Dawn of The Dragons – bag 3 March 14, 2008
Posted by arczre in Adventure, Fantasy.Tags: fantasi, fiksi, novel
trackback
Invasi
Nu duduk di pinggir sumur yang ada di dekat tenda wanita gipsi itu. Ia menggigil apabila mengingat lagi apa yang dikatakan si wanita tadi. Nu melihat tanah yang ia pijak. Terus terang baginya adalah hal yang mustahil untuk bisa menerima perkataan wanita gipsi tersebut. Tapi ketika ia telah melihat peri dengan mata kepalanya sendiri, maka batas-batas rasa ketidak percayaan itu hilang. Ia makin yakin dan mantap kalau mimpinya adalah sebuah pertanda. Pertanda yang akan mengantarkan dirinya menuju ke sebuah samudra yang luas, yang disebut dengan petualangan.
Paman Nu baru datang setelah lama sekali Nu menunggu dengan perasaan yang bercampur aduk. Pamannya duduk di sebelahnya. Nu terkejut dengan kehadiran pamannya itu. Ia lalu berdiri.
“Mau kemana, kita duduk dulu”, kata pamannya. Tampak sang paman membawa sebuah karung.
“Apa itu paman?”, tanya Nu sambil duduk.
“Kebutuhan sehari-hari, paman sengaja beli banyak”, kata paman. “Untuk berjaga-jaga karena semua orang takut akan ancaman Dedgard yang akan menyerang Aldemaria.”
“Bagaimana ancamannya?”, tanya Nu.
“Aku dengar dari prajurit, ‘Untuk seluruh penduduk Aldemaria, kesempatan kalian tunduk di bawah kepemimpinan Dedgard hanya tinggal hari ini!!’ dan tentu saja itu membuat semua orang panik. Seperti para prajurit yang kita lihat tadi, mereka semua bersiap untuk penyerangan tiba-tiba”.
“Memangnya Aldemaria sudah terkepung?”, tanya Nu.
“Kelihatannya seperti itu, satu-satunya jalan yang paling mudah adalah dari pintu depan Aldemaria yang merupakan padang pasir yang luas dan pintu sebelah timur, sebab pintu belakang Aldemaria adalah air terjun Rockdown, pintu sebelah barat adalah hutan Fogus, pintu sebelah timur adalah padang rumput Aldemaria yang sangat luas”, kata paman.
“Kenapa dengan hutan Fogus, kan mereka bisa saja masuk lewat sana”, kata Nu.
“Entahlah, tapi sepertinya hal itu dihindari oleh para prajurit”, kata paman Nu. “Mereka menganggap hutan Fogus adalah hutan mistis. Mungkin hanya para penyihir yang disiapkan untuk berjaga di sana.”
“Lalu kita bagaimana paman?”, tanya Nu dengan sedikit khawatir.
“Malam nanti kita akan tinggal di dalam kastil, sore ini juga kita bawa bibimu”, kata paman. “Dan ingat kita tak punya waktu.”
Hari begitu cepat bergulir. Nu membantu paman dan bibinya berkemas. Mereka membawa apa saja yang bisa mereka bawa dan terpaksa meninggalkan sapi-sapi mereka di kandang. Tampak di jalan-jalan para prajurit membantu para penduduk untuk mengungsi. Di antara mereka ada yang membawa ternak-ternak mereka, ada juga yang membawa buntelan yang sangat besar. Nu ingin bertanya banyak hal pada Verta, dan mungkin ingin mengucapkan selamat tinggal pada Verta, sebab tak tahu apakah ia akan bertahan hidup atau tidak dalam peperangan kali ini. Ataukah mungkin perasaan cintanya yang mengalahkan segala kewarasan di dalam akalnya.
Nu keluar dari rumah dengan membawa anak panahnya. Ia lalu menyeberangi lahan peternakan yang sangat luas. Ia sesaat merasakan sesuatu yang aneh, seperti menembu sesuatu. Nu, tidak sadar kalau dia baru saja menembus pelindung yang telah diciptakan oleh Jagu dan Verta. Nu tak tahu tujuannya ke mana tapi ia yakin bisa memanggil Verta dengan benaknya.
“Verta, verta, kau bisa dengar aku?”, tanya Nu dengan benaknya.
“Ya, aku bisa dengar. Ada apa?”, tanya Verta.
“Dedgard, ia akan menyerang Aldemaria, apakah kau sudah tahu?”, tanya Nu.
“Kami belum tahu bocah”, kata Jagu. “Tapi Luth sudah memperingatkan kami sejak lama tentang Dedgard, tadi malam kekuatan kami dijajal.”
Nu terkejut. Ia seakan tak percaya apa yang barusan Jagu katakan, “Siapa yang menjajal? Dedgardkah?”
