dan kita baru saja mengenalnya&#8221;, kata Jagu. &#8220;Tak ada yang bisa kita harapkan dari dia. Siapa tahu sekarang ini ia sedang bercerita kepada orang-orang tentang kita.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, mungkin saja, tapi aku percaya kalau dia tidak demikian&#8221;, kata Verta.  &#8220;Sebab ia adalah seorang ksatria yang masih murni darahnya. Belum pernah dikotori oleh kejahatan.&#8221;</p>
<p>Jagu mendesah, &#8220;Ya&#8230;mungkin kau benar.&#8221;</p>
<p>Verta tertidur. Ia menatap bintang yang sama dengan Nu. Dan mereka pun terlelap pada sebuah mimpi. Mimpi yang sama.</p>
<p>Di mimpi itu sesosok makhluk yang mengerikan menjerit dengan suara yang sangat keras, kejam dan brutal. Sesosok makhluk hitam, tatapan matanya tajam dan tampak sayapnya yang sangat besar mengembang, seperti seorang yang baru bangun dari tidur yang sangat panjang. Sayapnya seperti sayap kelelawar. Makhluk itu dikelilingi oleh api yang membara dan seolah-olah ingin menerkam siapa saja yang mengganggunya.</p>
<p>Nu terbangun dari mimpi yang buruk. Ia terengah-engah dengan keringat bercucuran di malam yang dingin. Bayangan makhluk itu tetap ada dalam benaknya. Ia lalu beranjak dari tempat tidur dan melihat ke luar jendela. Tampak pekarangan yang gelap tak ada cahaya bulan, karena malam ini adalah bulan mati.</p>
<p>&#8220;Makhluk apa tadi?&#8221;, katanya sendiri. &#8220;Ini firasat ataukah hanya mimpi biasa?&#8221;</p>
<p>Verta juga mengalami hal yang sama, ia juga merasakan keanehan yang serupa. Apa makhluk itu sebenarnya? Bagi para peri seluruh mimpinya adalah kenyataan, dan apa yang dilihatnya di dalam mimpi bukanlah sebuah bunga tidur semata, tapi sebuah pesan yang akan terjadi di masa depan. Satu yang ia ingat, sepasang sayap yang lebar.</p>
<p>&#8220;Siapa makhluk itu? Apa dia sebenarnya?&#8221;, tanyanya dalam hati. &#8220;Masa depan, masa depan apa yang sebenarnya akan terjadi?&#8221;</p>
<p>Tak begitu jauh dari hutan Fogus, tampaklah sesosok orang dengan baju zirah hitam mengendarai seekor kuda hitam lengkap dengan armornya. Pedangnya yang sangat panjang dan besar diangkatnya bagaikan mainan. Seorang Dark Knight melaju kudanya memasuki hutan Fogus. Ketika masuk agak dalam ia pun berhenti.</p>
<p>Jagu tersentak. Ia bangun. Ia merasakan aura yang sangat aneh kali ini. Berbeda dengan apa yang ia rasakan ketika merasakan Nu, tapi rasanya kali ini lebih bengis, lebih berbahaya, dan ia juga mencium bau darah dari aura Dark Knight itu. Jagu memasuki benak Verta, &#8220;Pengganggu, seorang Dark Knight masuk ke Fogus&#8221;.</p>
<p>&#8220;Aku juga merasaknnya, apa yang diinginkannya?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>Verta segera keluar dari rumah. Diikuti Jagu. Mereka berdua sekarang berada di luar. Mencoba merasakan benak setiap makhluk yang ada di hutan itu. Perlahan tapi pasti Verta bisa melihat sesosok wajah yang mengerikan dari penglihatannya. Sesosok berwajah menyeramkan itu bukan yang dilihatnya di mimpi tapi lebih menyeramkan. Wajah seekor kadal dengan gigi-giginya yang seperti gergaji tersembunyi di balik helm baju zirah Dark Knight.</p>
<p>Jagu dan Verta langsung menyatukan kedua telapak tangan mereka dan membaca mantra, &#8220;<span style="font-style:italic;">Te Barriera</span>!!&#8221;</p>
<p>Hutan Fogus yang tadinya senyap dan diiringi suara binatang malam, kini mendadak hening mencekam. Sebuah kubah yang sedikit-demi-sedikit mengembang kini terus membesar dari tengah hutan Fogus. Dan sang Dark Knight pun terlempar bersama kudanya keluar dari hutan Fogus. Sang Dark Knight bangkit lalu menyeringai, tampak ia melepas helmnya dan dengan wajah yang mengerikan itu ia memperlihatkan kalau dia sedang marah. Ia menancapkan pedangnya di tanah dan kemudian mengarahkan telapak tangannya ke hutan Fogus.</p>
<p>&#8220;<span style="font-style:italic;">Er Ignus</span>!!&#8221;, dari telapak tangannya muncul sebuah bola api yang sangat besar kemudian menghantam pelindung yang melindungi hutan Fogus. Namun api itu tak bisa menembusnya.</p>
<p>Sang Dark Knight marah, lalu ia mengambil lagi pedangnya. Kudanya yang setia bangkit lagi dan menghampirinya. Sang Dark Knight kemudian naik ke pelananya, lalu memacu kudanya meninggalkan tempat tersebut, pergi menjauh ditelan gelapnya malam. Derap kaki kuda itu kian lama kian menghilang, dan suara binatang malam Hutan Fogus pun kembali bersuara. Verta dan Jagu saling berpandangan. Mereka kembali melihat dengan benak mereka, sampai benar-benar situasinya aman.</p>
<p>&#8220;Siapa dia?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Tidak tahu, tapi tugas kita sekarang hanyalah sebagai pelindung, kita harus melindungi hutan ini dari gangguan apapun, dan dari pengganggu siapapun&#8221;, kata Jagu.</p>
<p>&#8220;Orang yang haus darah, apakah dia budak dari Ramsus?&#8221;, pertanyaan Verta tak pernah dijawab oleh Jagu. Ia tak melepaskan mantra pelindung itu dan tetap dijaganya sampai pagi hari.</p>
<p>Keesokan harinya, Nu ikut pamannya ke pasar. Mereka bangun pagi-pagi sekali dan menebeng kereta kuda yang mengangkut persediaan kerajaan untuk persiapan perang. Mereka hari itu mau mengambil uang dari pedagang keju yang sehari sebelumnya telah dititipkan pamannya kepada pedagang itu.</p>
<p>Di jalan Nu menyaksikan para prajurit lalu lalang. Diantara mereka ada yang membawa tombak, ada yang menenteng pedang panjang. Baju besi mereka menimbulkan suara yang aneh. Kuda-kuda terlatih dan kaki-kaki terlatih menderapkan langkah mereka menuju kastil. Di jalan itu tak banyak pemandangan yang dilihat oleh Nu, selain ia melihat teman-temannya dan menyapa mereka.</p>
<p>&#8220;Paman, kau percaya dengan peri?&#8221;, tanya Nu kepada pamannya.</p>
<p>Pamannya mengerutkan dahi. &#8220;Kau tahu kalau aku tidak pernah melihat sesuatu yang belum pernah kulihat aku tak percaya? Aku belum pernah melihat peri dan aku tak percaya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi legenda tentang mereka ada kan?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tertarik dengan peri?&#8221;, tanya pamannya.</p>
<p>&#8220;Aku tertarik,&#8230;..karena aku ingin mementaskan drama tentang peri pada perayaan nanti&#8221;, kata Nu sambil memberikan senyuman.</p>
<p>&#8220;Kau bisa bertanya tentang seorang wanita yang tahu masalah peri ataupun legenda-legenda kuno. Aku tahu seorang gipsi yang kemarin aku jumpai. Katanya ia bisa meramal dan katanya juga ia tahu cerita-cerita seperti itu&#8221;, kata pamannya. &#8220;Aku tak percaya karena aku melihat sendiri Dedgard adalah manusia biasa seperti kita, tak pernah mempunyai pasukan dari monster ataupun Iblis. Mereka semua sama seperti kita. Walaupun aku pernah juga simpang siur mendengarkan legenda-legenda itu. Tapi aku sama sekali tidak pernah percaya terhadap hal-hal seperti itu.&#8221;</p>
<p>Nu terdiam, ia masih teringat mimpi yang menyeramkan yang dilihatnya tadi malam. Mereka pun sampai di pasar. Kereta kuda berhenti. Mereka berdua mengucapkan terima kasih dan turun. Nu menanyakan di mana wanita gipsi itu kepada pamannya. Pamannya menunjukkan sebuah papan nama yang bertuliskan &#8220;Peramal&#8221;.</p>
<p>Nu agak ragu untuk pergi ke tempat itu. Tapi ia benar-benar ingin tahu ihwal mimpinya. Ia minta ijin pamannya untuk pergi ke sana, pamannya mengijinkan, entah apapun yang diinginkan oleh Nu. Mungkin memang benar Nu ingin tahu sesuatu karena ia ingin membuat sebuah drama.</p>
