jump to navigation

Dawn of The Dragons – bag 1 March 11, 2008

Posted by arczre in Fantasy.
Tags: , , ,
trackback

Dua Penjaga Hutan

Jauh di dalam sebuah hutan rimba, tempat di mana seluruh makhluk saling memakan, saling bertahan hidup di hukum rimba yang sangat agung, hiduplah 2 spirit yang satu bernama Jagu, yang satunya bernama Verta. Mereka berdua hidup tanpa terusik oleh satupun manusia yang berada di luar dunia mereka. Mereka berdua, setiap hari bersenang-senang, menjaga hutan, bermain bersama teman-teman mereka di hutan, yaitu para binatang, dan juga spirit-spirit yang lainnya.

Jagu adalah spirit yang mempunyai sayap seperti kupu-kupu. Tubuhnya seperti manusia pada umunya, telinganya panjang dan rambutnya berwarna putih. Sedangkan Verta, adalah spirit yang mempunyai sayap seperti sayap kelelawar berwarna. Tubuhnya juga mirip manusia dan rambutnya berwarna ungu. Mereka berdua adalah kakak beradik. Lahir dari kuncup bunga Farga, yang menyerap air kehidupan Luth.

Di Aldemaria, Luth dipercaya sebagai pembawa kehidupan. Sebuah spirit yang sangat besar yang hidup di dalam inti bumi. Manusia dan ras-ras lain di Aldemaria percaya bahwa Luth melindungi mereka, dan memberikan kehidupan mereka. Mereka juga mengenal Ramsus, sebagai spirit yang jelek, yang mana tugasnya hanya merusak dan merusak. Di Aldemaria, ada sekte-sekte agama yang mereka menganggap Luth sebagai dewa, ataupun Ramsus yang juga dianggap sebagai dewa.

Matahari menyinari bumi Aldemaria. Cahayanya mencoba masuk ke sela-sela dedaunan yang rindang di belantara hutan. Tampak dari pegunungan Fogus kabut masih membumbung, walaupun matahari telah menyinarinya, tapi tak mampu menghilangkan gumpalan kabut yang tebal itu.

Anak tupai melompat dari dahan pohon satu ke dahan yang lainnya. Mereka seakan-akan tidak khawatir kalau mereka akan jatuh dengan keahlian mereka melompat-lompat seperti itu. Ekor mereka naik ke atas dan sesaat kembali turun untuk menyeimbangkan tubuh mereka agar tidak jatuh ke tanah. Mereka tersentak dan menghindari sesuatu ketika tiba-tiba sesuatu yang lebih besar terbang melintasi mereka.

Sesuatu itu adalah Jagu dan Verta. Mereka sedang bermain kejar-kejaran. Jagu mengejar Verta. Menghindari pepohonan yang menghalangi terbang mereka. Jagu tampak kelelahan dan ia hampir saja menabrak pohon kalau tidak konsentrasi. Ia lalu tersangkut sebuah dahan dan jatuh ke bawah. Suara jatuhnya terdengar halus seperti dedaunan yang disebar.

Para peri mempunyai keistimewaan. Seluruh tanaman tunduk pada mereka, sehingga ketika Jagu jatuh ke bumi, rerumputan dan tanaman jalar saling menyulam dan bertumpuk membentuk sebuah tempat tidur yang sangat besar. Jagu jatuh di atasnya dengan nyaman.

“Terima kasih teman-teman”, kata Jagu.

Verta terbang menghampiri Jagu, “Kau tak apa-apa? Kemampuan terbangmu lemah, mungkin ini disebabkan karena kau terlalu banyak makan buah Chery”.

“Jangan menuduhku sembarangan”, kata Jagu. “Kau lihat sendiri, sayapku lebih kecil daripada sayapmu!!”

Verta tersenyum jahil. Ia lalu menjatuhkan diri ke tanah, dan hal yang sama juga dilakukan oleh tanaman-tanaman yang lainnya. Mereka saling bertumpuk dan menyulam membentuk sebuah tempat tidur yang empuk. Verta berbaring di atasnya. Kemudian pepohonan pun seperti menutupi mereka berdua. Sebuah pemandangan yang tidak akan bisa disaksikan oleh manusia biasa. Sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Itulah kehidupan para peri. Mereka dihormati oleh tanaman dan mereka sangat mencintai tanaman. Ada sebuah legenda bahwa para perilah yang memberikan kehidupan pada tanaman-tanaman.