“Tentu saja bukan dia anak bodoh, anak buahnya dong. Kalau Dedgard sendiri yang ke sini, tentu saja akan ada pertempuran sengit di hutan Fogus, dan sudah tentu rumahmu akan terkena imbas dari pertempuran ini”, kata Jagu dengan nada sombong.
“Aku ingin bertemu dengan kalian, sekaligus bertanya sesuatu”, kata Nu. “Aku tahu ini gila, tapi aku sedang terburu-buru.”
“Lu Portia!!”, sebuah mantra muncul dari mulut Verta. Dan efek itu mengakibatkan Nu terhisap ke sebuah lubang aneh, lalu ia muncul di sebuah tempat yang lain. Dan di hadapannya tampak Verta dan Jagu dengan pakaian yang aneh. Kedua peri itu memakai pakain yang terbuat dari sebuah logam yang membungkus tubuh mereka. Seolah-olah mereka mau berperang.
Verta mengerutkan dahinya, “Apa yang mau kau tanyakan?”
“Dengarkan aku, karena hanya kalianlah yang sekarang ini bisa menjawab pertanyaanku. Tadi malam….”, Nu mengambil nafas panjang lalu bercerita. ” Tadi malam aku bermimpi dengan mimpi yang sangat aneh. Aku melihat sesosok makhluk yang mengerikan, matanya tajam dan…..dan….aku melihat sepasang sayap yang mirip dengan sayapmu!”
Nu menunjuk Verta. Jagu tersentak. Ia kaget dengan cerita Nu tersebut. Verta lebih tak percaya apa yang dikatakan oleh Nu. Jagupun kemudian duduk di atas akar pohon yang sangat besar. Dia mengusap rambutnya yang berwarna putih. Angin sepoi-sepoi menggerakkan dedaunan dan dahan pohon. Verta menundukkan wajahnya.
“Haza qudrey laa hub ghuba, el laa sychaell nabarafmakhre (Sudah ditakdirkan bahwa nantinya akan seperti ini, sang ksatria bakal menjemputku)”, kata Verta. “Naa yumie assa Nu, be na fatakhu (Mimpiku sama seperti mimpi Nu, aku sudah cerita tadi)”
“Tad…(Tapi)”, Jagu tampak menitikkan air mata. “Nafayena (Kenapa harus sekarang)?”
“Hallooo, kalian bicara apa?”, tanya Nu. “Aku tak mengerti apa yang kalian bicarakan, tapi kumohon kalian pasti tahu apa arti mimpiku. Aku tadi ke seorang peramal dan kuceritakan mimpiku. Lalu ia berkata kalau aku orang spesial, seorang yang bakal menjadi raja, dan aku akan bertemu dengan seorang peri yang bakal menjadi teman hidupku dan seterusnya.”
Verta dan Jagu tiba-tiba mematung tak bersuara, sepertinya mereka sedang saling bertukar benak. Nu makin penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“Kak Jagu, aku tahu ini terlalu cepat, tapi ingatlah kata Luth. Kita sudah menanyakan hal ini sejak tadi kepadanya. Aku harus mendampingi dia”, kata Verta yang masuk ke benak Jagu.
“Verta, kita sudah bersama-sama selama ini. Aku tak rela kau tinggalkan begitu saja. Aku tak bisa menjaga hutan ini sendirian”, kata Jagu.
“Kau pasti bisa, sebab kaulah kakakku”, kata Verta. “Apa kau ingin aku melanggar apa yang sudah diperintahkan oleh Luth? Luth berkata, bahwa pagi ini Nu akan kemari dan menanyakan hal ini dan aku harus mengikuti dia. Dan hanya dengan cara inilah Ramsus akan bisa dikalahkan, dan kita bisa mengakhiri peperangan yang tak ada hentinya.”
“Tapi kalau kau keluar dari hutan….”, Jagu mengingatkan lagi.
“Luth sudah menjamin. Ketika aku dipanah oleh Nu untuk pertama kali, aku sudah menjadi pendampingnya untuk selamanya. Maka dari itulah, apa yang kurasakan sama seperti apa yang dia rasakan. Mimpinya, hatinya, pikirannya, akan menyatu denganku. Sampai nantinya sang naga akan bangkit sendiri”, kata Verta mencoba membesarkan hati Jagu. Ia tahu Jagu akan sangat kesepian karena ditinggal olehnya.
Jagu mencoba menahan tangisnya. Nu tampak keheranan, dilihatnya Jagu dengan penuh tanda tanya. Tiba-tiba Jagu bangkit dan ingin memukul Nu, tapi tiba-tiba Verta menghalangi dan Verta terkena pukulan kakaknya, seketika itu juga Verta ambruk dan Nu menangkapnya.
Hutan pun langsung bergemuruh. Nu tidak tinggal diam. Setelah ia meletakkan Verta, ia bangkit dan membalas pukulan Jagu tadi. Pukulan itu tepat mengenai wajahnya. Dan Jagu terpental beberapa tombak ke belakang.