<p>Dengan keberanian yang kecil, ia masuk ke rumah gipsi itu. Rumah gipsi adalah sebuah tenda yang dibentuk seadanya dengan hiasan pernak-pernik khas gipsi. Di dalamnya, ia bisa melihat gantungan tulang belulang dan beberapa buku-buku tebal. Tak ada orang. Ia lalu melihat sebuah pintu yang ditutup oleh kain kelambu. Di sana tertulis, &#8220;Hanya orang yang ingin mencari jalan terangnya masuk ke sini&#8221;. Nu mengerutkan dahi, ia makin tertarik untuk masuk ke sana. Disibakkan kain kelambu itu dan di depannya, tampak sesosok wanita yang sangat cantik duduk sambil menatapnya.</p>
<p>&#8220;Masuklah dan duduklah anak muda!&#8221;, kata wanita gipsi itu. &#8220;Jangan takut, aku bisa melihat aura ketakutan pada matamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ee&#8230;i&#8230;iya&#8221;, katanya. Nu lalu mengikuti saran wanita itu. Tapi menurut Nu, kecantikannya terlalu disembunyikan, seolah-olah ingin menyembunyikan ia usia berapa sekarang. Nu berpikir wanita ini bisa menyihir wajahnya agar terlihat cantik.</p>
<p>&#8220;Apa yang ingin kau tanyakan?&#8221;, tanya wanita itu.</p>
<p>&#8220;Aku ingin tahu tentang peri&#8221;, jawab Nu.</p>
<p>Wanita itu tersenyum, &#8220;Kenapa kau tanyakan itu nak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena aku&#8230;..karena&#8230;..&#8221;, Nu tak bisa menjawab alasan yang sama di depan wanita itu. Ia takut kalau wanita itu bisa meramalnya bahkan untuk kebohongan.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230;tidak usah kau ceritakan, yang penting kau ingin bertanya sesuatu&#8221;, kata sang gipsi. &#8220;Aku bisa menceritakannya, karena kau adalah pengunjung pertama, aku anggap kau boleh bertanya 3 hal dengan gratis. Sebab biasanya aku memasang tarif&#8221;.</p>
<p>Nu agak mendongkol.</p>
<p>&#8220;Peri adalah spirit. Mereka hidup dari kuncup bunga Farga. Luth memberikan mereka kehidupan, sehingga mereka akan patuh segala ucapan Luth. Mereka memilki masa hidup seribu kali lebih lama dari manusia. Mereka pada umumnya memiliki telinga panjang, mata yang tajam, dan mereka bisa mengetahui benak manusia. Mereka hidup di tempat-tempat yang dianggap memiliki elemential yang tinggi. Seperti hutan, sungai, padang pasir, rawa, danau, gunung dan gua.</p>
<p>&#8220;Para peri hidup lebih dari jutaan tahun yang lalu. Sebelum tanah ini tercipta. Mereka misterius untuk para manusia, bahkan untuk bisa mengetahui bagaimana sejarah peri dan manusia pada zaman dulu manusia tidak mengetahuinya. Para peri biasanya mendampingi para ksatria terpilih. Dan terkadang menjadikan mereka sebagai sepasang kekasih. Ada banyak cerita tentang para ksatria terpilih yang mereka menikah dengan para peri. Namun tidak pernah ada cerita tentang keturunan mereka. Dan sampai sekarang masih simpang siur.</p>
<p>&#8220;Para ksatria terpilih itu adalah mereka yang hidup setiap seratus tahun sekali. Mempunyai darah yang murni, dan biasanya mereka mempunyai ikatan yang kuat ketika pertama kali bertemu. Tapi juga tidak seluruh peri akan mendampingi seorang ksatria. Hanya peri-peri terpilihlah yang akan mendampingi mereka.&#8221;</p>
<p>Hening sesaat, lalu wanita itu bertanya, &#8220;Kau mau tanya apa lagi nak?&#8221;</p>
<p>Nu bertanya, &#8220;Aku tadi malam bermimpi sesuatu yang aneh. Tadi malam aku bermimpi sesosok makhluk yang matanya tajam, dan aku juga melihat makhluk itu mempunyai sayap yang sangat lebar. Sayapnya hitam seperti kelelawar. Dan tubuhnya dikelilingi oleh api. Apa sebenarnya mimpiku ini?&#8221;</p>
<p>Sang gipsi terbelalak, hampir-hampir saja matanya copot karena melotot. Ia membuka sebuah buku, kemudian memperlihatkannya kepada Nu. &#8220;Apakah ini yang kaulihat di mimpimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;, seperti itu, tapi&#8230;sayapnya lebih lebar&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Kau anak yang spesial, suatu saat kau akan mengetahuinya. Orang yang memimpikan makhluk ini akan menjadi orang yang spesial. Dia akan menjadi pahlawan, kau akan menjadi pahlawan nak. Dan banyak yang akan mengangkatmu menjadi pemimpin. Kau akan memimpin melawan kejahatan. Ketahuilah, jangan kau katakan hal ini pada siapapun, mimpimu tidak boleh diketahui oleh siapapun, selain dirimu sendiri. Dan kalau kau nantinya bertemu dengan peri yang mempunyai sayap yang sama dengan makhluk ini, maka itulah takdirmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudnya?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Di tubuhmu mengalir darah ksatria. Aku tahu, karena hanya seorang ksatria yang bisa bermimpi seperti itu. Kaulah ksatria terpilih setiap seratus tahun itu&#8221;, kata gipsi itu.</p>
<p>Nu, kemudian menghela nafas, &#8220;Tapi aku sama sekali tak mengerti apapun. Aku tak tahu ilmu perang, aku juga tak pernah memainkan pedang. Aku hanya bisa berburu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau tak perlu khawatir, sebab suatu saat kau akan mendapatkan guru yang bijak, kau akan mendapatkan gurumu dan kau akan menjadi orang yang paling faham terhadap pertempuran daripada siapapun&#8221;, kata wanita itu. &#8220;Sebagai pertanyaan terakhir. Aku akan meramalmu dengan tulang-tulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak, aku tidak mau diramal&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa, ini gratis&#8221;, kata wanita itu. &#8220;Tapi aku tak akan menjamin bahwa ramalanku benar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tidak pernah percaya ramalan&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Memang benar, tapi tulang-tulang ini adalah tulang-tulang khusus, kau tak akan percaya padaku, tapi tulang-tulang ini bisa menceritakan segalanya&#8221;, kata wanita itu.</p>
<p>Sang wanita gipsi mengambil sebuah tungku, lalu ia memasukkan tulang itu ke dalam tungku. Rentengan-rentengan tulang itu berdentangan di dalam tungku yang kecil. Sesaat kemudian, tiba-tiba terbakarlah tungku itu. Api menyala dan tulang-tulang itu seakan-akan bergerak.</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Waahh&#8230;&#8230;luar biasa, aku bisa melihat kau berada dalam sebuah petualangan yang hebat. Kau bertemu dengan kekasih sejatimu. Kau berperang, hidupmu akan sangat menderita dalam perjuangan ini. Kematian silih berganti kau jalani. Tulang ini menceritakan, kau akan menjadi seorang yang besar. Kau akan menjadi seorang raja&#8221;, kata wanita itu. &#8220;Tapi ada halangan besar. Sebuah kekuatan besar dengan sayapnya berwarna perak menghalangimu. Langit menjadi gelap, tanah menjadi tandus, dan nasib seluruh makhluk ada di tanganmu. Kau jadi harapan terakhir manusia!!&#8221;</p>
<p>Mendengar itu Nu hanya bisa menelan ludah.</p>
<p>&#8220;Tak ada yang bisa membohongi tulang-tulang. Kau adalah ksatria terpilih&#8221;, kata sang gipsi. &#8220;Aku akan mencarimu suatu saat nanti kalau kau sudah siap. Karena kau akan butuh bantuanku  ke depannya. Seluruh penghuni Aldemaria akan tunduk padamu. Kau jangan khawatir.&#8221;</p>
