jump to navigation

Dawn of The Dragons – bag 5 March 21, 2008

Posted by arczre in Adventure, Fantasy.
Tags: , ,
trackback

Bertahan 2

Jagu bergolak hatinya ketika para monster ciptaannya dengan mudah dicabik-cabik oleh Yarma. Naga hijau itu ternyata lebih kuat daripada dugaannya selama ini. Dia mencoba untuk tetap bisa tegar menghadapi Yarma, walaupun mengetahui tak akan mungkin dia bisa menang melawan sang naga. Luerthe benar-benar berambisi untuk bisa mengalahkannya. Keseriusannya itu sudah terbukti. Tiga monster pohon raksasanya dikalahkan dengan dicabik-cabik oleh Yarma dengan brutal. Sang naga terbang ke langit hingga seolah-olah tak bisa dijangkau oleh siapapun. Lalu hewan itu berbalik dan menukik ke bawah.

Apabila dua orang penyihir bertempur, mereka menggunakan kekuatan pikiran mereka untuk menjatuhkan lawan. Itulah yang dilakukan oleh kedua orang ini. Selain berhadapan langsung, mereka juga saling berperang dalam benak mereka. Jagu mencoba membobol isi pikiran Luerthe dan juga sebaliknya Luerthe mencoba menembus pikiran Jagu. Keduanya benar-benar bertempur antara kenyataan dan maya.

“La Zarathu”, kata Jagu.

Jagu menumbuhkan akar-akar pohon lalu membentuk ribuan anak panah secara alami dan kemudian membentuk busurnya. Ribuan panah itu terarah ke Luerthe dan Yarma. Kecepatan naga itu semakin cepat ke bawah, seolah-olah ingin langsung menghantam Jagu yang ada di bawah sana. Dan ketika Luerthe dan Yarma sudah semakin dekat, Jagu menunjuk ke arah Luerthe dan Yarma. Langsung saja ribuan anak panah menghantam ke duanya. Namun Yarma dan Luerthe berpisah. Luerthe melesat menjauh dari Yarma, sehingga ia tak terkena anak panah. Sayap Yarma terkena panah tapi ia masih bisa sempat menghindar. Luerthe lalu mendarat dengan sukses di atas tanah hutan Fogus.

Jagu menghantamkan tangan kanannya ke tanah sampai pergelangannya masuk ke tanah. Luerthe yang baru saja berdiri dengan sempurna harus dikejutkan lagi dengan akar-akar pohon yang mengejarnya, pohon-pohon yang hidup mencoba untuk meraih dan menyerangnya. Luerthe pun mengeluarkan pedangnya. Ia tebas akar-akar itu dan berbagai serangan dari tumbuhan yang tiba-tiba menjadi hidup. Hutan Fogus menjadi hidup dan benar-benar membuat suasana hutan itu makin kian panas oleh pertempuran antara dua orang yang hebat.

Yarma terbang berputar. Ia melihat para penyihir yang membentuk pelindung untuk Hutan Fogus, sehingga para Wyverd tidak bisa masuk ke dalam hutan tersebut. Matanya menatap tajam kepada para penyihir itu, nafasnya berat dan tampak asap keluar dari hidungnya. Api keluar dari mulutnya dan ia pun menukik ke arah para penyihir dengan kecepatan yang hebat. Para penyihir menyadari hal ini. Mereka membentuk pertahanan. Dan mengucapkan mantra-mantra.

“Bodoh!!”, Yarma masuk ke dalam benak mereka. Dan telinga mereka langsung mengeluarkan darah. Ketika mereka mengerang kesakitan itulah Yarma menyemburkan apinya. Para penyihir itupun terbakar dan sebagian digigit oleh naga hijau itu dan membawanya terbang. Di udara ia mengoyak penyihir itu dan menguyahnya, lalu menelannya. Para penyihir itu ketakutan dan sebagian di antara mereka lari. Wyvern-wyvern itu mengetahui kalau pertahanan telah bobol dan segera saja mereka masuk ke Hutan Fogus. Meka mendarat dan berlari di antara pepohonan untuk menembus pertahanan Aldemaria. Namun mereka juga direpotkan oleh pohon-pohon yang tidak mengijinkan mereka untuk bisa masuk lebih jauh ke dalam hutan terlarang itu.