“Jagu, kau tak pernah tahu bagaimana kehidupan di luar sana”, tanya Verta.

“Kenapa kau tanyakan hal itu?”, tanya Jagu.

“Aku ingin tahu apakah ada peri-peri lain selain diriku di luar sana, dan apakah mereka baik-baik?”, tanya Verta.

“Kita adalah penjaga hutan Fogus ini Verta! Ingat apa yang dikatakan Luth pada kita”, kata Jagu. “Kita harus melindungi hutan ini dari apapun, sebab sekarang ini kekuasaan Ramsus sudah semakin mendesak kita”.

Verta mendesah, “Aku ingin bertemu dengan peri-peri yang lainnya. Apakah mereka punya tugas yang sama seperti kita menjaga hutan ini, ataukah tidak”.

“Aku heran satu hal”, Jagu bangkit.

Verta menoleh ke arahnya, “Heran apa?”

Jagu menoleh dan melihat sayap Verta yang dilipat seperti buku, “Kenapa kau punya sayap seperti kelelawar sedangkan aku seperti kupu-kupu?”

Verta mengerutkan dahi, ia juga mencoba berpikir.

“Menurutku ini aneh kalau dikatakan kita bersaudara, tapi kata Luth kita memang bersaudara, tapi kenapa sayap kita berbeda?”, tanya Jagu kepada Verta.

“Sebenarnya aku juga bertanya demikian, tapi mungkin kita punya keistimewaan yang tidak dimiliki oleh peri-peri lain. Luth hanya memberi kita kemampuan seperti ini, kita harus mensyukurinya”, kata Verta. Ia bangkit dan berdiri di atas ranjang anyaman itu. “Walaupun kita ini berbeda tapi aku tetap menganggapmu sebagai saudaraku.”

“Hahaha….sebenarnya perkataanmu itu makin membuatku penasaran, apa yang diinginkan oleh Luth”, kata Jagu. “Aku ingin bertemu dengan Luth lagi”.

Verta mengembangkan sayapnya. Ia pun terbang ke atas.

Jagu bertanya, “Kau mau ke mana?”

“Aku mau berkeliling sebentar, siapa tahu ada hal-hal yang bisa kutemukan di sekitar sini”, kata Verta. “Aku yakin setelah 200 tahun kita berada di sini pasti ada sesuatu yang baru. Aku ingin menjelajahi daerah timur”.

“Jangan jauh-jauh, kita tak boleh keluar dari hutan ini. Ingat apa yang terjadi padamu ketika kau keluar dari hutan ini”, kata Jagu.

“Ya…ya, aku tahu”, kata Verta dengan kesal.

Hutan Fogus adalah hutan yang sangat luas. Verta tidak tahu kalau di sebelah timur hutan ini ada sebuah pekarangan yang sangat luas. Sebuah peternakan yang di peternakan itu ada sebuah rumah yang sangat sederhana. Tampak seorang anak kecil berusia 14 tahun sedang berada di teras rumah mengasah pisau dan anak panah.

“Nu, kapan kau mau berangkat? Ini sudah siang!! Aku takut kita tak punya makanan. Cuaca beberapa hari ini buruk, dan beruntunglah karena ada matahari. Berburulah!!”, kata sebuah suara dari dalam rumah.

“Baiklah bi”, kata Nu.

“Cepatlah berangkat!! Penjualan keju kita sudah menurun dan pamanmu belum pulang dari kota sejak 3 hari ini”, katanya lagi.

Anak itu mengambil busur yang tergeletak di teras. Ia mengeratkan tali sepatunya dan memasukkan pisau belatinya ke sarungnya. Ia mengatur rambutnya yang acak-acakan tertiup angin dingin. Rambutnya yang berwarna hitam berkilau terkena sinar matahari. Ia mengerang lalu berdiri. Ia berlari-lari kecil menghampiri halaman peternakan yang luas.

Baginya ia tak pertama kali berada di hutan. Pamannya selalu mengajarinya untuk bisa memanah dan berburu. Cara mengetahui jejak rusa, dan juga bagaimana cara menyembelih mereka, juga menghindarkan bau darah rusa dari binatang buas lain yang sedang kelaparan.