<p>Nu tidak tahan, ia takut dan dengan cepat ia keluar dari tenda peramal itu. Dan ia sampai di luar tenda dengan jantung yang berdebar-debar. Apakah wanita gipsi itu bercanda?</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=7&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/03/12/dawn-of-the-dragons-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dawn of The Dragons &#8211; bag 1</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/03/11/dawn-of-the-dragons-bag-1/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/03/11/dawn-of-the-dragons-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Mar 2008 11:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fantasy]]></category>
		<category><![CDATA[dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[Dragons]]></category>
		<category><![CDATA[fantasi]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Dua Penjaga Hutan Jauh di dalam sebuah hutan rimba, tempat di mana seluruh makhluk saling memakan, saling bertahan hidup di hukum rimba yang sangat agung, hiduplah 2 spirit yang satu bernama Jagu, yang satunya bernama Verta. Mereka berdua hidup tanpa terusik oleh satupun manusia yang berada di luar dunia mereka. Mereka berdua, setiap hari bersenang-senang, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=6&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Dua Penjaga Hutan</b></p>
<p>Jauh di dalam sebuah hutan rimba, tempat di mana seluruh makhluk saling memakan, saling bertahan hidup di hukum rimba yang sangat agung, hiduplah 2 spirit yang satu bernama Jagu, yang satunya bernama Verta. Mereka berdua hidup tanpa terusik oleh satupun manusia yang berada di luar dunia mereka. Mereka berdua, setiap hari bersenang-senang, menjaga hutan, bermain bersama teman-teman mereka di hutan, yaitu para binatang, dan juga spirit-spirit yang lainnya.</p>
<p>Jagu adalah spirit yang mempunyai sayap seperti kupu-kupu. Tubuhnya seperti manusia pada umunya, telinganya panjang dan rambutnya berwarna putih. Sedangkan Verta, adalah spirit yang mempunyai sayap seperti sayap kelelawar berwarna. Tubuhnya juga mirip manusia dan rambutnya berwarna ungu. Mereka berdua adalah kakak beradik. Lahir dari kuncup bunga Farga, yang menyerap air kehidupan Luth.</p>
<p>Di Aldemaria, Luth dipercaya sebagai pembawa kehidupan. Sebuah spirit yang sangat besar yang hidup di dalam inti bumi. Manusia dan ras-ras lain di Aldemaria percaya bahwa Luth melindungi mereka, dan memberikan kehidupan mereka. Mereka juga mengenal Ramsus, sebagai spirit yang jelek, yang mana tugasnya hanya merusak dan merusak. Di Aldemaria, ada sekte-sekte agama yang mereka menganggap Luth sebagai dewa, ataupun Ramsus yang juga dianggap sebagai dewa.</p>
<p>Matahari menyinari bumi Aldemaria. Cahayanya mencoba masuk ke sela-sela dedaunan yang rindang di belantara hutan. Tampak dari pegunungan Fogus kabut masih membumbung, walaupun matahari telah menyinarinya, tapi tak mampu menghilangkan gumpalan kabut yang tebal itu.<br />
<span id="more-6"></span><br />
Anak tupai melompat dari dahan pohon satu ke dahan yang lainnya. Mereka seakan-akan tidak khawatir kalau mereka akan jatuh dengan keahlian mereka melompat-lompat seperti itu. Ekor mereka naik ke atas dan sesaat kembali turun untuk menyeimbangkan tubuh mereka agar tidak jatuh ke tanah. Mereka tersentak dan menghindari sesuatu ketika tiba-tiba sesuatu yang lebih besar terbang melintasi mereka.</p>
<p>Sesuatu itu adalah Jagu dan Verta. Mereka sedang bermain kejar-kejaran. Jagu mengejar Verta. Menghindari pepohonan yang menghalangi terbang mereka. Jagu tampak kelelahan dan ia hampir saja menabrak pohon kalau tidak konsentrasi. Ia lalu tersangkut sebuah dahan dan jatuh ke bawah. Suara jatuhnya terdengar halus seperti dedaunan yang disebar.</p>
<p>Para peri mempunyai keistimewaan. Seluruh tanaman tunduk pada mereka, sehingga ketika Jagu jatuh ke bumi, rerumputan dan tanaman jalar saling menyulam dan bertumpuk membentuk sebuah tempat tidur yang sangat besar. Jagu jatuh di atasnya dengan nyaman.</p>
<p>&#8220;Terima kasih teman-teman&#8221;, kata Jagu.</p>
<p>Verta terbang menghampiri Jagu, &#8220;Kau tak apa-apa? Kemampuan terbangmu lemah, mungkin ini disebabkan karena kau terlalu banyak makan buah Chery&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jangan menuduhku sembarangan&#8221;, kata Jagu. &#8220;Kau lihat sendiri, sayapku lebih kecil daripada sayapmu!!&#8221;</p>
<p>Verta tersenyum jahil. Ia lalu menjatuhkan diri ke tanah, dan hal yang sama juga dilakukan oleh tanaman-tanaman yang lainnya. Mereka saling bertumpuk dan menyulam membentuk sebuah tempat tidur yang empuk. Verta berbaring di atasnya. Kemudian pepohonan pun seperti menutupi mereka berdua. Sebuah pemandangan yang tidak akan bisa disaksikan oleh manusia biasa. Sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Itulah kehidupan para peri. Mereka dihormati oleh tanaman dan mereka sangat mencintai tanaman. Ada sebuah legenda bahwa para perilah yang memberikan kehidupan pada tanaman-tanaman.</p>
<p>&#8220;Jagu, kau tak pernah tahu bagaimana kehidupan di luar sana&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tanyakan hal itu?&#8221;, tanya Jagu.</p>
<p>&#8220;Aku ingin tahu apakah ada peri-peri lain selain diriku di luar sana, dan apakah mereka baik-baik?&#8221;, tanya Verta.</p>
<p>&#8220;Kita adalah penjaga hutan Fogus ini Verta! Ingat apa yang dikatakan Luth pada kita&#8221;, kata Jagu. &#8220;Kita harus melindungi hutan ini dari apapun, sebab sekarang ini kekuasaan Ramsus sudah semakin mendesak kita&#8221;.</p>
<p>Verta mendesah, &#8220;Aku ingin bertemu dengan peri-peri yang lainnya. Apakah mereka punya tugas yang sama seperti kita menjaga hutan ini, ataukah tidak&#8221;.</p>
<p>&#8220;Aku heran satu hal&#8221;, Jagu bangkit.</p>
<p>Verta menoleh ke arahnya, &#8220;Heran apa?&#8221;</p>
<p>Jagu menoleh dan melihat sayap Verta yang dilipat seperti buku, &#8220;Kenapa kau punya sayap seperti kelelawar sedangkan aku seperti kupu-kupu?&#8221;</p>
<p>Verta mengerutkan dahi, ia juga mencoba berpikir.</p>
<p>&#8220;Menurutku ini aneh kalau dikatakan kita bersaudara, tapi kata Luth kita memang bersaudara, tapi kenapa sayap kita berbeda?&#8221;, tanya Jagu kepada Verta.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku juga bertanya demikian, tapi mungkin kita punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh peri-peri lain. Luth hanya memberi kita kemampuan seperti ini, kita harus mensyukurinya&#8221;, kata Verta. Ia bangkit dan berdiri di atas ranjang anyaman itu.  &#8220;Walaupun kita ini berbeda tapi aku tetap menganggapmu sebagai saudaraku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;.sebenarnya perkataanmu itu makin membuatku penasaran, apa yang diinginkan oleh Luth&#8221;, kata Jagu. &#8220;Aku ingin bertemu dengan Luth lagi&#8221;.</p>
<p>Verta mengembangkan sayapnya. Ia pun terbang ke atas.</p>
<p>Jagu bertanya, &#8220;Kau mau ke mana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mau berkeliling sebentar, siapa tahu ada hal-hal yang bisa kutemukan di sekitar sini&#8221;, kata Verta.  &#8220;Aku yakin setelah 200 tahun kita berada di sini pasti ada sesuatu yang baru. Aku ingin menjelajahi daerah timur&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jangan jauh-jauh, kita tak boleh keluar dari hutan ini. Ingat apa yang terjadi padamu ketika kau keluar dari hutan ini&#8221;, kata Jagu.</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;ya, aku tahu&#8221;, kata Verta dengan kesal.</p>