“Apa maksudmu memukul adikmu sendiri?”, tanya Nu. Tiba-tiba saja, angin berubah menjadi tidak bersahabat. Angin sepoi-sepoi tadi mulai bergemuruh.
“Nu…, sudahlah”, kata Verta.
Jagu langsung menghampiri Verta, “Verta, el laa meana syukza (Verta, aku tidak bermaksud seperti itu)”
Tumbuhan rambat tiba-tiba mengerubungi Verta. Dan dedaunan menempel di pipi Verta yang terluka. Dan tak berapa lama kemudian luka itu menghilang. Nu mulai terbiasa dengan kejadian itu. Tampak Verta bisa merasakan darah Nu yang mendidih. Ia sepertinya marah. Verta lalu berdiri, “Na Fahwaa, Breita (Maafkan aku, kak)”
Nu yang tidak mengerti pembicaraan mereka lalu masuk ke benak pikiran mereka berdua, “Hutan Fogus adalah salah satu basis pertahanan dari Aldemaria, kita harus bekerja sama bukan saling pukul!”
“Bukan itu masalahnya Nu”, kata Verta. “Aku harus ikut denganmu.”
“Kenapa?”, tanya Nu.
“Karena aku adalah takdirmu”, jawab Verta.
“Tapi, katamu kau akan lemah kalau keluar dari hutan ini”, kata Nu.
“Sekarang sudah tidak, aku harus mendampingimu. Karena kaulah D Knight”, kata Verta. “Dan akulah yang akan menjadi pemandumu untuk menemukan nagamu.”
“Aku mempunyai mimpi yang sama dengamu. Kami berdua bertanya kepada Luth. Luth berkata bahwa kau akan datang lagi menanyakan hal ini kepada kami. Kau adalah orang yang akan membangkitkan sang naga. Di mana, di dunia ini sekarang akan lahir puluhan ksatria naga yang mereka berperang memperebutkan kursi untuk menjadi raja. Karena itulah kekuatan Ramsus meningkat, karena kata Luth, hampir seluruh ksatria naga diperolehnya. Dan kaulah satu-satunya yang tersisa sekarang. Jagu tak ingin aku pergi dari tempat ini. Makanya ia ingin menyakitimu, tapi sekarang aku menjadi pelindungmu. Aku akan berjalan kemana pun engkau akan berjalan. Sudah banyak D Knight yang menjadi anak buah Ramsus. Engkaulah yang harus menentukan, berada di pihak yang jahat ataukah yang benar. Ketika kau memberikan mengucapkan perjanjian untuk menjadi D Knight, artinya kau memilih jalanmu sendiri, bukan aku yang menentukan jalanmu”, kata Verta.
Nu makin tidak faham.
“Kau tak perlu bingung. Kau tinggal bersama paman dan bibimu, kau sekarang berada di tengah medan perang. Pertahanan terakhir Aldemaria hanya hutan ini. Para penyihir pun mungkin tak akan mampu untuk membendung kekuatan Dedgard dan pasukannya. Bisa jadi kalau kau tak ikut andil dalam pertempuran ini, paman dan bibimu tak akan bisa terselamatkan. Juga para manusia di dunia ini, karena mereka akan menjadi budak Dedgard”, kata Verta menjelaskan dengan sabar. “Hanya kakakku mungkin yang sanggup untuk menjadikan hutan ini sebagai basis pertahanan terakhir, di saat semua orang sudah tidak lagi percaya kepada peri. Dan mereka sekarang akan menggantungkan hidup mereka kepada peri.”
“Aku masih tak percaya kalau aku harus berhadapan dengan ini semua. Aku baru kemarin bertemu denganmu dan sekarang harus berhadapan dengan ini semua”, suara benak Nu, seakan-akan terdengar sampai ke seluruh hutan. “Tapi, apapun itu, kalau untuk menyelamatkan mereka, aku tak akan ambil pusing. Aku tak percaya kepada cerita peri, sampai aku melihatnya, aku dulu tak percaya kepada monster, hantu dan kutukan, tapi kehadiranmu untuk pertama kalinyalah yang membuatku percaya. Aku terima perjanjian sebagai D Knight!!”
“Baiklah, perjanjian diterima”, kata Verta. Seketika itu tubuh Nu bergetar hebat. Dari dahi Verta terpancar seberkas cahaya yang kemudian cahaya itu mengarah ke dahi Nu.
“Dengan kau menjadi D Knight, kau sekarang mempunyai kunci untuk bisa menggerakkan sang naga. Perjanjian ini akan berakhir, apabila nagamu telah binasa di tangan musuh. Jadi kau harus temukan sang naga secepatnya sebelum semuanya terlambat, kita tidak punya waktu lagi”, kata Verta.