Jagu lalu mencabut tangannya dari bumi lalu ia pun seperti mengambil sebilah pedang yang berwarna hijau keputih-putihan. Di pinggirnya terdapat ukiran-ukiran bahasa kuno. Pelindung pedangnya terbuat dari logam yang sangat khusus, ditempa dengan platina, dan membentuk sebuah ukiran seni yang hanya dimengerti oleh keagungan para peri. Gagangnya terbuat dari kayu yang paling baik. Jagu lalu melayang di udara mengepakkan sayap kupu-kupunya. Rambutnya yang panjang dan berwarna putih berkibar-kibar di saat ia melayang menghantam angin yang berhembus di sela-sela pepohonan.

Dari kejauhan ia bisa melihat Luerthe yang bertarung melawan akar-akar pohon. Jagu bersiap untuk menebasnya dengan tebasan pertama, mungkin dengan sekali ayunan pikir Jagu. Namun ternyata Luerthe lebih siaga, ia dengan cepat tanggap menyingkirkan akar-akar pohon yang menghalangi jalannya, lalu menahan serangan Jagu yang kekuatannya menggetarkan tubuh mereka berdua ataupun orang yang mendengarkan dentingan suara pedang mereka beradu.

“Haa..!! Mengabdilah pada Dedgard, dan kau akan kuampuni”, kata Luerthe.

“Tak akan!”, balas Jagu.

Mereka pun akhirnya terlibat dengan adu pedang. Luerthe melawan Jagu dengan ratusan akar-akar yang terus menjalar dan pohon-pohon yang terus menyerangnya. Dan juga melayani adu pedang dengan peri itu. Jurus demi jurus mereka arahkan ke lawan mereka. Luerthe dengan cukup lincah bisa menghindari dan menahan serangan dari Jagu. Luerthe berguling ke sana ke mari dan berlindung di balik pohon ketika Jagu ingin menebasnya. Namun Luerthe tak berhenti di situ saja, ketika Luerthe bersembunyi di balik pohon Jagu pun menebas pohon tersebut, sehinga hal ini membuat Luerthe makin senang dan makin menikmati pertempuran ini.

Jagu mendengar suara-suara Wyvern yang mulai masuk hutan, jeritan-jeritan yang sangat khas itu bisa dia dengar dari jarak yang masih mencakup wilayah hutan Fogus. Suara itu juga di dengar oleh Verta yang saat ini hampir ke luar dari hutan bersama Nu. Ia berbalik dan berteriak, “Breitaaa (Kakaaak)!!”

Nu ikut berbalik dan melihat Verta yang kelihatannya khawatir dengan keadaan Jagu. Ia menghampiri Verta lalu bertanya, “Apa kita harus kembali?”

Verta terdiam, dan benaknya mulai bicara, “Aku sebenarnya tak ingin meninggalkan kakak”.

“Baiklah kita kembali”, kata Nu sambil melangkah kembali tapi Verta mencegahnya.

“Tidak, kita tetap harus pergi!! Maafkan keegoisanku”, kata Verta.

Nu mengangguk. Mereka berdua melewati sebuah jalan berbatu dan akhirnya berakhir di sebuah danau yang airnya tenang, seolah-olah tidak pernah tersentuh oleh apapun. Nu kemudian berjalan mendekat ke danau tersebut. Verta tiba-tiba lemas, ia terjatuh. Nu terkejut dan berbalik.

“Kenapa?”, tanyanya sambil membantu Verta untuk bangkit.

“Kekuatanku melemah, kita sudah keluar dari hutan Fogus”, kata Verta.

“Katamu kekuatanmu akan baik-baik saja”, kata Nu.

“Iya”, jawab Verta dengan yakin.

“Lalu, kenapa kau begini?”, tanya Nu.