<p>Hutan Fogus adalah hutan yang sangat luas. Verta tidak tahu kalau di sebelah timur hutan ini ada sebuah pekarangan yang sangat luas. Sebuah peternakan yang di peternakan itu ada sebuah rumah yang sangat sederhana. Tampak seorang anak kecil berusia 14 tahun sedang berada di teras rumah mengasah pisau dan anak panah.</p>
<p>&#8220;Nu, kapan kau mau berangkat? Ini sudah siang!! Aku takut kita tak punya makanan. Cuaca beberapa hari ini buruk, dan beruntunglah karena ada matahari. Berburulah!!&#8221;, kata sebuah suara dari dalam rumah.</p>
<p>&#8220;Baiklah bi&#8221;, kata Nu.</p>
<p>&#8220;Cepatlah berangkat!! Penjualan keju kita sudah menurun dan pamanmu belum pulang dari kota sejak 3 hari ini&#8221;, katanya lagi.</p>
<p>Anak itu mengambil busur yang tergeletak di teras. Ia mengeratkan tali sepatunya dan memasukkan pisau belatinya ke sarungnya. Ia mengatur rambutnya yang acak-acakan tertiup angin dingin. Rambutnya yang berwarna hitam berkilau terkena sinar matahari. Ia mengerang lalu berdiri. Ia berlari-lari kecil menghampiri halaman peternakan yang luas.</p>
<p>Baginya ia tak pertama kali berada di hutan. Pamannya selalu mengajarinya untuk bisa memanah dan berburu. Cara mengetahui jejak rusa, dan juga bagaimana cara menyembelih mereka, juga menghindarkan bau darah rusa dari binatang buas lain yang sedang kelaparan.</p>
<p>Serangga-serangga berlarian menghalangi pijakan Nu. Dia menyeberangi halaman peternakan yang puluhan kali lebih panjang daripada tubuhnya itu. Dia sendiri sebenarnya agak merinding juga dengan hutan Fogus. Karena dia pernah mendengar cerita orang-orang di pasar kalau hutan Fogus terkenal angker. Katanya ada 2 hantu yang menjaga hutan ini. Sesaat bulu roma Nu berdiri ketika mengingat-ingat cerita itu. Teman-temannya di kota semisal Jerry, Dra dan Kam tidak menakut-nakutinya dengan cerita-cerita seram.</p>
<p>Semisal cerita tentang seorang saudagar yang hilang setelah memasuki hutan Fogus. Atau seorang anak kecil yang tidak pernah lagi kembali setelah masuk hutan Fogus. Cerita-cerita itu ditepis oleh bibi dan pamannya. Mereka mengatakan, &#8220;Kau itu anak yang pemberani, mana mungkin bisa ditipu cerita murahan seperti itu. Ingatlah kalau ayahmu itu seorang ksatria. Kau harus tiru ayahmu sebagai ksatria juga. Karena warisan ayahmu inilah kau mempunyai peternakan ini dan kami juga merasakan hasil dari kebaikannya&#8221;.</p>
<p>Nu hanya mengangguk-angguk mengingat-ingat lagi kata-kata bibinya itu. Ia tak takut terhadap hutan Fogus. Bahkan kalau perlu ia bisa melawan monster yang lebih besar daripada hutan Fogus&#8211;kalau ada kesempatan. Yang dilakukan oleh seorang pemburu adalah mencari jejak binatang buruannya. Tentunya Nu telah diajarkan untuk mengetahui dan mengenali jejak binatang. Mulai dari binatang buas, melata, bahkan sampai hewan berkaki seribu. Nu juga harus faham berapa jarak yang harus ia lakukan untuk menembakkan anak panahnya. Nu juga harus belajar membedakan air kencing rusa dengan air kencing manusia. Ia masih ingat bagaimana pamannya mengajarinya untuk mencium air kencingnya yang sangat bau. Dengan air kencing rusa yang baunya seperti bau dedaunan.</p>
<p>Pamannya mengajarkan. Kalau ingin berburu rusa, maka ia harus masuk lebih dalam lagi ke hutan. Sebab rusa-rusa hutan tidak mau dekat dengan pemukiman manusia. Mereka lebih baik menjauh dan menghindar. Sedangkan para pemangsa biasanya mereka menjauh dari pemukiman dan memilih tempat yang luas. maka tugas dari seorang pemburu adalah mencari sebuah tempat yang luas di hutan. Yang mana mereka harus berlomba siapa yang paling duluan untuk bisa mendapatkan buruan mereka lebih dulu daripada para pemangsa.</p>
<p>Nu sampai di sebuah tempat dengan air yang mengalir. Berjalan selama satu jam di siang bolong dengan matahari yang hangat membuatnya sedikit lelah. Jalanan terjal dan tidak ia jumpai satupun jejak binatang selama ia berjalan tadi. Ia membawa kompas di celananya yang ia hanya bertaruh pada kompas itu daripada mengikuti kata hatinya untuk menebak arah. Ia tak lupa untuk menandai tiap batang pohon yang ia lewati.</p>
<p>Saat itulah Verta merasakan sesuatu. Ia memicingkan matanya seperti elang. Ia bisa melihat sampai ke tempat yang sangat jauh dan merasakan benak setiap makhluk yang ada di dekatnya. Ia memperluas jangkauan benaknya dan melihat seseorang yang membuat hatinya berdesir. Seorang anak manusia, darah seorang ksatria.</p>
<p>Ada sebuah cerita di Aldemaria. Para peri wanita akan tertarik pada darah seorang ksatria. Ia akan jatuh cinta pada ksatria tersebut, apabila ksatria itu darahnya masih murni dan belum terjamah oleh kejahatan. Verta merasakan detak jantungnya semakin kencang, ia pun menghampiri dan mengawasi Nu dari jauh.</p>
<p>Nu merasakan sesuatu. Ia melirik ke kiri ke kanan. Ia mencium sesuatu yang sangat harum. Ia tak tahu dari mana arah bau yang wangi itu. Tampak pohon-pohon yang ada di sekitarnya menari-nari. Sensasi ini terus-terang membuatnya serasa bergidik. Lalu dari jauh ia melihat sesuatu. Seekor hewan berkaki empat tampak berdiam diri dan waspada. Nu membungkuk dengan perlahan. Ia menyipkan busurnya. Verta melirik ke arah rusa itu.</p>
<p>&#8220;Oh tidak, ia akan mencelakai Sprong!&#8221;, pekik Verta. &#8220;Sprong, pergi dari sana!!&#8221;</p>
<p>Rusa itu tak menggubris. Nu semakin mendekati jarak tembak ke rusa itu. Ia terus berkonsentrasi. Terus terang bau wangi itu mengaburkan indera penciumannya untuk mencium kencingnya rusa. Tapi beruntunglah rusa itu sudah menampakkan diri. Di benaknya Nu bisa membayangkan ia di rumah makan bersama paman dan bibinya dari hasil buruannya.</p>
<p>Verta tak mau tinggal diam. Ia segera melesat dengan kecepatan luar biasa untuk menuju ke arah sang rusa agar segera menghindar. Dan di saat bersamaan Nu sudah pada jangkauan tembak. Ia segera melepaskan anak panahnya, sang rusa tiba-tiba berlari dan Verta terbelalak. Ia tak tahu kalau rusa itu sudah bersiaga untuk hal ini. Yang terjadi adalah panah itu menancap di tubuh Verta yang berusaha melindungi rusa itu.</p>
<p>Nu kaget. Ia tak percaya hal itu. Pikirannya mulai mengarah ke mana-mana. Ia mulai menerawang lagi tentang cerita teman-temannya yang menghantui dia selama ini tentang hantu di hutan yang menyeramkan dan sebagainya. Ia menelan ludah. Verta mengerang kesakitan.</p>
<p>Nu segera menghampiri sesosok makhluk yang baru saja ia temukan itu. Bagi Nu, hal itu amatlah aneh. Kenapa ada makhluk yang tiba-tiba muncul terbang, menghampiri rusa? Apa dia pemakan rusa? Kalau tidak, maka hal itu adalah tindakan terbodoh yang pernah dilakukan oleh makhluk ini. Sebab mungkin saja rusa tadi sudah lebih waspada karena mengetahui kedatangan Nu.</p>
<p>&#8220;<i>Aww&#8230;.sseiyyzz</i>(Aw&#8230;sakiitt)&#8221;, kata Verta dalam bahasa yang sangat asing bagi Nu.</p>
<p>&#8220;Kau tak apa-apa?&#8221;, tanya Nu.  Ia agak ketakutan melihat tubuh Verta. Tubuhnya mendarat di atas tumpukan tempat tidur yang terbuat dari anyaman dan tumpukan rumput. Seakan-akan ia tak pernah menyentuh tanah sedikit pun. Dan di pundaknya tampak anak panah Nu yang menancap.</p>
<p>Verta mengejap-ngejapkan mata. Ia tak percaya ksatria kecil itu mendekatinya dan memanahnya. Baginya panah yang menancap di pundaknya itu adalah panah asmara. Dadanya makin berdesir kencang. Ia takut tak kuat menahannya. Telinganya yang runcing bergerak-gerak seperti sayap kecapung. Sayap kelelawarnya menutup seperti buku. Hal itu tak bisa disembunyikan oleh Verta.</p>