Seketika itu Nu mundur sampai menghantam pohon besar yang ada di belakangnya. Punggungnya terasa sakit, ia pun tersungkur. Kini di dahinya ada sebuah titik kecil. Orang-orang tak akan faham titik kecil itu terkecuali mereka memperhatikannya. Nu bangkit perlahan, kini ia seperti orang baru. Jagu dan Verta menyadari sesuatu dalam diri Nu yang berubah.
“Aku seperti mendapatkan sesuatu yang aneh”, kata Nu. “Kau apakan aku tadi?”
“Ini adalah kunci sang naga. Sekarang hanya kau yang bisa membangkitkan sang naga, sebelum ia di bunuh oleh orang-orang Dedgard”, kata Verta.
“Tapi aku harus menemui pamanku, apakah kau juga akan ikut? Aku takut terjadi sesuatu denganmu nantinya”, kata Nu.
“Tak perlu takut”, kata Verta. “Sebab tujuan kita tidak ke tempat pamanmu”
“Tapi,….setidaknya aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka”, kata Nu berkeras, tampak dahinya berkerut dan mulutnya terkatup rapat.
“Untuk bertemu pamanmu masih ada waktu, tapi untuk menyelamatkan dunia ini, sudah tidak ada waktu lagi. Apakah hanya untuk pamanmu kau mau mengorbankan segalanya?”, tanya Verta.
“Hei anak bodoh!!”, panggil Jagu.
Nu menoleh ke arahnya.
“Kau itu bodoh atau apa? Tenang saja, tempat ini aku yang menjaga. Tak akan kubiarkan mereka masuk ke hutan ini. Jadi kau bisa serahkan paman dan bibimu kepadaku. Aku akan jaga mereka dan seluruh hewan-hewan yang ada di hutan ini akan menjaganya. Percayalah!!!”, kata Jagu dengan percaya diri. Ia membelakangi Nu, seolah tak mau melihat mukanya lagi. “Jangan pernah kembali sebelum dunia ini selamat di tanganmu. Kalau tidak percuma saja aku mengijinkan adikku pergi bersamamu. Kau hanya si pengganggu, yang seharusnya sudah kulenyapkan dari dulu, kalau tidak adikku menaruh perasaannya kepadamu. Pergilah kalian, sudah tidak ada waktu lagi”
Sementara itu di sebuah bukit yang tinggi di padang pasir Aldemaria. Tampak sesosok makhluk berleher panjang, mempunyai ekor yang sama panjangnya, bersisik dan sayapnya sangat panjang bertengger di puncaknya. Matanya yang tajam melihat ratusan mill jauhnya sampai ke istana Aldemaria. Tampak di punggungnya seseorang dengan tubuh tinggi menungganginya. Seorang dengan baju besi yang kelihatannya berat, pedang yang sangat panjang dan berwarna hitam, sebuah helm yang besar dan panjang, jubah berwarna hitam gelap berkibar di terpa angin. Sementara di jauh di bawahnya, di atas padang pasir, tampak ribuan pasukan yang sudah siap menyerang. Mereka terdiri dari Kull, Troll, Goblin, dan Mist. Mereka semua adalah pasukan dari Dedgard.
Kull adalah sesosok makhluk yang mempunyai tanduk yang sangat besar. Badannya dua kali lebih tinggi dari pada manusia dan mereka memakai pakaian dari kulit binatang. Kull terkenal sangat bengis dan sangat menyukai pertempuran. Troll adalah makhluk hijau yang berotot besar, wajahnya jelek dan giginya runcing. Berambut panjang dan tidak bertanduk. Kekuatannya hampir sama dengan Kull. Namun mereka lebih cerdas dari Kull. Goblin adalah salah satu ras yang mempunyai telinga panjang. Tubuh mereka kerdil, tapi sangat tangguh dalam pertempuran. Dan salah satu yang istimewa adalah Mist. Mist adalah sesosok manusia yang menguasai Sihir Gelap. Mereka adalah separuh ksatria separuh penyihir. Ada rumor yang mengatakan mereka tak bisa mati terkecuali jantung mereka dihunus pedang.
Makhluk besar itu lalu menyeringai sambil mengeluarkan suara yang melengking, menyebabkan seluruh bulu kuduk merinding. Sang penunggang melihat seseorang yang menghampirinya dari arah belakang. Orang itu adalah Dark Knight yang tadi malam ingin masuk ke hutan Fogus. Orang itu berlutut dan melapor.
“Yang mulia Luerthe, hutan Fogus sangat sulit ditembus oleh kekuatan kami. Saya tak bisa menghancurkan pelindung yang melindungi hutan tersebut. Kita tak bisa menyerang lewat hutan”, kata sang Dark Knight.
“Hutan Fogus, berarti ada peri di sana”, kata sang penunggang. “Tentu saja kau tak akan bisa, sebab di sanalah peri Dragon Lord berada. Aku sendiri yang turun tangan di sana. Kalian semua, serang Aldemaria dari arah depan!! Aku dan pasukan Wyvern yang akan menyerang hutan Fogus. Pergilah!!”
