Dawn of The Dragons – bag 4 March 20, 2008
Posted by arczre in Adventure, Fantasy.Tags: fantasi, fiksi, novel
trackback
Bertahan 1
Sang raja terus-menerus memperhatikan setiap pertempuran yang terjadi. Ia melihat para Mist membentengi diri mereka dengan perisai yang mereka buat dengan menggunakan sihir. Ribuan Troll dan Kull mencoba memakai tangga untuk menjangkau benteng. Para prajurit bergotong-royong untuk menjatuhkan tangganya. Beberapa Kull dan Troll mati terpanah dan terjatuh dari tangga. Pertempuran untuk bertahan ini begitu sengit, sementara ini keunggulan berada di tangan pasukan Aldemaria. Mereka bisa membendung serangan pasukan musuh. Namun raja berpendapat lain. Ia masih khawatir.
“Yang Mulia sepertinya kita berada di atas angin”, kata salah seorang prajurit yang baru datang.
“Kalian jangan bangga dulu. Mereka baru pemanasan, pertempuran yang sesungguhnya belum terjadi”, kata sang raja. “Perasaanku tidak enak, bagaimana keadaan hutan Fogus?”
“Tim kavaleri sudah dikirim ke sana”, kata sang panglima.
“Aku tidak bertanya pasukannya, aku bertanya bagaimana keadaannya”, kata sang raja.
Tiba-tiba dari langit muncul seekor elang yang terbang mengitari kerajaan Aldemaria. Elang itu berputar dan berputar dengan suaranya yang melengking. Raja mendongak, ia tampaknya mengetahui sesuatu. Elang itu pun mulai mendarat di atas kerajaan Aldemaria. Sang raja menarik nafas panjang. Ia kenal burung elang itu. Dan elang itu ukurannya tidak normal, elang itu tiga kali lebih besar dari ukuran manusia.
“Raja Aldemaria Klosva!!”, elang raksasa itu mulai berbicara. Ia bertengger seenaknya di atas benteng. Para prajurit tertegun. Mereka seakan-akan baru pertama kali melihat elang raksasa tersebut, dan tentu saja mereka terkejut. Tampak aura yang aneh terasa di atas benteng itu.
“Raja Elang Terhormat Cerathu”, sahut sang raja.
“Aku ke sini tidak karena urusan yang sepele. Aku ingin memberitahukanmu satu hal yang akan mengejutkanmu dan juga orang-orang yang ada di depanku”, kata elang raksasa tersebut. “Dan aku terpaksa ke sini untuk memberitahukannya secara langsung.”
“Boleh kutahu apa itu Yang Mulia?”, tanya Klosva, raja Aldemaria.
“Tugasmu sebagai raja di Aldemaria hampir berakhir. Dragon Lord telah muncul, batu rubi yang akan digunakan sebagai bahan pedang D Knight telah bersinar. Dan akan terus bersinar sampai Dragon Lord mati atau D Knight sendiri yang mengambilnya. Ketika dia bertemu denganmu suatu saat nanti, berjanjilah kepadaku, atas nama Luth dan seluruh penduduk Aldemaria untuk memberikan kekuasaanmu kepadanya”, kata sang elang.
Sang raja terkejut mendengarnya, “Sudah munculkah?”
“Sudah, dan dia ada di sini. Dia akan belajar banyak darimu sebagai seorang ksatria pedang terhebat di Aldemaria, dia juga akan belajar kepada Archles sebagai seorang pewaris naga sejati, dia juga akan belajar kepada Elfara sebagai seorang yang bijak, dan dia juga akan belajar kepadaku untuk mengendalikan Dragon Lord”, kata Cerathu, untuk sesaat ia menolehkan kepalanya kepada pertempuran yang ada di bawah.
“Apakah berarti aku harus menyerah di sini?”, tanya Klosva.
Sang elang menjerit dan membuka sayapnya, “Aku tidak menyuruhmu untuk mengalah sobat!!”, tampak kemarahan menyeringai dari wajah sang elang.
“Oh, maaf”, kata Klosva. Cerathu menutup sayapnya lagi, tampak sayapnya melipat seperti lipatan kasur, karena bulunya yang sangat tebal. Temboloknya beberapa kali naik turun.
“Apabila kau ingin menyerahkan Aldemaria ini kepada Dedgard itu adalah urusanmu. Aku hanya menyampaikan hal ini karena Luth yang meminta. Dia langsung berbicara kepadaku, dan aku tahu ini pasti urusan yang sangat penting”, kata Cerathu. “Aku tak bisa membantu peperanganmu di sini, kerajaanku juga akan jadi incaran Dedgard dan pasukannya. Satu-satunya kerajaan manusia yang masih bertahan melawan Dedgard adalah Aldemaria. Negha hancur, Poefamus telah dikuasai, Lumdeger telah jadi abu, Hubadern telah jadi penjara para raja, dan Gnomebunm menjadi tangan panjang Dedgard untuk mengembangkan kerajaan Arthemis miliknya. Kalau Aldemaria hancur, tak ada lagi tempat yang bisa dijadikan perlindungan bagi manusia.”