<p>&#8220;Kau punya sayap, apakah kau hantu?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;<i>An legass furr ta</i>(Aku tak mengerti bahasamu)&#8221;, jawab Verta.</p>
<p>&#8220;Aku tak mengerti bahasamu, biar aku bantu mencabutnya&#8221;, kata Nu. &#8220;Maaf atas perlakuanku tadi, salah kau sendiri terbang di depan rusa itu, padahal sang rusa sudah lari duluan&#8221;.</p>
<p>Verta, mulai menembus pikiran Nu. &#8220;Tolong aku!!&#8221;</p>
<p>Nu, tersentak. Ia mundur beberapa langkah, &#8220;Kau baru saja masuk pikiranku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Cabut benda ini&#8221;, bibir Verta tertutup. Nu yakin bahwa makhluk yang ada di depannya itu bicara padanya dengan pikiran.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kau bisa mengerti bahasaku?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Bicaralah dengan pikiranmu, aku tak akan mengerti dengan bahasa mulut manusia&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Nu mengangguk, ia bicara dengan benaknya, &#8220;Bagaimana kau bisa tahu bahasaku, dan bicara dengan bahasaku di dalam pikiranku?&#8221;</p>
<p>Verta menjawab,&#8221;Pada dasarnya pikiran manusia itu satu bahasa. Siapapun orangnya pasti akan faham, bahkan bahasa hewan pun bisa difahami dengan memahami benak mereka&#8221;.</p>
<p>Nu, terkagum-kagum lalu menghampiri Verta. Ia mendekati Verta dan memegang anak panah yang menancap di pundak peri cantik itu. &#8220;Ini agak sakit, tahanlah.&#8221;</p>
<p>Nu hanya mengerti sedikit pengobatan dari pamannya. Ia akan praktekkan cara mencabut anak panah. Ia pegang ujung anak panah dan menekan pundak Verta dengan tangan kirinya lalu ditariknyalah anak panah itu. Verta menjerit sedikit. Darah peri mengalir dari luka itu. Darahnya sama merahnya dengan manusia, namun mempunyai pengaruh lain. Ketika darah itu jauh di atas dedaunan, daun-daun itu langsung mengembang dan menjulurkan untaian tangkainya lalu menutupkan diri di luka sang peri.</p>
<p>Maksud Nu ingin memberikan perban di luka Verta, tapi dedaunan itu telah menutupnya dan membuat sebuah balutan yang tak bisa dibuat oleh manusia. Kejadian ajaib itu membuatnya terperangah.</p>
<p>&#8220;Bagaimana hal itu bisa terjadi?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Mereka menganggap para peri adalah yang membuat mereka hidup. Aku dan kakakku adalah peri penjaga hutan Fogus ini&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Kau punya adik, berarti benar cerita orang-orang bahwa ada dua hantu yang menjaga hutan ini. Mungkinkah itu kalian?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Memang benar ada beberapa manusia yang pernah masuk dan merusak hutan ini. Sebagian mereka tersesat selamanya di hutan ini dan bertahan hidup di hutan, dan sebagian lagi dikutuk menjadi rusa. Salah satunya rusa yang ingin kau buru tadi. Namanya Sprong. Ia adalah anak kecil yang nakal. Ia dikutuk gara-gara ingin membakar sebuah pohon yang di dalamnya ada koloni semut&#8221;, jelas Verta.</p>
<p>&#8220;Maksudmu, rusa tadi sebenarnya adalah rusa jadi-jadian?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Iya&#8221;, kata Verta.</p>
<p>&#8220;Kenalkan namaku Nu Grandia&#8221;, kata Nu sambil mengulurkan tangannya.</p>
<p>&#8220;Aku Verta&#8221;, Verta menundukkan kepalanya sambil meletakkan pergelangan tangannya di dahi.</p>
<p>Nu menganggap itu adalah salam peri. Nu tersenyum. Ia mulai tertarik dengan sang peri. Sesaat ia lupa terhadap tujuannya masuk ke hutan belantara ini. Ini adalah pengalaman pertama kalinya bertemu dengan seorang peri, apalagi sampai melukai sang peri.</p>
<p>&#8220;Aku sedang mencari buruan untuk makan malam, aku ingin minta ijin berburu di hutan ini, kau mengijinkannya?&#8221;, tanya Nu.</p>
<p>&#8220;Jangan berburu di sebelah timur ini. Berburulah di sebelah utara. Sebab di timur ini banyak orang-orang yang dikutuk. Di sini banyak makhluk hidup yang pada mulanya adalah manusia lalu dikutuk menjadi binatang gara-gara mereka melanggar aturan yang ada di hutan ini. Suatu saat mereka akan kembali lagi jadi manusi apabila kutukuannya telah selesai. Daerah timur ini terlarang untuk dijadikan tempat berburu.&#8221;</p>
<p>Nu mengangguk-angguk. &#8220;Tapi daerah utara jauh dari sini, aku harus memutar lagi kalau ke sana&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kau bisa kuajak terbang&#8221;, kata Verta.</p>
<p>Nu terkejut. Verta berdiri dan sayapnya mengembang. Dan ia melihat dedaunan berguguran dari lukanya. Luka itu sembuh. Nu benar-benar dibuat tidak percaya lagi. Ia seakan-akan mimpi melihat hal tersebut.</p>
<p>Verta meraih tangan Nu, &#8220;Pegangan!! Yang lainnya, tolong jangan daerah timur ini!!&#8221;</p>
<p>Nu dengan sekejap sudah berada diantara sela-sela pohon. Ia melayang di udara mengikuti kepakan sayap Verta. Verta membaca sebuah mantra, &#8220;<i>Levirote</i>!!&#8221; Ia melepaskan pegangan Nu. Nu takut jatuh, tapi ia melayang di udara. Ia senang sekali, tapi hanya melayang di tempat.</p>
<p>Sebuah benak menembus pikirannya, &#8220;Anggaplah kau mempunyai sayap, kau bisa terbang sekarang&#8221;</p>
<p>Nu kemudian mengikuti saran Verta. Ia mengayuhkan kakinya di udara dan setelah itu terbanglah ia dengan cepat menabrak sebuah pohon besar. &#8216;BRUUKK!!&#8217;</p>
<p>&#8220;Aww&#8230;!!&#8221;, setelah itu Nu tidak sadarkan diri.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=6&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/03/11/dawn-of-the-dragons-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syahid itu Tinggal Mimpi</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/02/06/syahid-itu-tinggal-mimpi/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/02/06/syahid-itu-tinggal-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Feb 2008 10:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://arczre.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Aku mematut diri di depan cermin. Hari ini presentasi pertamaku. Aku harus terlihat confidence di hadapan dosen dan seluruh teman sekelasku. Kumasukkan seluruh bahan yang kuperlukan ke dalam rangsel hitamku. Kini, aku siap menimba ilmu di kampus. Si mungil HP terdengar merengek dalam tas ku. Tanda masuknya sebuah panggilan baru.. 1 Missed Call Ratih, sahabat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=5&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku mematut diri di depan cermin. Hari ini presentasi pertamaku. Aku harus terlihat confidence di hadapan dosen dan seluruh teman sekelasku. Kumasukkan seluruh bahan yang kuperlukan ke dalam rangsel hitamku. Kini, aku siap menimba ilmu di kampus.<br />
Si mungil HP terdengar merengek dalam tas ku. Tanda masuknya sebuah panggilan baru..<br />
1 Missed Call<br />
Ratih, sahabat setiaku yang memang hari ini ada rencana untuk berangkat bersamaku. Tak kuhiraukan panggilan itu. Paling-paling dia hanya mengingatkanku untuk segera menjemputnya di rumah.<br />
Segera kustarter motorku. Tentunya setelah kupakai helm dan slayer biru kesayanganku. Bismillahirrohmaanirrohiim. Kalimat singkat itulah yang selalu terucap dari bibirku ketika akan memulai segala sesuatu.<br />
Tilililit….tililit<br />
“Eh iya, dah siap presentasi kan? Laporan kemarin gimana? Ah, udah deh, mending ntar dibahas di rumah aja ya”<br />
“Putri….” Suara sengau terdengar dari seberang sana.<br />