“Peralihan kekuatan. Kekuatanku dan kakak terbagi, ketika aku berada di hutan Fogus, kekuatan kami hanyalah separuh dari kekuatan kami kalau kami tidak bergabung. Tapi ketika aku keluar dari hutan ini, siapapun yang ada di dalam hutan Fogus berhak mendapatkan seluruh kekuatan dari siapa yang keluar darinya”, jelas Verta. “Kini kekuatanku sedang bergerak meninggalkan tubuhku untuk menjadikan kekuatan kakakku sesungguhnya”.

“Celaka, kalau begitu kau bisa mati”, kata Nu.

“Tidak, Luth akan mengisi kekuatanku dengan kekuatan yang baru kalau aku masuk ke danau itu”, kata Verta. “Masukkan aku ke sana, Luth akan memberiku kekuatan”

Nu kemudian membopong tubuh Verta untuk bisa masuk ke dalam danau. Tubuh peri ternyata tak begitu berat, pikir Nu. Verta hanya tersenyum kecil, seolah-olah ia tahu pikiran pemuda ini. Air danau itu bergelombang ketika tubuh ke duanya masuk ke sana. Verta lalu diturunkan oleh Nu. Ia menyaksikan Verta berjalan perlahan menuju tengah danau, diiringi suara gemercik yang halus, seperti buaya yang masuk ke dalam air. Kemudian sedikit demi sedikit tubuh Verta masuk ke danau dan ia tenggelam. Nu hanya berdiri di tempatnya tak mengerti apa yang harus dia lakukan.

Suara binatang malam kini terdengar nyaring. Jangkrik-jangkrik kecil, kumbang-kumbang, dan berbagai hewan-hewan lainnya mulai bernyanyi. Nu melihat bintang jatuh di langit, dan dari atas danau ini Nu bisa melihat bintang-bintang dengan jelas. Malam tanpa bulan ini serasa sunyi ditambah lagi dengan Verta yang masih lama di dalam air. Pikiran Nu kembali kepada Verta. Seorang peri cantik yang membuat hatinya bergetar. Seorang peri yang bakal mendampinginya dalam mencari Dragon Lord. Seorang yang mungkin nanti akan mengisi hidup-hidupnya. Nu mendesah dan menghambil nafas panjang. Ia menoleh kiri kanan dan melihat ke belakang. Ia tak tahu apa yang terjadi di belakang sana. Tubuhnya telah lelah. Ia ingat kalau dia belum makan siang hari ini. Ia terlalu disibukkan dengan berbagai urusan yang mengejutkan dua hari ini. Dan sekarang ia berada di sebuah danau yang misterius dengan seorang peri yang cantik menyertainya.

Nu merasa ia terlalu lama berdiri di sana, ia mencoba menghitung. Ia bilang pada dirinya sendiri akan menghitung sampai enam puluh. Mungkin setelah itu Verta akan keluar. Ia pun menghitungnya. Dari satu, sampai ke tiga puluh ia resah. Dan setelah bilangan enam puluh itu tersentuh ia tambah khawatir. Kenapa Verta sangat lama sekali berada di dalam danau itu. Bahkan tak muncul gelembung udaranya. Apakah Verta bunuh diri? Tak mungkin seorang peri bunuh diri. Nu berpikir Verta mungkin mempunyai ingsang yang tersembunyi di balik tubuhnya yang bisa membuatnya bernafas. Ia bersedekap. Dan mendesah lagi. Ia coba menghitung lagi dan kalau sampai hitungannya habis ia akan bertanya kepada Verta apakah dia baik-baik saja. Ia hitung lagi dan sampai ke bilangan terakhir.

“Verta kau baik-baik saja?”, tanya Nu. Tak ada jawaban. Mungkin karena di dalam air, jadinya Verta tak bisa mendengar pikir Nu. Eh, apa hubungannya? Akukan bicara dengan benakku.

Nu segera berlari menuju ke tengah danau, namun sebelum ia melangkahkan kakinya untuk ke tiga, dari tengah danau muncullah sebuah kepala. Nu tak melanjutkan langkahnya. Di hadapannya ada seorang wanita yang sangat cantik dengan gaun putihnya, telinganya masih runcing. Dan sayap hitamnya yang membuka lebar. Kepalanya mendongak dan menghirup udara dengan bebas. Tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu kehabisan nafas. Saat itu juga Nu mengira Verta punya ingsang.