Sang Dark Knight menyingkir perlahan. Dan Luerthe mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, “Prajuritku, hari ini kesetiaan kalian sebagai prajurt Dedgard diuji. Di hadapan kalian adalah daerah yang harus ditaklukkan. Kalian mati atau hidup pada pertempuran ini, tujuan kalian cuma satu, yaitu mengalahkan Klosva, Raja Aldemaria. Menduduki tanahnya dan menjadikan kekuasaan Dedgard menjadi lebih sempurna.”
Suara gemuruh para prajurit menyatu dengan suara angin padang pasir. Suara yang mengerikan, menyayat hati, seperti suara nyanyian alam. Dedgard, siapa yang bisa mengalahkannya? Di pihaknya sekarang banyak sekali pihak-pihak yang mendukungnya. Dan kali ini pasukan yang diterjunkan tidaklah main-main. Sekitar 100.000 orang, belum ditambah pasukan udara Wyvern yang masih belum tampak.
“Aku Luerthe akan menyerang Aldemaria dari barat. Aku akan mencincang Dragon Lord, dan darahnya untuk kalian agar kalian bisa hidup abadi. Dan kalian cincang para prajuritnya dari depan. Mereka terlalu meremehkan D Knight. Aku dan nagaku akan mengoyak mereka seperti srigala yang mengoyak mangsanya”, kata Luerthe. “Maju!!!”
Sangkakala ditiup. Genderang penyemangat ditabuh. Kali ini pertempuran yang luar biasa bakal terjadi. 100.000 pasukan berjalan merayap. Mereka berjalan dengan cepat tampak para Kull dan Troll ada di depan. Di tengah ada para Mist yang mereka tak menyentuh tanah sama sekali. Di belakang para Goblin dengan senjata tombak dan pedang. Mereka menderu seperti suara genderang. Hentakan kaki mereka menakutkan dan gerakan mereka sangat cepat.
Di sisi gerbang Aldemaria tampak suasana yang mengejutkan dan membuat panglima mereka pucat. Pasukan Dedgard telah bergerak. Dari padang pasir yang luas, mereka terlihat seperti gerombolan semut hitam yang bergerak sangat cepat. Sangkakalapun ditiup, sebuah suara yang sangat tidak dinantikan itu pun datang.
“Mereka sudah bergerak!!”, seru salah seorang prajurit. “Bersiaplah untuk bertahan!!!”
Dari dalam istana, seorang berjanggut putih dengan mahkotanya duduk di sebuah singgasana sambil memejamkan mata. Baju besi yang dipakainya mengkilat-kilat terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela kastil. Para panglima yang ada di hadapannya siap untuk menerima perintah.
“Yang Mulia, mereka sudah bergerak. Ancaman itu tak main-main”, kata salah seorang panglima. “Yang Mulia!?”
Sang raja membuka matanya. Wibawa yang dia tampakkan benar-benar luar biasa, membuat seluruh panglima langsung menundukkan kepala mereka. Sang raja menghela nafasnya. Ia berdiri, diangkat pedangnya yang mempunyai pelindung terbuat dari emas. Kemudian ia menatap seluruh mata yang sedang menunggu perintahnya.
“Aku menjadi raja ini bukan untuk diriku sendiri, tapi karena perintah ayahku yang menjadikan Aldemaria menjadi bebanku. Aku memerintah karena aku mempunyai tanggung jawab yang berat. Menjadi raja bukan pilihanku, tapi menjadi raja adalah takdirku. Kalau pun aku mati dalam pertempuran ini, maka dunia ini sudah berakhir, tak ada yang bisa kita harapkan lagi. Segalanya telah musnah. Tapi, kita harus berjuang. Memang kekuatan musuh di depan kita bukanlah bayangan, tapi kenyatan. Kita hanya punya satu jiwa. Kita harus mengalahkan mereka, atau kita yang kehilangan harga diri, kehormatan dan dunia ini.
“Rockdown telah dipersiapkan para pemanah dan prajurit tombak. Dari sebelah barat para penyihir telah bersiap untuk serangan-serangan yang berbahaya, dari timur ada padang rumput yang sangat luas. Serangan yang paling berbahaya adalah dari arah depan dan timur. Sekalipun terbuka peluang untuk itu, aku ingin seluruh orang bersungguh-sungguh juga menjaga daerah barat dan belakang. Kita tak tahu musuh akan menyerang dari mana. Prajuritku, bersiaplah berperang, hari ini….nyawa kita dipertaruhkan!!”, kata-kata raja itu langsung disambut teriakan ‘Aye!!’ oleh seluruh panglima yang ada di sana.
Raja kemudian berjalan dengan menenteng pedangnya. Langkahnya yang berat dan terburu-buru membuat seluruh lorong menjadi seperti gempa. Sang raja kemudian berkata kepada salah seorang panglima, “Pastikan ratu dan keluargaku di tempat yang aman!!”