“Ya?”<br />
“Kayaknya hari ini aku ga kuliah”<br />
Kuhentikan motorku.<span id="more-5"></span><br />
“Kenapa Tih? Sakit? Ada masalah?” Beruntun pertanyaan kuajukan padanya. Tak ada jawaban. Hanya isak tangis yang kudengar. Ratih menangis? Sungguh sesuatu yang aneh. Ia adalah gadis energik yang pantang putus asa. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Aku terdiam. Kubiarkan ia meluapkan buliran air matanya.<br />
“Ibu Put…Ibu” Hanya kata itu yang kudengar.<br />
Kumatikan starter motor dan kulepas slayer demi mendengarkan cerita singkat Ratih.<br />
“Ibu? Kenapa Ibu?” Pikiranku langsung teringat pada sosok ibu cantik yang hampir dua minggu ini terbaring lemah di rumah sakit karena stroke yang dideritanya.<br />
“Ibu meninggal”<br />
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”<br />
Hatiku runtuh. Air mata ini tak kuasa tertahan. Kata-kata motivasi yang biasanya kuucapkan saat sahabatku menangis pun tak sanggup terucap.<br />
“Put…kok diem? Afwan ya kalo buat kamu ikut sedih. Aku cuman mau ngasih tau aja, kalo hari ini aku ga bisa kuliah. Dah sana kamu brangkat. Ntar telat lho” Ratih sepertinya bisa menangkap rasa sedihku dan berusaha mendinginkan suasana.<br />
“Aku kesana sekarang”<br />
“Lho?Huh Jangan. Sekarang kan harus kuliah. Waktunya presentasi lagi. Mending kalo mau kesini, nanti aja abis kuliah”<br />
“Nggak. Mending aku kehilangan nilai presentasi pertama daripada membiarkan saudaraku disana menangis karena kehilangan ibunya”<br />
“Iya, tapi kan…”<br />
“Assalamu’alaikum” Putusku akhirnya, tanpa mempedulikan kata-katanya lagi.<br />
* * *<br />
“Jadi sekarang mau kemana lagi, Tih?” Tanyaku di sela – sela perjalanan menuju masjid kampus.<br />
“Ga tau lah Put, lama – lama capek juga kalo gini terus. Nyari pekerjaan tuh ternyata susah banget ya. Mana adik – adik udah pada minta bayar SPP lagi” Jawabnya dengan nada lelah.<br />
Sudah hampir seminggu ini Ratih mondar mandir mencari pekerjaan untuk menghidupi kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Berbagai cara ia tempuh. Mulai dari melamar ke beberapa perusahaan besar, mengajukan diri sebagai pelayan di restoran, sampai menawarkan diri untuk bekerjasama dengan sebuah Lembaga Bimbingan Belajar. Namun semuanya belum memberikan hasil pasti. Perusahaan yang bergelut di bidang informasi teknik serta merta menolak lamaran Ratih hanya karena tahu bahwa Ratih adalah seorang muslimah taat yang berkerudung. Begitu juga dengan restoran Fast Food yang sempat didatanginya beberapa hari yang lalu. Tanpa pikir panjang, pihak manajemen langsung menyatakan menolak lamaran begitu tahu kalau Ratih adalah wanita yang berkerudung. Entah apa yang ada d benak para manager itu tentang seorang wanita yang berkerudung. Sosok wanita berkerudung seakan – akan menjadi momok bagi mereka. Ah, ga tau lah. Sulit memang kalo bahas hal seperti ini. Hanya pihak LBB lah yang bersedia menerima keberadaan Ratih. Namun sampai saat ini masih belum memberikan hasil. Pihak LBB berjanji akan menelepon jika ada murid yang memerlukan tenaga otak Ratih untuk mengajarnya. Namun hingga detik ini kabar itu belum juga terdengar.<br />
“Put” Sapanya tanpa ekspresi. Pandangannya menyentuh lantai tangga masjid yang kami lalui.<br />
“Hmm” Jawabku enteng, sama dengan sapaannya barusan. Tetap tanpa ekspresi apapun.<br />
“Ga jadi deh”<br />
“Llhhhoooo?Huh Napa sih? Mo ngomong kok ga jadi?” Tanyaku terheran heran dengan sikapnya.<br />
“Ga ah. Lupain”<br />
Ratih menghela nafas. Aku mulai menangkap perasaannya. Pasti ada satu hal penting yang ingin ia sampaikan. Pandangan matanya terlalu sulit untuk menyembunyikan sebuah rahasia.<br />
“Kenapa ukhti?” Bisikku halus.<br />
Ratih masih tertunduk dengan ribuan tanda tanya. Kedua telapak tangannya menyatu dan meremas jari yang satu dengan lainnya. Bibir bawahnya digigit. Sungguh. Gerakan tubuhnya menunjukkan ada sebuah batu ganjalan yang tersemayam di dadanya.<br />
“Misal….aku putus kuliah gimana Put?” Tanyanya akhirnya.<br />
“Jangan” Kata itu spontan keluar dari bibirku dengan nada lumayan mengagetkan.<br />
“Kamu tuh kakak pertama Tih. Harus bisa teladan buat adik – adik kamu. Sekarang kalau kamu mau memutuskan kuliah, lalu gimana dengan adik – adik kamu?”<br />
“Aku pengen kerja”<br />
“Kerja ga harus putus kuliah kan? Sekarang dalam status “mahasiswa” aja kita masih kesulitan nyari pekerjaan. Gimana kalo ga kuliah?”<br />
“Tapi aku udah ga kuat Put. Aku capek. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Kamu liat sendiri gimana Dini minta SPPnya segera dilunasi? Belum lagi setelah lulus SMA dia mau ikut SPMB dan meneruskan kuliah. Kamu juga tau sendiri gimana Nabil merengek minta dibelikan tas baru? Aku ga tega liat mereka. Aku harus berubah. Aku harus bisa mengalah. Aku ingin melihat kedua adikku bisa tersenyum bangga” Aku terdiam. Mutiara bening Ratih pecah di sela – sela cericit burung di kampusku. Kugenggam tangannya. Kubisikkan sebuah kata di telinga kirinya “Laa tahzan ya ukhti. Laayukallifullaha nafsan illa wus’aha”<br />
***<br />
Pengumuman IP semester keempat sudah keluar. Alhamdulillah, pangkat cum laude masih bertengger di bahu prestasiku. Pintu Ruang Dosen terbuka. Kulihat sosok seorang wanita berkerudung keluar dengan sorot mata tak bersahabat. Ada apa lagi dengan gadis itu?<br />
“Assalamu’alaikum” Sapaku sambil menjabat tangan.<br />
”Wa’alaikumsalam”<br />
“Gimana non, IPnya?”<br />
“Ga usah Tanya IP deh Put”<br />
“Lho? Kok???”<br />
“Aku kan udah bilang, aku pengen berhenti kuliah. Semangatku kuliah udah abis, Put. Dan lihat IPku semester ini. Semua merosot drastis. Pengantar manajemenku hanya dapat BC. BC Put. Nilai apa itu? Padahal dari semester ke semester aku selalu mendapat nilai A” Katanya sambil menunjukkan Indeks Prestasinya padaku.<br />
“Udah lah, ngapain pusing sih. Nilai BC kan masih bisa diperbaikin. Tenang ajaaaa. Buktinya, dulu aku sempet dapet nilai C, dan ternyata sekarang malah dapet A. Bisa kan?” Hiburku sambil merangkulnya dan mengajaknya berjalan menuju kantin. Sepertinya ia menurut saja dengan ajakanku.<br />
“Baksonya dua Pak” Pesanku pada pedagang bakso di kantin.<br />
“Aku ga deh, Put. Jeruk anget aja satu” Katanya sambil menyatukan kepalanya dengan lengan di atas meja.<br />
“Ya udah deh Pak. Baksonya ga jadi. Jeruk angetnya aja dua ya Pak” Putusku akhirnya. Tak mungkin aku menikmati bakso seorang diri, sedang di sebelahku, saudaraku sedang sedih dengan kondisi bathin yang berkecamuk.<br />
Kutepuk pundaknya. “Diminum dulu, biar agak tenang” Lagi – lagi Ratih menurut.<br />
Suasana sepi. Tak ada perbincangan diantara kami. Dari tadi Ratih hanya terdiam sambil menikmati minuman di depannya. Sedangkan aku sudah lelah mencari bahan pembicaraan. Hari ini sepertinya Ratih benar – benar shock dengan masalahnya. Aku paham. Kubiarkan saja ia terdiam lama. Mungkin ia ingin berkomunikasi dengan dirinya sendiri.<br />
***<br />
Tiga hari sudah aku berangkat kuliah tanpa Ratih. Ia sakit. Kata dokter, Ratih menderita asma akut. Kasihan juga melihatnya semakin hari semakin kurus saja. Matanya seringkali terlihat sembab. Mungkin karena terlalu banyak butiran air mata yang dikeluarkannya.<br />
Belakangan ini tingkah lakunya sedikit berubah. Keaktifannya di UKKI semakin berkurang. Sholatnya sering telat. Beberapa hari yang lalu ia sempat menceritakan kegalauan hatinya. Ratih mengalami futur iman.<br />