“Aku tak punya”, kata Verta dengan mulutnya. “Kau pikir aku ini apa?”

“Oh,…kukira”, kata Nu lega. Tapi ia terkejut kemudian, “Kau bicara dengan mulutmu?”

“Tentu saja, aku baru saja belajar bahasa manusia”, kata Verta.

“Secepat itu?”, tanya Nu. “Aku jadi tertarik apa yang ada di dalam sana.”

“Kau tidak ingin tahu hal itu”, kata Verta. “Luth yang mengajariku dengan `auto readernya`“.

Auto Reader?”, tanya Nu.

“Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, kita harus pergi dari sini”, kata Verta.

“Sayapmu lebih lebar dari dugaanku”, kata Nu. Beberapa saat ia merasa lega bisa menggunakan mulutnya daripada menggunakan pikirannya. Tapi hal itu membuatnya tak berpikir lagi kenapa Verta bisa melakukannya. Karena sayap Verta melipat lagi, kemudian berjalan menepi. Nu mundur dan mengikutinya.

Ge Dura“, kata Verta. Tiba-tiba air yang ada di seluruh tubuhnya berpencar dari tubuhnya sehingga membuat pakaiannya kering sempurna. Ia lalu menatap Nu yang masih terbengong. “Ada apa? Ayo kita berangkat!!”

Nu mengerutkan dahi dan menatap pakaian Verta yang ternyata hanya satu helai. Nu juga terheran-heran sebenarnya ada apa di bawah sana, sampai-sampai pakaian Verta pun berganti. Nu menggeleng-geleng. “Sebaiknya kau cari pakaian yang lebih baik dari itu”.

Verta tersenyum dengan senyuman yang khas. Telinganya bergerak-gerak. Dan mereka pun melanjutkan perjalanan meninggalkan danau misterius itu.

***

Raja dan seluruh pasukannya terus menahan hantaman demi hantaman Kull dan Troll di pintu gerbang kastil. Gempurannya makin kuat dan kuat, seiring makin gelapnya malam. Berkali-kali getarannya membuat tembok istana bergemuruh. Dan berkali-kali pula membuat sorakan dan teriakan untuk menyemangati pertempuran ini.

Jagu juga berjuang sampai dengan tetes darah terakhir. Pertarungannya dengan Luerthe tak bisa dianggap remeh. Sang penunggang naga itu bergantiang menyerang Jagu. Dan berkali-kali lempar-melempar elemen ke arah keduanya tak bisa dihindari. Jagu melempar api, Luerthe melempar es. Mereka bertarung dalam kekutan sihir tingkat tinggi.

“Sepertinya kekuatanmu bertambah”, kata Luerthe.

Dalam hati Jagu tahu bahwa sekarang ini Verta telah pergi keluar dari hutan Fogus, jadi sekarang ia agak sedikit lega dan sangat bersemangat dalam pertarungan itu. Namun juga disadari oleh Jagu kekuatan Luerthe sedikit demi sedikit terus bertambah. Bahkan mungkin sekalipun dengan bertambahnya kekuatan yang diberikan oleh Verta kepadanya, sepertinya agak jauh kalau harus melawan Luerthe.

Keduanya tiba-tiba berhenti untuk saling menyerang. Tampaknya Jagu memikirkan taktik dan sambil mengatur nafas sejenak. Jagu menatap tajam ke arah manusia bernama Luerthe ini. Ia tak habis pikir harus berhadapan dengan D Knight. Ia harus memikirkan taktik yang paling ampuh untuk mengalahkannya. Jagu pun mengerti satu hal, ia harus mencari kelemahan elemen dari Luerthe barulah ia bisa menaklukkannya.

Huriele, na akwli la befara tyuhngeita!!(Sungguh, aku benar-benar dan yakin dengan sungguh-sungguh akan menghancurkanmu)”, kata Luerthe.