Serangga-serangga berlarian menghalangi pijakan Nu. Dia menyeberangi halaman peternakan yang puluhan kali lebih panjang daripada tubuhnya itu. Dia sendiri sebenarnya agak merinding juga dengan hutan Fogus. Karena dia pernah mendengar cerita orang-orang di pasar kalau hutan Fogus terkenal angker. Katanya ada 2 hantu yang menjaga hutan ini. Sesaat bulu roma Nu berdiri ketika mengingat-ingat cerita itu. Teman-temannya di kota semisal Jerry, Dra dan Kam tidak menakut-nakutinya dengan cerita-cerita seram.

Semisal cerita tentang seorang saudagar yang hilang setelah memasuki hutan Fogus. Atau seorang anak kecil yang tidak pernah lagi kembali setelah masuk hutan Fogus. Cerita-cerita itu ditepis oleh bibi dan pamannya. Mereka mengatakan, “Kau itu anak yang pemberani, mana mungkin bisa ditipu cerita murahan seperti itu. Ingatlah kalau ayahmu itu seorang ksatria. Kau harus tiru ayahmu sebagai ksatria juga. Karena warisan ayahmu inilah kau mempunyai peternakan ini dan kami juga merasakan hasil dari kebaikannya”.

Nu hanya mengangguk-angguk mengingat-ingat lagi kata-kata bibinya itu. Ia tak takut terhadap hutan Fogus. Bahkan kalau perlu ia bisa melawan monster yang lebih besar daripada hutan Fogus–kalau ada kesempatan. Yang dilakukan oleh seorang pemburu adalah mencari jejak binatang buruannya. Tentunya Nu telah diajarkan untuk mengetahui dan mengenali jejak binatang. Mulai dari binatang buas, melata, bahkan sampai hewan berkaki seribu. Nu juga harus faham berapa jarak yang harus ia lakukan untuk menembakkan anak panahnya. Nu juga harus belajar membedakan air kencing rusa dengan air kencing manusia. Ia masih ingat bagaimana pamannya mengajarinya untuk mencium air kencingnya yang sangat bau. Dengan air kencing rusa yang baunya seperti bau dedaunan.

Pamannya mengajarkan. Kalau ingin berburu rusa, maka ia harus masuk lebih dalam lagi ke hutan. Sebab rusa-rusa hutan tidak mau dekat dengan pemukiman manusia. Mereka lebih baik menjauh dan menghindar. Sedangkan para pemangsa biasanya mereka menjauh dari pemukiman dan memilih tempat yang luas. maka tugas dari seorang pemburu adalah mencari sebuah tempat yang luas di hutan. Yang mana mereka harus berlomba siapa yang paling duluan untuk bisa mendapatkan buruan mereka lebih dulu daripada para pemangsa.

Nu sampai di sebuah tempat dengan air yang mengalir. Berjalan selama satu jam di siang bolong dengan matahari yang hangat membuatnya sedikit lelah. Jalanan terjal dan tidak ia jumpai satupun jejak binatang selama ia berjalan tadi. Ia membawa kompas di celananya yang ia hanya bertaruh pada kompas itu daripada mengikuti kata hatinya untuk menebak arah. Ia tak lupa untuk menandai tiap batang pohon yang ia lewati.

Saat itulah Verta merasakan sesuatu. Ia memicingkan matanya seperti elang. Ia bisa melihat sampai ke tempat yang sangat jauh dan merasakan benak setiap makhluk yang ada di dekatnya. Ia memperluas jangkauan benaknya dan melihat seseorang yang membuat hatinya berdesir. Seorang anak manusia, darah seorang ksatria.

Ada sebuah cerita di Aldemaria. Para peri wanita akan tertarik pada darah seorang ksatria. Ia akan jatuh cinta pada ksatria tersebut, apabila ksatria itu darahnya masih murni dan belum terjamah oleh kejahatan. Verta merasakan detak jantungnya semakin kencang, ia pun menghampiri dan mengawasi Nu dari jauh.

Nu merasakan sesuatu. Ia melirik ke kiri ke kanan. Ia mencium sesuatu yang sangat harum. Ia tak tahu dari mana arah bau yang wangi itu. Tampak pohon-pohon yang ada di sekitarnya menari-nari. Sensasi ini terus-terang membuatnya serasa bergidik. Lalu dari jauh ia melihat sesuatu. Seekor hewan berkaki empat tampak berdiam diri dan waspada. Nu membungkuk dengan perlahan. Ia menyipkan busurnya. Verta melirik ke arah rusa itu.

“Oh tidak, ia akan mencelakai Sprong!”, pekik Verta. “Sprong, pergi dari sana!!”