“Aku butuh duit, Put. Shalat dan aktif di UKKI ga bisa ngasih uang” Katanya suatu ketika di sela – sela obrolan kami di kamarnya.<br />
“Astaghfirullahal’adzim Ratih! Istighfar!”<br />
Kalimat istighfar pun berkali kali dibisikkannya.<br />
“Aku futur Put. Tapi aku bingung gimana cara menghadapi masalah ini. Aku ingin shalat, tapi disisi lain aku merasa percuma. Selama ini aku shalat. Tapi apa hasilnya? Ibu meninggal. Dan sekarang….sekarang aku sulit mendapat pekerjaan. Katanya Allah selalu menolong HambaNya. Tapi mana, Putri?”<br />
“Sabar Tih. Semua pasti ada hikmahnya kok. Bantuan Allah pasti dateng. Kita berusaha aja ya”<br />
“Udah lah. Aku udah capek dengan semua teori itu. Kita berusaha aja ya, semua pasti ada hikmahnya. Ah, teori Put. Aku pengen lepas kerudungku. Mungkin dengan cara itu aku bisa mendapat pekerjaan yang bisa menghidupi keluargaku” Ratih berdiri. Dicangklongnya tas merah jambu miliknya. Kemudian berlalu dari hadapanku.<br />
Ratih masih belum masuk kuliah. Entah ia masih sakit atau memang sengaja bolos. Hari ini aku berniat menjenguknya. Lagipula sudah lama aku tidak bersilaturrahmi dengan kedua adiknya. Dini dan Nabil.<br />
“Assalamu’alaikum” Sapaku setelah melepas helm dan slayer yang kupakai.<br />
“Wa’alaikumsalam. Eeh, mbak Putri. Masuk, Mbak” Jawab Dini yang asyik makan masih dengan seragam SMA yang belum dilepasnya.<br />
“Wah, enak banget nih makanya”<br />
“Hehehe” Tawanya manja sambil melahap suapan selanjutnya.<br />
“Mbak Ratih mana, Din? Udah sembuh sakitnya?” Tanyaku berbasa basi sambil duduk di sampingnya. Sebenarnya aku bisa saja langsung meluncur ke kamarnya dan melihat langsung keadaannya. Namun rasanya kurang pantas bertamu langsung menuju kamar tuan rumahnya.<br />
“Ada tuh di kamar. Sakitnya udah mending kok mbak. Cuman ga tau tuh, males kuliah katanya”<br />
“Ya udah deh, mbak Putri ke kamarnya dulu ya”<br />
Dini mengiyakan. Kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga. Memang, kamar Ratih berada di tingkat dua.<br />
“Mbak Putri” Dini memanggilku. Spontan kuhentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.<br />
“Ntar kalo ngobrolnya dah selesai, ajarin aku matematika doong. Bentar lagi UAS nih. Pliiiiis” Mohonnya sambil menyatuka kedua telapak tangannya.<br />
“Insya Allah” Kataku sambil tersenyum. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar Ratih.<br />
Kuketuk pintu sambil mengucap salam. Kulihat Ratih asyik membaca sebuah buku di atas kasur.<br />
“Assalamu’alaikum”<br />
“Wa’alaikumsalam. Masuk Put” Jawabnya tanpa mengalihakn pandangan dari buku yang bersemayam di genggamannya.<br />
“Ganggu ga nih?”<br />
“Ga, biasa aja lagi. Gimana tadi kuliahnya?” Tanya sembari membalikkan tubuhnya menghadapku.<br />
“Kok lama ga kuliah sih? Kata Dini sakitnya dah sembuh?” Tanyaku menyelidik. Seketika itu pula Ratih bangkit dari tidurnya. Buku yang dari tadi tak lepas dari pandangannya kini ditutupnya. Ia memandangku dengan wajah geram. Apa yang salah dengan pertanyaanku?<br />
“Emang yang boleh ga masuk kuliah tuh cuman orang yang sakit ya?”<br />
Aku tersenyum. “Jangan senewen gitu dong non. Ditanya baik – baik kok jawabnya gitu sih? Ga baik lho”<br />
“Aku udah kerja, Put. Waktuku padat. Aku dapet shift pagi sama malem”<br />
“Oh ya? Alhmadulillah….selamat ya. Kerja dimana?”<br />
“Di Restoran” Jawabnya singkat seolah – olah menginginkan aku secepat mungkin mengehentikan runtutan pertanyaan itu.<br />
“Hmm….trus kul….”<br />
“Stop! Aku udah bilang. Aku tuh sibuk, Put. Lagian adik – adikku masih butuh uang banyak. Kalaupun aku gagal kuliah, kan nanti adikku bisa meneruskannya. Yang jelas aku ga mau kalau kedua adikku sampai putus sekolah”<br />
“Mbak Ratiiih….beliin bubur ayam dong. Nabil mau maem” Tiba – tiba sesosok tubuh mungil muncul di depan pintu kamar. Rupanya itu nabil, adik kandung Putri yang masih berusia enam tahun.<br />
“Eeeeh….baru bangun kok langsung minta maem. Mandi dulu gih biar seger. Tuuuh, Mbak Ratih bikinin nasi goreng buat Nabil. Hari ini ga usah beli bubur ayam dulu ya” Kulihat wajah polos Nabil sempat menunjukkan muka masam. Mungkin ia sedikit kecewa dengan keputusan kakaknya. Tubuh kecil tanpa dosa itu pun akhirnya pergi.<br />
“Aaaaaaaaaaarrrgggghhhhh…..”<br />
“Nabil!!!! Astaghfirullaha’adzim. Mbak Ratih….. Nabil, Mbak” Teriakan histeris Dini mengagetkan kami. Spontan kami pun berlari ke tempat suara itu berasal.<br />
“Nabil!!!!” Kepanikan Ratih memuncak ketika dilihatnya tubuh mungil Nabil tergeletak dengan darah mengucur di pelipis kirinya. Rupanya ia terpeleset saat menuruni tangga. Tanpa dikomando, aku berlari ke kamar ratih untuk mengambil beberapa obat yang kurasa bisa sedikit meringankan sakit nabil.<br />
“Kepalanya bocor, Tih. Dibawa ke rumah sakit aja. Kalo ga gitu bisa fatal” Saranku.<br />
Aku duduk di bangku putih Rumah Sakit tempat Nabil dirawat. Kepalanya mengalami pendarahan cukup banyak. Dari tadi kulihat Ratih dengan wajah cemasnya tak henti – hentinya mondar – mandir di ruang ICU.<br />
“Duduk dulu, Tih. Banyak istighfar” Saranku kemudian.<br />
“Istighfar? Eh, Putri Maulani yang baik….istighfar tuh ga bisa nyembuhin Nabil”<br />
“Oh ya? Trus? Apa dengan mondar – mandir kayak gitu bisa nyembuhin Nabil?”<br />
“Alah! Udahlah Put. Aku males berdebat. Kita udah beda. Kamu punya argumen, aku juga. Sepertinya jalan pikir kita udah beda Put”<br />
Kalimat istighfar terlantun dari bibirku. Allah….berilah saudaraku kekuatan tuk melewati batu ujianMu.<br />
***<br />
Nabil sudah diperbolehkan pulang kerumah. Mujahid kecil itu hanya menginap dua hari di rumah sakit. Kini, senyum ceria dan polah tingkah lincahnya mulai menghiasi griya mungil peninggalan ibunda Ratih.<br />
Makin hari kulihat makin banyak perubahan terjadi di keluarga kecil Ratih. SPP Dini sudah terlunasi. Bahkan ketika gadis itu minta dibelikan sebuah ponsel, tanpa pikir panjang Ratih segera membelikannya. Juga ketika Nabil merengek minta dibelikan mobil – mobilan dengan harga yang relatif menguras kantong bagiku. Ratih pun lagi – lagi menuruti keinginan adiknya. Rupanya Ratih sudah dapat menikmati hasil keringatnya selama ini. Alhamdulillah.<br />
“Mbak Ratih ga ada, Mbak Put. Masih kerja. Mungkin orang yang maem di restorannya belom kenyang” Jawab si kecil nabil ketika suatu hari kudatangi rumahnya untuk bersilaturrahmi.<br />
“Iya Mbak. Lagi lembur kali.” Timpal Dini yang baru keluar dari kamar mandi.<br />
“Emang biasanya Mbak Ratih pulang jam brapa, Din?”<br />
“Ga mesti sih. Biasanya jam setengah sepuluh. Tapi kadang juga sampe malem. Mbak Ratih tuh sibuk, Mbak. Kalo pagi, jam sembilan dia udah berangkat. Waktu Mbak Ratih berangkat, aku masih sekolah. Trus waktu pulang, aku sama Nabil udah bobok. Jadi jarang banget ketemu. Untung udah ada Mbak Ina yang mau ngerawat Nabil dan masakin makanan buat kita” Paparnya panjang lebar sambil mengenalkan pembantu barunya.<br />
“Mbak Ratih kerja di mana?”<br />
“Ga tau Mbak. Katanya, ga penting. Yang jelas di restoran katanya. Mbak Putri nginep sini aja. Sekalian nemenin kita”<br />
Tiga jam sudah aku becanda ria dengan mujahid dan mujahidah ini. Namun Ratih belum juga kelihatan batang hidungnya.<br />
“Din, bener Mbak Ratih kalo pulang biasanya malem? Ini udah jam satu dini hari lho” Tanyaku mulai khawatir.<br />