Ne laa, detyuhngeina basera syaelafusta, meena syaleafusna akwli be dareta!!(Aku tak akan sekali-kali, aku dihancurkan dengan tebasan pedangmu, justru pedangkulah yang akan menebasmu)”, jawab Jagu.

Jagu berpikir, sambil mengeluarkan serangan-serangan dari seluruh tangannya. Ia mengeluarkan api, Luerthe bisa membalasnya. Jagu berpikir bukan api. Kemudian Jagu menyerang lagi dengan es. Tapi bisa dielakkan oleh Luerthe. Kemudian ia menyihir angin untuk bisa menghantamnya, tapi Luerthe bisa dengan mudah menghancurkan sihir angin itu. Jagu kemudian memejamkan matanya, tiga elemen bisa dielakkan oleh Luerthe. Ia pun memilih menggunakan elemen tanah, apakah dia bisa dikalahkan dengan elemen tanah.

La Eretha!!”, kata Jagu, seketika itu tanah bergelembung dan membentuk dua lengan yang sangat besar, lalu lengan itu menghantam Luerthe. Luerthe yang belum sigap atas mantra itu menerima begitu saja bogem mentah elemen tanah. Ia pun melayang menghantam pohon besar yang tak jauh dari tempatnya. Luerthe jatuh terjerembab. Ia pun mencoba berdiri.

“Keparat, aku lengah”, kata Luerthe.

Bumikah yang menjadi kelemahannya?

Jagu masih ragu, ia pun kemudian kembali menyerangnya dengan elemen bumi. Dua lengan raksasa yang terbentuk di tanah lagi-lagi menyernag Luerthe. Tapi Luerthe sekarang sigap dan menghempaskan dua lengan jadi-jadian itu hanya dengan sekali ayunan pedang.

“Baiklah, saatnya sungguh-sungguh, sedari tadi kau masih pemanasan. Mau ke sebuah tantangan yang lebih besar, selain ingin tahu apa kelemahan elemenku?”, tanya Luerthe.

Jagu terbelalak. Selama ini Luerthe hanya main-main?

“Kau kira aku selama ini bertarung sungguh-sungguh? Aku itu adalah D Knight. Kau tidak boleh lupa hal ini. Aku belum mengelurkan seluruh kekuatanku, bahkan separuh pun tidak. Pemanasan kali ini sudah cukup. Aku akan mengeluarkan kekuatanku seluruhnya, sehingga kau bisa tahu bagaimana kekuatanku yang sesungguhnya agar kau tidak mati penasaran”, kata Luerthe dengan menampakkan senyuman yang sangat mengerikan.

“Apa maksudmu?”, tanya Jagu.

“Tak ada tempat lagi untuk kabur wahai peri hutan, hutanmu akan mati”, Luerthe tiba-tiba melompat ke atas. Lompatan yang tinggi itu adalah gerakan cepat ke langit kemudian bersalto dan duduk di sebuah naga yang terbang di atas hutan Fogus. Luerthe lalu berdiri di atas pundak sang naga. “Kau tahu kenapa kami D Knight bisa kuat? Itu karena sang naga memberikan kami kekuatan. Dan sang naga juga memberikan kami tenaga yang berlipat-lipat yang tidak akan habis oleh zaman. Lihat dan saksikan kekuatanku yang sebenarnya!!!!”

Luerthe kemudian mengambil ancang-ancang, lalu ia seperti menarik sesuatu yang tak tampak. Dan tiba-tiba bumi bergoyang. Jagu tak habis pikir apa yang terjadi berikutnya adalah lebih megerikan dari apa yang ia mimpikan selama ini.

De wood, falasheira almengtyu pa de vernee“, bacaan mantra yang nyaring itu membuat makhluk-makhluk merinding dan ternyata benar. Tiba-tiba dari bawah akar-akar pohon muncul dan menjerat tubuh Jagu. Jagu tak habis pikir apa yang terjadi.