“Kami sudah mengungsikan mereka dengan menggunakan Baron”, kata salah seorang panglima. “Tujuan mereka adalah Pohon Nafalus, satu-satunya tempat yang mana Dedgard tak akan berani mengusiknya.”
“Bagus, aku berhutang nyawa padamu”, kata raja. “Baiklah, aku ingin melihat pasukan mereka.”
Raja pun keluar dari dalam kastil. Ia berada di puncak benteng bersama pasukan panah yang sudah berjaga-jaga di sana. Raja mengambil teropong dan melihat pasukan musuh dari jarak jauh. Dan ia sama sekali tak akan percaya terhadap apa yang ia lihat.
“Demi Tuhan yang menguasai alam ini, aku tidak akan percaya melihatnya terkecuali dengan kepalaku sendiri. Kalian semua siap?”, tanya Raja.
“Kami siap kapan pun paduka minta”, kata sang panglima.
Bendera Aldemaria adalah bergambar singa dan pedang. Dua singa tampak mencoba meraih pedang ksatria. Bendera itu berwarna dasar merah. Bendera itu tampak berkibar di bawah sang raja. Dan ia melihat dari kejauhan sesuatu yang melayang di udara, seperti kumpulan burung yang terbang menjauh. Sang raja mengamatinya dengan seksama.
“Burug pemakan bangkai?”, gumam panglima.
Raja berpikir sejenak, ia merasa ada yang aneh. Kawanan burung itu menuju ke barat. Untuk sesaat ia tak curiga, tapi ada perasaan ingin tahu yang mendalam di dalam dirinya, pasukan musuh di depan yang makin dekat di tambah kawanan burung yang terbang menjauh. Apa yang terjadi? Sang raja mengarahkan teropongnya ke arah kawanan burung itu. Dan dilihatnya sesosok makhluk yang mengerikan. Mereka seperti kawanan kelelawar, menyeringai dan saling mendahului. Wyvern!!
“Celaka, para penyihirku….bagaimana mereka?”, tanya raja.
“Mereka telah siap di hutan Fogus”, jawab sang panglima.
“Jangan, jangan biarkan mereka berjuang sendirian. Celaka, dugaan kita salah. Dalam waktu ini kita tak akan sanggup menyusul mereka. Hutan Fogus dalam bahaya. Mereka menyerang lewat sana”, kata sang raja dengan wajah cemas.
“Tak mungkin”, kata panglima.
“Kirim berita ke para penyihir, mereka harus bersiap serangan yang besar, aku yakin Jagu dan Verta bisa melindungi Fogus, tapi aku melihat D Knight”, kata raja.
“D Knight?”, tentu saja hal itu mengejutkan sang panglima. “Celaka….”
Sementara itu pasukan musuh sudah mendekat dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka sekarang hanya tinggal beberapa saat saja untuk bisa menggempur gerbang kastil. Matahari sudah mulai turun menampakkan warna keemasan. Dan para penduduk sudah mengungsi ke dalam kastil. Tidak ada lagi yang tersisa di pedesaan terkecuali dua orang, yaitu paman dan bibi Nu.
“Aku tak akan pergi tanpa Nu”, kata bibi Nu. “Ia belum kembali”
“Kita terlalu lama di sini, kita harus berpikir positif kalau Nu sudah ke tempat yang aman. Ayo!!”, kata paman Nu.
Dengan mata berkaca-kaca bibi Nu mengikuti apa yang dikatakan sang suami. Dan dengan berat hati mereka meninggalkan rumah dan peternakan. Mereka harus ke tempat yang lebih selamat, karena itu satu-satunya cara agar mereka bisa mengetahui kabar Nu. Hanya membawa dua buntelan yang berisi pakaian dan beberapa potong keju, mereka berangkat. Dan mereka adalah orang yang terakhir kali menuju ke kastil.
Sementara itu Nu dan Verta berlari dan berlari menuju ke arah utara. Menembus semak belukar dan berbagai tanaman duri. Hawa dingin mulai terasa, matahari sudah mulai turun dan Nu makin ke arah utara.
“Bisa kau katakan dengan alasan yang lebih baik, kenapa kita tidak menggunakan teleport seperti yang kau gunakan tadi?”, tanya Nu.
“Energiku tak akan cukup kalau hanya untuk memindahkan kita langsung ke tempat tujuan”, kata Verta dengan benaknya.
“Tapi setidaknya kita bisa berpindah ke tempat yang lebih baik”, kata Nu sambil konsentrasi untuk tidak terantuk oleh akar pohon, sebab ia berkali-kali terantuk.