“Lalu bagaimana dengan bangsa peri?”, tanya raja.
“Para peri akan hidup dengan kekuatan mereka masing-masing, selama mereka berada dalam daerah kekuasaannya mereka akan tetap tak terkalahkan. Namun aku dengar kabar di hutan mistis Nefiris, mereka sedang menanti kedatangan sang Dragon Lord. Sampai sekarang, tidak ada satupun yang tahu di mana Dragon Lord berada. Keberadaannya hanya diketahui oleh D Knight yang menjadi tuannya. Negeri Aura dan negeri Genji–negeriku–perlahan-lahan juga mengatur strategi untuk menghancurkan kekuasaan Dedgard yang semakin kuat. Tapi, kondisi negeriku sekarang ini sedang lemah, rakyatku sedang dalam masalah. Aku tak bisa membantu Aldemaria, dan negeri-negeri yang lain. Akupun terpaksa ke sini dan aku setiap hari menangis karena kekuasaan Dedgard makin besar sedangkan aku tak satupun membantu mereka”, kata Cerathu sambil menitikkan air mata.
Seekor burung elang raksasa yang menangis adalah hal yang aneh bagi sebagian orang. Namun hal itu nampak kian jelas ketika dari matanya keluar bulir-bulir air yang membasahi paruh dan bulunya yang lembut berwarna coklat itu. Angin berhembus menerpa bulu-bulu halus itu. Sang raja menghela nafas panjang, lalu menghadap ke arah peperangan yang terjadi di bawah.
“Kebangkitan Dragon Lord, mudah-mudahan bisa mengakhiri semua ini”, kata Klosva.
“Aku sangat ingin membantumu, tapi aku harus pergi, rakyatku membutuhkanku”, kata Cerathu.
Dengan posisi membungkuk dan dengan sekejap Cerathu melesat ke langit yang tidak dihiasi bulan satupun. Melihat Cerathu pergi dari Aldemaria para prajurit Dedgard bersorak. Mereka sebelumnya menduga elang raksasa itu akan membantu Klovis untuk menggempur mereka, tapi ternyata tidak. Ada urusan yang lebih penting yang harus dilakukan oleh Cerathu. Elang itu menghilang di balik awan gelap, meninggalkan bau darah dan jeritan kesakitan di bawah sana.
Raja pun menunduk, ia lalu berjalan meninggalkan tempat dia berdiri untuk kembali ke ruangannya sejenak. Ia mengisyaratkan agar tidak diikuti oleh siapapun. Raja kemudian berjalan menuju ke sebuah tangga yang terletak di samping ruang utama. Ia terus turun lalu berbelok ke sebuah lorong yang sempit, kemudian menekan salah satu batu yang berada di perempatan lorong. Kemudian dilanjutkannya berjalan, dan ia berhenti tepat di tengah-tengah lorong. Lalu ia menghadap ke kanan dan menekan dindingnya. Tampaklah sebuah pintu rahasia terbuka. Tembok itu seperti berputar 180 derajat. Yang kemudian diakhiri dengan suara seperti anak kunci mengunci. Raja berada di sebuah ruangan yang hanya disinari oleh cahaya batu berwarna biru yang sangat aneh.
Batu itu seperti sebuah bongkahan kerucut yang menghadap ke bumi. Benda aneh itu menempel di atap dan juga sebagai satu-satunya penerang di tempat itu. Tampak tepat di bawah batu itu ada sebuah altar yang di tengahnya menancap sebilah pedang berwarna biru keputih-putihan. Pedang itu sangat anggun dan menawan. Tampak digagangnya ada ukiran-ukiran yang sangat halus, seperti terbuat dari tangan seorang peri. Tampak juga sebuah tulisan di mata pedang itu. Sebuah bahasa yang asing. Dan pelindung pedangnya, tampak berkilauan seperti emas.
Altar itu merupakan sebuah batu yang berbentuk seperti sebuah piringan. Di atas altar itu ada batu biru tadpi yang bercahaya seperti kristal. Di tengah altar itulah pedangnya. Di pinggir batunya terdapat huruf-huruf yang tidak bisa dimengerti oleh manusia pada umumnya.
Raja mendesah lalu duduk di sebuah batu yang ada di hadapan pedang tersebut. Ia lalu berbicara, “Aku sangat resah, aku takut, takut kalau apa yang aku pimpin selama ini salah.”
“Kenapa kau berkata seperti itu?”, terdengarlah sebuah suara. Sang raja tampak tidak terkejut. Ia sepertinya mengenali suara itu.