“Ga tau nih Mbak. Biasanya sih paling malem jam sebelas. Tapi kadang juga pernah nginep kok. Begitu pulang udah shubuh”<br />
Rasa penasaran mulai menguasai diriku. Pekerjaan apa sebenarnya yang dilakukan Ratih. Jangan – jangan…..ah. Kok tiba – tiba aku bersu’udzon. Sudahlah, mungkin Ratih memang ada sedikit urusan. Mungkin salah satu rekannya memintanya untuk tidur di rumahnya. Mungkin besok Ratih harus masuk pagi, sehingga dia memilih untuk menginap, agar besok tidak terlalu terlambat datang ke tempat kerja. Atau mungkin benar juga kata Nabil. Mungkin orang yang maem disana belum kenyang. Hihihi…ingin rasanya tertawa mengingat celoteh jundi polos itu.<br />
Berbagai prasangka positif berusaha kubentuk dalam otakku. Sudah jam dua belas malam. Kedua adikku pun sudah terbuai dalam mimpi indahnya. Demikian juga dengan Mbak ina, sang pembantu tangguh yang tak kenal lelah mengurusi rumah ketika Ratih sibuk dengan pekerjaannya.<br />
***<br />
Pagi menyeruak. Sang jago mulai menyombongkan kokok merdunya dengan angkuh. Mentari pagi sudah memancarkan sinar indah keemasannya. Embun pun mulai hinggap dan menyegarkan setiap ujung daun.<br />
Kulihat jam dinding yang tergantung di kamar Ratih. Sudah shubuh. Segera aku membuka pintu kamar dimana Dini dan Nabil masih terlelap. Mungkin Ratih tidur disitu.<br />
Kreeeek….<br />
Decit pintu terdengar lumayan keras dan sempat menggeliatkan tubuh mungil Nabil. Namun sosok Ratih tak kulihat. Kututup kembali pintu kamar itu. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Siapa tahu Ratih ketiduran disana. Namun lagi – lagi aku dikecewakan. Ratih tak juga kutemui. Saudaraku….apa yang terjadi padamu?<br />
“Udah bangun Mbak?” Suara Dini membuyarkan lamunanku.<br />
“Eh, iya nih. Udah shubuh. Shalat jama’ah yuk” Dini pun mengiyakan dan segera mensucikan diri tuk menghadap Sang Pemilik Jagad Raya.<br />
Kriiiiiiing……<br />
Mbak ina dengan sigap mengangkat gagang telepon.<br />
“Assalamu’alaikum” Sapanya ramah.<br />
“Wa’alaikumsalam. Betul ini rumah saudari Ratih Septianingrum?” Tanya suara di seberang sana.<br />
“Benar. Tapi Mbak Ratih nya lagi ga ada tuh Pak”<br />
“Justru kami menelpon untuk mengabarkan keadaan saudari Ratih”<br />
“Sini Mbak” Tiba – tiba Dini menghampiri mbak ina dan mengambil alih gagang telepon.<br />
“Maaf, ada apa ya dengan kakak saya?” Tanya Dini.<br />
“Kami dari rumah sakit Graha Medika, mau mengabarkan bahwa saudari Ratih telah meninggal dunia karena kecelakaan?”<br />
“Semalam ada razia PSK di kawasan lokalisasi. Saudara Ratih berusaha melarikan diri dari kejaran aparat. Namun Saudari Ratih terserempet sebuah mobil saat akan menyeberang”<br />
“B….ba….baik. Saya akan segera kesana, Pak”<br />
Telepon ditutup. Nabil masih menguap walaupun air wudhu telah mengguyur mukanya..<br />
“Kenapa Mbak Ratih Din?” Tanyaku menghampiri Dini yang terbengong setelah menutup gagang telepon.<br />
Dini memelukku erat. Erat sekali. Butiran bening menetes di kedua pelupuk matanya.<br />
“Mbak Ratih meninggal”<br />
“Innalillahi wa inna’ilaihi roji’un….” Air mata pun tak sanggup lagi kutahan. Nabil berlari menghampiriku. Tangisnya pecah.<br />
“Kenapa Mbak Ratih? Katanya Mbak Ratih janji mau bawain siomay kalo Nabil ga nakal. Dari kemaren kan Nabil ga nakal”.<br />
“Mbak Ratih jahat. Kenapa dia tega boong sama kami? Kenapa dia bilang kerja di restoran? Kenapa Mbak?” Sesal Dini di sela – sela tangisnya. Tak ada sepatah kata pun yang sanggup kuucapkan. Hatiku sakit bagai terhujam pedang.<br />
“Pantes waktu itu aku sempet liat Mbak Ratih masukin thank top sama rok mini ke tas nya. Katanya buat temennya yang titip dibeliin di pasar. Mbak Ratih jahat. Jahaaaat!!!! Penipu”<br />
“Mbak Ratih syahid ya  Mbak. Kata Mbak Ratih kan kalo orang yang rajin sholat, trus kecelakaan, abis itu meninggal, langsung masuk syurga ya Mbak?” Tanya Nabil.<br />
Aku dan Dini serentak menoleh ke arah adik cerdas itu. Kurangkul tubuhnya. Kupeluk kedua adikku erat. Lebih erat daripada pelukanku bersama Ratih di kamarnya beberapa hari yang lalu.<br />
***</p>
<p>Dua lembar akasia putih luruh di atas kerudung putihku. Ratih dan Nabil sudah pulang bersama warga. Aku duduk di samping nisan bertuliskan namanya.<br />
“Ukhti….inikah Syahid yang dulu kau cita – citakan? Lupakah kau dengan semangat jihad kita? Lupakah dengan mandat khalifah yang diberikan oleh Sang Khaliq? Mana jubah besar itu ukhti? Mana kerudung panjangmu? Kau bimbing kedua adikmu untuk menjadi pejuang sejati. Kau bimbing adik gadismu tuk mengenakan pakaian yang baik. Kau ajarkan adik kecilmu beberapa ayat pendek, bacaan shalat, bahkan kau jelaskan mengenai syahid yang kau cita – citakan. Namun kemana Ratih Sang Mujahidah itu, wahai ukhti? Kemana?” Bening di mataku terus mengalir. Kuremas segenggam tanah. Ingin kuberteriak. Namun untuk apa? Tak ada lagi yang perlu disalahkan dan disesali. Syahid yang dulu Ratih cita – citakan kini hanya sebuah mimpi belaka.<br />
Akasia semakin runtuh dan berserakan di sekitarku. Kulangkahkan kakiku meninggalkan peristirahatan terakhir Ratih<br />
Allah….semaikan benih keistiqomaahan pada hambaMu yang dhoif ini.</p>
<p>ditulis oleh <a href="http://n4yl4.multiply.com/" title="Situs Nayla" target="_blank">nayla</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=5&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/02/06/syahid-itu-tinggal-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://arczre.wordpress.com/2008/01/31/hello-world/</link>
		<comments>http://arczre.wordpress.com/2008/01/31/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jan 2008 14:10:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>arczre</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Hello World adalah hal yang pertama kali tertulis di Blog. Hello World juga adalah sebuah permulaan yang akan mengawali setiap langkah dan juga setiap testing dan percobaan terhadap sesuatu. Hello World juga adalah sebuah kalimat yang akan terucap untuk mengawali perkenalan, dan juga pembuktian diri bahwa orang yang mengucapkannya adalah orang-orang yang berani. Jadi, Hello [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=1&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hello World adalah hal yang pertama kali tertulis di Blog. Hello World juga adalah sebuah permulaan yang akan mengawali setiap langkah dan juga setiap testing dan percobaan terhadap sesuatu. Hello World juga adalah sebuah kalimat yang akan terucap untuk mengawali perkenalan, dan juga pembuktian diri bahwa orang yang mengucapkannya adalah orang-orang yang berani.</p>
<p>Jadi, Hello World. Enjoy saja pikiran dan uneg-unegku tentang novel di blog ini. Semoga kalian menyukainya. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/arczre.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/arczre.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/arczre.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/arczre.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=arczre.wordpress.com&amp;blog=2683163&amp;post=1&amp;subd=arczre&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://arczre.wordpress.com/2008/01/31/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7b509377e3ac542780eee2601e16f10?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">arczre</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