“Untuk memindahkan kita berdua, aku harus mempunyai energi yang sama seperti aku mengangkat tubuhku dan kau. Artinya sihir itu tidak asal mengucapkan mantra dan selesai. Sihir itu punya aturan, yaitu energi yang kau keluarkan sama seperti energi yang kau gunakan ketika tidak menggunakan sihir. Kalau kau menggunakan sihir memindahkan gunung, maka kau perlu energi yang cukup besar untuk itu, bahkan mungkin kalau tak sanggup kau bisa mati. Aku berjaga-jaga untuk menyisakan tenagaku untuk melindungimu, karena kau belum terlatih untuk menjadi seorang ksatria. Kau bahkan mungkin sekarang tak akan mampu untuk melawan sepuluh orang bersenjata lengkap. Kau belum siap, maka dari itu satu-satunya orang yang melindungimu sekarang ini adalah aku”, kata Verta dengan panjang lebar menjelasakan.
“Oh bagus, paling tidak aku tahu ternyata peri punya keterbatasan”, kata Nu dengan mulutnya.
“Sepertinya bahasamu bisa aku fahami”, kata Verta. “Aku akan mengajarimu bahasaku dan aku akan ingin kau mengajariku bahasamu, bagaimana?”
“Setuju tapi….”, Nu terantuk akar dan ia jatuh berguling. Lalu ia dengan terengah-engah melihat ke arah Verta yang masih berdiri dengan tubuh yang sangat ringan. “…apakah kau bisa mengajarkanku sihir seperti yang kau lakukan?”
“Belum saatnya, kau akan punya guru sendiri”, kata Verta. “Suatu saat kau akan mengerti hal ini”.
Tepat matahari menghilang pasukan Dedgard berusaha menembus tembok. Kull dan Troll membawa sebuah batu yang sangat besar dan panjang menghantam pintu gerbang. Di dalam, para prajurit menahannya dengan sekuat tenaga. Dan dari atas benteng, para pemanah beraksi. Ternyata para Troll dan Kull memakai tameng juga. Walaupun begitu beberapa orang terkena panah oleh serangan itu.
Para Mist bertindak. Mereka mulai maju dengan menggunakan sihir mereka. Di dalam kastil ternyata ada para penyihir yang lain. Raja juga memerintahkan mereka untuk menjadi pasukan bertahan yang menjaga pintu depan. Raja melihat peperangan itu dengan kecemasan yang luar biasa.
“Yang Mulia, kami sudah mengirim kavaleri ke hutan Fogus”, kata panglima.
“Sekalipun begitu, kita sudah terlambat. Mereka benar-benar habis-habisan menyerang kita”, kata sang Raja. Jenggotnya tampak berkibar tertiup angin. Raja pun memejamkan mata sejenak. Ia bingung apa yang seharusnya dilakukan.
Sementara itu para Wyvern telah sampai di pinggir hutan Fogus, dan mereka mulai menembakkan api-api dari mulut mereka. Walaupun kecil bola api mereka, tapi dalam jumlah banyak mereka bukanlah tandingan yang bisa diremehkan. Jagu memperbesar dan mempertebal pelindung hutan. Para penyihir dari Aldemaria mulai membantu Jagu. Mereka sudah masuk ke hutan dan menambah kekuatan pelindung.
Bola-bola api itu terpental. Pelindung hutan itu terlalu kuat untuk sebuah bola api yang kecil. Jagu tersenyum untuk beberapa saat, tapi yang paling tidak mengenakkan bagi dia sekarang ada di hadapannya. Sebuah benak yang sangat kuat dan jahat menembus pikirannya dan mencoba menguak apa yang ada di dalam pikirannya. Jagu harus konsentrasi pada sihirnya dan juga harus konsentrasi menghalangi orang itu masuk benaknya. Jagu berpikir, ‘Para penyihir istanakah? Tidak, ia adalah musuh, siapa?’
“Kau kira siapa dirimu berani menyerang hutan ini?”, tanya Jagu.
“Ternyata benar, seorang peri. Dan yang pasti aku tidak salah, aku bisa merasakan Dragon Lord, ia ada di sini”, kata Luerthe. “Dragon Lord!!”
Nu tiba-tiba terjatuh. Ia menutup telinganya, suara yang sangat memekik membuatnya pusing. Sebuah suara yang melengking yang ia sendiri baru pertama kali mendengar suara itu bahkan kini ada seseorang yang sedang ingin merasuki pikirannya, ia merasakan pikirannya bergerak sendiri. Langsung saja ia mengerahkan tenaga untuk menahan serangan orang itu. Melihat itu Verta tak tinggal diam, ia juga masuk ke pikiran Nu dan berjuang untuk menghalangi orang itu masuk ke benak Nu.
“Siapa kau?”, tanya Verta.
“Dragon Lord!!! Aku tahu kau Dragon Lord!! Dan dia adalah perimu”, kata Luerthe. “Aku Luerthe, bergabunglah bersama kami Dragon Lord. Hanya kau satu-satunya yang belum bergabung bersama kami. Kumohon jangan melawan, aku sudah membunuh puluhan D Knight hanya untuk mencari Dragon Lord. Dan kuharap kau tak melawan.”