Kakinya terbelenggu oleh akar pohon yang kuat dan kemudian pedangnya pun terjatuh. Ia tak bisa apa-apa karena kaki sampai pinggangnya telah terikat. Luerthe pun tertawa terbahak-bahak. Ia pun turun dari naganya sementara itu naganya masih ada di atas udara. Ia tak perlu melompat turun, tapi ia berjalan dan ketika berjalan, tampak tumbuh-tumbuhan yang ada di sini tidak patuh lagi kepada Jagu. Mereka memberontak dan sekarang tubuh Jagu tak bisa digerakkan.

“Pertahananmu hanya sampai di sini saja”, kata Luerthe. “Karena sekarang kau milikku”.

Jagu sekarang menghadapi bahaya, Luerthe makin dekat dan makin dekat. Luerthe tampaknya puas melihat sengsaranya Jagu ingin melepaskan ikatan akar-akar itu.

“Kau tahu sekarang bukan, aku adalah D Knight Wood. Nagaku adalah naga Wood. Yarma Wood Dragon. Elemen wood. Yang mana seharusnya kekuatan ini kau sadari sudah lama, tapi kau diam saja ketika bertarung tadi. Kau tahu bukan kelemahan wood itu apa, benar sekali, kelemahannya adalah Rock!!”, kata Luerthe. “Aku hanya perlu melempar sihir Rock kepadamu, sehingga kau akan jadi batu selamanya.”

“Tidak mungkin, tidak mungkin!!”, kata Jagu.

“Tenang saja, kau bakal menjadi patung yang paling indah, karena kau adalah bangsa peri”, Luerthe sekarang berada di hadapan Jagu. Ia tersenyum, senyum kemenangan. “Aku hanya ingin kau menjerit, menjerit dan menjerit, hahahahaha!!”.

Jagu yang sudah tidak bisa apa-apa itu hanya pasrah, tangannya pun tak bisa menjangkau Luerthe, tapi ia sangat senang dan tersenyum kepada Luerthe. “Ya…, aku kalah.”

Hal itu membuat Luerthe tertawa terbahak-bahak. Pengakuan musuhnya itu membuatnya tahu bahwa pintu kemenangan itu makin dekat, sehingga ia pun mencoba mendekat ke arah Jagu, dan ia pun mulai mendekat. Jagu lalu menggumamkan sesuatu yang sampai-sampai orang didekatnya pun tidak bisa mendengar apa yang diucapkan.

“Apa?”, tanya Luerthe. “Aku tidak dengar tadi. Ulangi!!”

Jagu pun membungkuk.

“Kau akhirnya menyerah juga, hahahahaha!!!”, kata Luerthe.

Luerthe makin mendekat ke Jagu dan kini ia menjambak rambut Jagu yang berwarna putih itu. Tapi Jagu malah tersenyum. Ia tiba-tiba memegang kaki musuhnya, dan ini membuat Luerthe terbelalak.

“Kalau aku bisa mati oleh Rock, maka kau juga bisa mati olehnya”, kata Jagu.

“Apa maksudmu?”, tanya Luerthe ingin tahu.

Jagu berkata, “Aku sudah mengeluarkan mantra yang mana seluruh hutan Fogus menjadi batu. Kalau kau tak cepat-cepat kau pasti akan kecewa karena tak sempat lagi menghirup udara bebas”.

“Bangsat!!”, Luerthe ingin melepaskan diri darinya. Ia memukul Jagu, memukul lagi dan lagi agar ia bisa terbebas. Yarma yang melihatnya pun ingin turun, tapi ketika melihat hutan dari pinggir ke tengah menjadi batu semuanya, ia jadi setengah berani setengah takut. “Yarma ayo tarik aku ke atas, aku tak mau menjadi patung!”

Dengan cepat hutan Fogus pun berubah. Kini hutan itu menjadi batu yang sangat keras. Batu itu terus merambat hingga ke tempat Jagu terjerat akar-akar pohon. Yarma memberanikan diri untuk mengambil Luerthe, karena walau bagaimanapun dia adalah D Knightnya. Yarma menarik Luerthe dengan menggunakan rahangnya. Ia pun segera mengarik kaki Luerthe. Sedikit demi sedikit Jagu terlihat menjadi batu, mulai dari akarnya yang melilit, baru kemudian tubuh Jagu dan kemudian sampai pada kaki Luerthe yang sekarang menjadi batu, tapi sebelum jauh merambat lagi Luerthe bisa diambil oleh Yarma. Dia mengerang kesakitan ketika terjadi hal itu. Kini kaki kanan dari Luerthe mejadi batu.