“Sebentar lagi hidupmu akan berakhir, mungkin hidupku juga. Tapi aku masih ragu, apakah aku bisa mengajarkan ilmu pedang kepada penguasa Dragon Lord?”, kata Klovis. Ia meremas lututnya dan sesekali mendesah seperti orang yang resah.
“Aku tak mengerti, kau harusnya bangga”, kata suara itu lagi.
“Aku tak tahu perbedaan antara bangga dan menyesal. Kau lihat di luar sana, bagaimana prajuritku mati-matian untuk membela Aldemaria, sedangkan aku yakin pasti aku tak akan mampu untuk membendung kekuatan mereka yang cukup besar”, kata Raja. “Lihatlah, para naga telah keluar dan berpihak pada Dedgard, sedangkan di pihak kita hanya satu naga. Aku tak yakin Dragon Lord mampu untuk mengubah keadaan ini.”
“Akulah yang lebih tahu tentang Dragon Lord, akulah yang berperang bersamanya, aku jugalah yang bakal menjadi pedangnya lagi, kau tak berhak bicara seperti itu”, kata suara itu lagi.
“Maafkan aku, baiklah untuk Dragon Lord, aku akan melindungi Aldemaria”, kata sang raja. “Aku akan bertarung habis-habisan. Walaupun nanti aku akan kehilangan nyawaku.”
“Bagus, itu yang ingin aku dengar darimu sang raja”, kata suara misterius. “Jangan sampai ketika pedang ini tercabut oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aku akan menanti Dragon Lord. Dan ingatlah bertahanlah, bertahanlah!!!”
Sang raja mengambil nafas panjang. Lalu ia berdiri, berbalik meninggalkan ruangan kecil dan sedikit penerangan itu. Ruangan misterius itu ditinggalkan raja sedangkan cahaya biru yang ada di dalam masih menyala. Suara langkah berat sang raja terdengar di lorong, kemudian dia di sambut oleh sebuah teriakan pertempuran ketika berada di luar lagi. Seorang prajurit tampak tergopoh-gopoh berlari dari bawah tangga.
“Paduka!! Paduka!!?”, prajurit itu tampak kelelahan.
“Ada apa?”, tanya Klovis.
“Goblin!! Goblin masuk dari saluran air!!!”, kata prajurit tersebut.
Raja terbelalak. Ia segera berlari menuju ke atas benteng, jubahnya berkibar seperti tertiup badai. Dan dia menyaksikan sendiri pasukan musuh sudah masuk benteng mencoba membuka gerbang dari dalam.
“Aku salah perhitungan, bagaimana bisa terjadi?”, tanya Klovis.
“Goblin dan Mist, mana mungkin mereka bisa masuk tanpa bantuan Mist”, kata panglima. “Raja, aku akan terjun langsung dalam pertempuran ini, permisi!”
Sang panglima membungkuk, kemudian dengan langkah yang tergesa ia pergi meninggalkan sang raja sendirian bersama para pengawalnya. Namun ada sesuatu yang lain yang mengganggunya. Ia bisa melihat keseluruhan sudut dari Aldemaria ketika ada di puncak benteng ini. Dan ia bisa melihat dari jauh apa yang sebenarnya terjadi di bawahnya. Dan ia juga terkejut ketika melihat sesuatu di padang rumput, pintu bagian barat Aldemaria. Sesuatu itu tak akan bisa dilihat, terkecuali oleh raja sendiri. Ia benar-benar tak menyangka pertempuran seberat ini.
“Tutup rapat pintu sebelah barat!!! Dark Knight!! Dark Knight!!! Serangan kavaleri di bagian barat!!!”, kata sang raja.
Serentak para prajurit yang sedang bertempur habis-habisan makin terasa berat beban mereka. Mereka belum tuntas untuk bertempur kini sudah ditambahi dengan pertempuran yang lebih berat lagi. Kini Aldemaria telah dikepung dari tiga penjuru, akankah mereka akan bertahan terhadap gemburan ini? Dari sebelah barat tampak derap kaki kuda bergemuruh, dan terlihatlah ribuan kavaleri yang mereka memakai baju besi hitam dengan kuda-kuda hitam muncul dari gelapnya malam. Diiringi dengan itu makhluk-makhluk aneh yang lainnya juga bermunculan. Diantara mereka ada yang mempunyai kaki seperti burung onta dan tubuh seperti kadal, dan mempunyai lengan seperti kangkuru dan kepala seperti kadal. Tampak mereka memakai baju besi lengkap dan membawa kapak besar. Ada juga yang mereka adalah raksasa dengan kepala yang sangat lonjong, tubuhnya sangat jakung, kakinya panjang dan jemari tangannya sampai menyentuh mata kakinya. Ia melangkah dengan santai dengan jangkahan yang panjang. Kedua makhluk itu adalah Lizardman dan Necromancer. Keduanya terkenal sangat bengis, sadis, dan mereka adalah makhluk-makhluk terkutuk. Necromancer bisa mengubah mayat menjadi zombie, dan Lizardman sendiri sangat ahli dalam menempel di tembok dan melompat. Mereka bisa masuk ke dalam benteng dengan mudah, kalau pasukan panah tidak sigap.