Rusa itu tak menggubris. Nu semakin mendekati jarak tembak ke rusa itu. Ia terus berkonsentrasi. Terus terang bau wangi itu mengaburkan indera penciumannya untuk mencium kencingnya rusa. Tapi beruntunglah rusa itu sudah menampakkan diri. Di benaknya Nu bisa membayangkan ia di rumah makan bersama paman dan bibinya dari hasil buruannya.

Verta tak mau tinggal diam. Ia segera melesat dengan kecepatan luar biasa untuk menuju ke arah sang rusa agar segera menghindar. Dan di saat bersamaan Nu sudah pada jangkauan tembak. Ia segera melepaskan anak panahnya, sang rusa tiba-tiba berlari dan Verta terbelalak. Ia tak tahu kalau rusa itu sudah bersiaga untuk hal ini. Yang terjadi adalah panah itu menancap di tubuh Verta yang berusaha melindungi rusa itu.

Nu kaget. Ia tak percaya hal itu. Pikirannya mulai mengarah ke mana-mana. Ia mulai menerawang lagi tentang cerita teman-temannya yang menghantui dia selama ini tentang hantu di hutan yang menyeramkan dan sebagainya. Ia menelan ludah. Verta mengerang kesakitan.

Nu segera menghampiri sesosok makhluk yang baru saja ia temukan itu. Bagi Nu, hal itu amatlah aneh. Kenapa ada makhluk yang tiba-tiba muncul terbang, menghampiri rusa? Apa dia pemakan rusa? Kalau tidak, maka hal itu adalah tindakan terbodoh yang pernah dilakukan oleh makhluk ini. Sebab mungkin saja rusa tadi sudah lebih waspada karena mengetahui kedatangan Nu.

Aww….sseiyyzz(Aw…sakiitt)”, kata Verta dalam bahasa yang sangat asing bagi Nu.

“Kau tak apa-apa?”, tanya Nu. Ia agak ketakutan melihat tubuh Verta. Tubuhnya mendarat di atas tumpukan tempat tidur yang terbuat dari anyaman dan tumpukan rumput. Seakan-akan ia tak pernah menyentuh tanah sedikit pun. Dan di pundaknya tampak anak panah Nu yang menancap.

Verta mengejap-ngejapkan mata. Ia tak percaya ksatria kecil itu mendekatinya dan memanahnya. Baginya panah yang menancap di pundaknya itu adalah panah asmara. Dadanya makin berdesir kencang. Ia takut tak kuat menahannya. Telinganya yang runcing bergerak-gerak seperti sayap kecapung. Sayap kelelawarnya menutup seperti buku. Hal itu tak bisa disembunyikan oleh Verta.

“Kau punya sayap, apakah kau hantu?”, tanya Nu.

An legass furr ta(Aku tak mengerti bahasamu)”, jawab Verta.

“Aku tak mengerti bahasamu, biar aku bantu mencabutnya”, kata Nu. “Maaf atas perlakuanku tadi, salah kau sendiri terbang di depan rusa itu, padahal sang rusa sudah lari duluan”.

Verta, mulai menembus pikiran Nu. “Tolong aku!!”

Nu, tersentak. Ia mundur beberapa langkah, “Kau baru saja masuk pikiranku”.

“Cabut benda ini”, bibir Verta tertutup. Nu yakin bahwa makhluk yang ada di depannya itu bicara padanya dengan pikiran.

“Bagaimana kau bisa mengerti bahasaku?”, tanya Nu.

“Bicaralah dengan pikiranmu, aku tak akan mengerti dengan bahasa mulut manusia”, kata Verta.

Nu mengangguk, ia bicara dengan benaknya, “Bagaimana kau bisa tahu bahasaku, dan bicara dengan bahasaku di dalam pikiranku?”

Verta menjawab,”Pada dasarnya pikiran manusia itu satu bahasa. Siapapun orangnya pasti akan faham, bahkan bahasa hewan pun bisa difahami dengan memahami benak mereka”.

Nu, terkagum-kagum lalu menghampiri Verta. Ia mendekati Verta dan memegang anak panah yang menancap di pundak peri cantik itu. “Ini agak sakit, tahanlah.”

Nu hanya mengerti sedikit pengobatan dari pamannya. Ia akan praktekkan cara mencabut anak panah. Ia pegang ujung anak panah dan menekan pundak Verta dengan tangan kirinya lalu ditariknyalah anak panah itu. Verta menjerit sedikit. Darah peri mengalir dari luka itu. Darahnya sama merahnya dengan manusia, namun mempunyai pengaruh lain. Ketika darah itu jauh di atas dedaunan, daun-daun itu langsung mengembang dan menjulurkan untaian tangkainya lalu menutupkan diri di luka sang peri.