Nu berteriak ia tak tahan lagi, emosinya bercampur aduk dan ia mengenyahkan dan menghempaskan Verta dan Luerthe dari benaknya. Verta sampai mundur beberapa langkah. Nu lalu menghadap ke langit. Ia bisa merasakan keberadaan Luerthe, Nu kemudian mencoba melawan Luerthe, ia mencari sesuatu di dalam pikirannya, dan ia kemudian menembukan sebuah benar berwarna merah, benang itu lalu menuntunnya pada sesosok manusia dan seekor naga. Naga yang kulitnya bersisik dan berwarna hijau. Naga yang sayapnya lebar, selebar yang ia lihat di mimpinya.
Luerthe melihat Nu dalam benaknya mereka seperti berhadap-hadapan. Ternyata Luerthe membiarkan Nu melihatnya karena Luerthe ingin melihat langsung bagaimana Nu itu.
“Masih anak-anak? Dragon Lord masih anak-anak? Tidak mungkin”, kata Luerthe. “Kau jangan bercanda”
“Aku tidak bercanda, aku akan dapatkan nagaku, dan aku akan mengalahkanmu. Lihat saja nanti, aku berjanji akan mencarimu Luerthe, sebab nagaku lebih hebat daripada nagamu. Aku akan mengalahkanmu”, kata Nu. “Tunggulah sampai aku dapatkan nagaku, kau tak akan ada apa-apanya bagiku.”
“Kapankah saat itu? Oh…aku sudah tidak sabar”, ejek Luerthe. “Kau masih anak-anak, banyak potensi yang harus kau gali. Ikutlah denganku dan kau akan kuajarkan menjadi D Knight sejati.”
“Tidak, aku akan menempuhnya dengan caraku sendiri, sebab aku adalah D Knight, aku yang akan menjadi raja di Aldemaria ini. Kau hanyalah sebagai orang yang tertinggal. Ingatlah kata-kataku!!”, Nu lalu menutup seluruh benaknya dan ia menggandeng Verta melanjutkan larinya.
Luerthe yang ada di langit hutan Fogus marah. “Bakar hutan ini Yarma!! Bakar!! Bakar!!! Jangan sampai ada yang tersisa!!!”
Dari mulut sang naga itu tersemburlah api yang sangat besar, namun masih saja api itu dihalangi oleh pelindung hutan itu. Jagu menyadari satu hal, “Aku tak bisa bertahan terus, naga itu akan terus menyerangku, aku tak punya kekuatan yang cukup untuk mengalahkan naga itu, seandainya ada Verta di sini, mungkin kekuatanku dengan naga itu akan imbang”.
Naga terus menyembur dan menyembur. Api itu terus mendesak. Jagu lalu bergumam dengan bahasanya, “Ye Harste Bagara Jazwa!!!”
Dan hutan itu bergetar hebat, tanah yang menjadi pijakan pohon-pohon pun bagaikan bergelombang. Dan pohon-pohon bersatu, mereka saling berpadu dan mengikat antara satu dengan yang lainnya. Suara dedaunan yang bergesekan membuat makin riuhnya suasana hutan. Para penyihir yang ada di hutan Fogus terkejut menyaksikan perubahan pada hutan itu.
“Apa yang terjadi dengan hutan ini?”, tanya salah seorang dari mereka.
“Kita harus pertahankan pelindung ini jangan sampai dirusak oleh para Wyvern-wyvern itu!!”, sahut yang lain.
“Kau benar, apapun yang terjadi kita tetap harus mempertahankan keadaan ini”.
Kini di atas hutan Fogus ada sesosok tiga pohon raksasa. Mereka tampak mempunyai mata dan mulut. Mulut mereka tanpa gigi seperti orang ompong, dan mata mereka menyala berwarna biru. Tangan mereka yang berbentuk aneh dan bergelombang memberikan kesan yang menggelikan sekaligus jijik, sedangkan mereka tak mempunyai siku, langsung jemari tangan yang bisa mereka ubah sekehendak hati mereka, bisa sepuluh, bisa dua puluh ataupun hanya sebuah sulur panjang yang bisa mengikat apa saja.
Naga hijau itu menghentikan semburan apinya. Ketiga pohon raksasa itu menembakkan dedaunannya ke arah Wyvern-wyvern, akibatnya puluhan wyvern tumbang akibat serangan itu, sang naga hanya berbekal pelindung api, sehingga daun itu tak menyentuhnya sama sekali. Daun-daun yang ditembakkan oleh monster pohon raksasa itu seperti sebuah pisau yang menembus apa saja yang melewatinya.
“Hahahahaha……., menarik sekali baiklah, aku tak tahu kalau kekuatanmu sekuat ini, aku akan mencabik-cabik dirimu”, kata Luerthe.
“Coba saja!!”, kata Jagu.
Terimakasih ……, mayan buat baca baca