“Kurang ajar!!!”, kata Luerthe. “Selama bertarung, kau adalah orang hebat dari semua musuh-musuhku”.

Kaki Luerthe sekarang ini ibarat patung yang belum sempurna dan sekarang Luerthe menjadi meraung-raung kesakitan, karena kakinya sekarang ibarat batu yang menyatu dengan tubuh manusia. Dan Luerthe pun akhirnya meninggalkan tempat itu. Sang penjaga itu pun sekarang tak bisa berkutik melawan D Knight dan naganya. Paling tidak, Jagu telah berusaha.

Hal itu pun dirasakan oleh Verta yang sudah berjalan jauh. Ia menangis sambil memeluk Nu. “Kakakku, kakak!!”. Dan Verta pun menangis.

“Percayalah dia masih hidup, tak mungkin orang sepeti kakakmu mudah dikalahkan begitu saja”, kata Nu.

“Tapi barusan ia berkata kalau sekarang ini ia sudah menjadi patung, terkena sihir Rock miliknya sendiri untuk mengalahkan Luerthe dan Yarma”, kata Verta.

Nu terdiam.

***

Para Goblin sudah mulai masuk ke area istana, hal itu membuat para prajurit kelabakan, apalagi para Goblin itu dibantu oleh para Mist. Pertempuran hebat di lorong-lorong saluran air itu tak bisa dihindari, walaupun sempit tapi pertarungan mereka di sana benar-benar panas. Dan karena para prajurit terdesak, para penyihir mulai membantu orang-orang yang ada di dalam lorong-lorong tersebut.

Sehingga para Mist kekuatannya masih tetap, dan kini pintu gerbang tiba-tiba saja makin kencang mendobraknya. Raja tetap bertahan. Namun keanehan terjadi, tiba-tiba kekuatan mereka bertambah dan bertambah lagi. Sehingga pintu gerbang pun terbuka, karena memang kekuatan mereka lebih wah.

Pertempuran sengit tak bisa dihindarkan, raja Aldemaria berada diurutan paling depan. Ia menebas siapa saja yang berani menyentuh dia dan prajuritnya. Pertempuran yang tak terelakkan terjadi di gerbang selatan. Ibarat semut yang jumlahnya ribuan ingin masuk pada sebuah sarang.

Pintu gerbang barat juga terbuka, para prajurit kebingan dan mereka pun tak tahu apa yang harus dilakukan. Hingga kemudian, sang raja memerintahkan, “Bawa pergi wanita dan anak-anak beserta penduduk dari sini melalui pintu bawah tanah!!”.

Dan mereka pun tak bisa bertahan lebih lama lagi selain harus berlari dari tempat itu menyelamatkan diri. Namun raja bertekat akan bertarung habis-habisan. Tapi ia juga ingat untuk menjadi pengajar Dragon Lord. Tidak mungkin dia harus mati di sini.

“Yang mulia, pergilah!!”, kata sang panglima.

“Tidak, aku masih ingin rakyatku selamat”, kata raja.

“Paduka, besok paduka masih bisa bertempur, tapi rakyat tidak”, kata panglimanya. “Terkandang mundur juga disebut sebagai taktik”.

Raja kemudian ditarik oleh panglima untuk keluar dari peperangan ini.

“Pimpinlah rakyat paduka untuk meninggalkan tempat ini”, kata panglima tersebut.

Raja berpikir melarikan diri, memang ini adalah cara pengecut, tapi…demi keselamatan rakyatku. Aku bisa lakukan apa saja. Sebab inilah tujuanku menjadi raja. Dan ia pun akhirnya mantap, hingga kemudian menuju ke rakyatnya yang mana mereka dalam kondisi berat, dan ketakutan terhadap perang yang besar ini.

Comments»

No comments yet — be the first.