Tampak nafas-nafas berat mereka terdengar dari kejauhan, hal itu membuat para prajurit Aldemaria gentar. Mereka bersiap-siap untuk menunggu apa yang akan terjadi nantinya. Sang pemanah bersiap di gerbang barat. Ratusan pemanah bersiap, lalu menarik busur mereka dan melepaskan ratusan anak panah yang melayang bagaikan hujan. Panah-panah itupun mengenai beberapa Lizardman, beberapa diantara mereka menghalaunya dan menghindari. Para Dark Knight sama sekali tak gentar dengan panah itu, mereka mengibaskan tameng dan pedang mereka dari atas kuda untuk menghalau panah tersebut. Sang Necromancer lebih mengerikan, sekalipun tubuh mereka ditembus panah, mereka sama sekali tak jatuh, tak terluka dan hanya menyeringai dengan wajah yang sangat mengerikan.
“Berikan jerami!!”, kata raja.
“Berikan jerami!!”, kata panglima menyuruh para prajuritnya.
“Bakar Necromancer dan Lizardman! Mereka takut pada api”, kata raja.
Para prajurit saling bergotong royong untuk membawa jerami ke atas benteng, lalu menjatuhkannya ke bawah, tumpukan jerami itu kemudian dipanah dengan panah api. Dengan sekejap api melalap jerami-jerami itu. Pintu barat Aldemaria sekarang terbungkus api, Lizardman dan Necromancer berhenti menyaksikan api-api itu. Namun salah seorang Dark Knight maju dan mengibaskan pedangnya yang besar. Angin menyapu bersih mengusir api-api itu, dan disambutlah salah satu Necromancer maju dan menabrakkan tubuh raksasanya ke gerbang. Suara guncangan yang hebat membuat bergetar seluruh dinding kastil. Raungan suara semangat para musuh makin membuat gentar para prajurit.
“Jangan panik!!”, kata raja memperingati. Ia sudah mencabut pedangnya. Pedangnya berkilat-kilat karena cahaya api. Ia pun sudah bersiap kalau-kalau musuh akan mendobrak gerbang. Sementara itu para prajurit juga bertempur di saluran air. Mereka menghalau Goblin dan Mist yang masuk lewat sana.
Sementara itu para pengungsi mau tak mau harus membantu para prajurit melawan goblin-goblin itu. Beberapa orang yang terdiri dari wanita dan anak-anak ketakutan. Mereka bersembunyi di antara tumpukan gerabah dan beberapa diantaranya ikut melawan Goblin dan berjuang melawan mereka.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh para prajurit Aldemaria selain bertahan. Mereka harus bertahan dan bertahan agar Aldemaria tak jatuh dalam kekuatan jahat Dedgard. Sampai sekarang keadaan sepertinya berbalik, pasukan Dedgard makin kuat dan makin mendesak untuk bisa membobol pertahanan Aldemaria. Para panglima berjuang keras untuk menahan gerbang agar tidak goyah. Prajurit yang di dalam berjuang menghalangi para Goblin dan Mist masuk dari saluran air.
Sang penguasa juga ikut berjuang untuk menahan gerbang agar tidak ditembus oleh para Kull dan para Troll. Raja Klovis bersama-sama prajuritnya terjun sendiri dan menahan gerbangnya dari dobrakan.
“Bertahan kalian semua!! Bertahanlah!!”, kata raja. “Jangan biarkan mereka menyentuh tanah kita sekalipun hanya sejengkal. Kita mati di sini atau kita harus ditindas oleh mereka. Jangan biarkan jumlah menciutkan nyali kalian!! Kita di sini karena kita adalah yang berperan dan tanggung jawab kitalah yang membuat kita kuat. Kalian adalah peran utama dari diri kalian sendiri. Bagiku tak ada yang lebih baik daripada mempertahankan diri, dan mengorbankan diri untuk Aldemaria. Berjanjilah pada diri kalian sendiri, berjanjilah kepada keluarga kalian, berjanjilah kepada diriku, bahwa kalian tidak akan menyerahkan Aldemaria kepada Dedgard!!”
“Ayee!!!”, para prajurit yang tersemangati dengan kata-kata yang membakar semangat sang raja. Mereka seolah-olah mendapatkan kekuatan baru. Sang raja tersenyum dan kembali lagi dobrakan menghantam gerbang kastil.
Comments»
No comments yet — be the first.