Maksud Nu ingin memberikan perban di luka Verta, tapi dedaunan itu telah menutupnya dan membuat sebuah balutan yang tak bisa dibuat oleh manusia. Kejadian ajaib itu membuatnya terperangah.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”, tanya Nu.

“Mereka menganggap para peri adalah yang membuat mereka hidup. Aku dan kakakku adalah peri penjaga hutan Fogus ini”, kata Verta.

“Kau punya adik, berarti benar cerita orang-orang bahwa ada dua hantu yang menjaga hutan ini. Mungkinkah itu kalian?”, tanya Nu.

“Memang benar ada beberapa manusia yang pernah masuk dan merusak hutan ini. Sebagian mereka tersesat selamanya di hutan ini dan bertahan hidup di hutan, dan sebagian lagi dikutuk menjadi rusa. Salah satunya rusa yang ingin kau buru tadi. Namanya Sprong. Ia adalah anak kecil yang nakal. Ia dikutuk gara-gara ingin membakar sebuah pohon yang di dalamnya ada koloni semut”, jelas Verta.

“Maksudmu, rusa tadi sebenarnya adalah rusa jadi-jadian?”, tanya Nu.

“Iya”, kata Verta.

“Kenalkan namaku Nu Grandia”, kata Nu sambil mengulurkan tangannya.

“Aku Verta”, Verta menundukkan kepalanya sambil meletakkan pergelangan tangannya di dahi.

Nu menganggap itu adalah salam peri. Nu tersenyum. Ia mulai tertarik dengan sang peri. Sesaat ia lupa terhadap tujuannya masuk ke hutan belantara ini. Ini adalah pengalaman pertama kalinya bertemu dengan seorang peri, apalagi sampai melukai sang peri.

“Aku sedang mencari buruan untuk makan malam, aku ingin minta ijin berburu di hutan ini, kau mengijinkannya?”, tanya Nu.

“Jangan berburu di sebelah timur ini. Berburulah di sebelah utara. Sebab di timur ini banyak orang-orang yang dikutuk. Di sini banyak makhluk hidup yang pada mulanya adalah manusia lalu dikutuk menjadi binatang gara-gara mereka melanggar aturan yang ada di hutan ini. Suatu saat mereka akan kembali lagi jadi manusi apabila kutukuannya telah selesai. Daerah timur ini terlarang untuk dijadikan tempat berburu.”

Nu mengangguk-angguk. “Tapi daerah utara jauh dari sini, aku harus memutar lagi kalau ke sana”.

“Kau bisa kuajak terbang”, kata Verta.

Nu terkejut. Verta berdiri dan sayapnya mengembang. Dan ia melihat dedaunan berguguran dari lukanya. Luka itu sembuh. Nu benar-benar dibuat tidak percaya lagi. Ia seakan-akan mimpi melihat hal tersebut.

Verta meraih tangan Nu, “Pegangan!! Yang lainnya, tolong jangan daerah timur ini!!”

Nu dengan sekejap sudah berada diantara sela-sela pohon. Ia melayang di udara mengikuti kepakan sayap Verta. Verta membaca sebuah mantra, “Levirote!!” Ia melepaskan pegangan Nu. Nu takut jatuh, tapi ia melayang di udara. Ia senang sekali, tapi hanya melayang di tempat.

Sebuah benak menembus pikirannya, “Anggaplah kau mempunyai sayap, kau bisa terbang sekarang”

Nu kemudian mengikuti saran Verta. Ia mengayuhkan kakinya di udara dan setelah itu terbanglah ia dengan cepat menabrak sebuah pohon besar. ‘BRUUKK!!’

“Aww…!!”, setelah itu Nu tidak sadarkan diri.

Comments»

1. Black_Claw - March 12, 2008

Pertamax.
Etapi, itu ending sison pertama kurang bikin penasaran.

2. dKazuma - March 12, 2008

Kasi ilustrasi dunk..

3. Abe Poetra - March 12, 2008

Belum baca, yg penting komeng dulu.

4. si_twocool - March 12, 2008

mantap buu, tapi emang bener kata blek ending part pertamanya kurang greget dan kurang pas kali yah pemotongannya.
Kepikiran dunianya dawn of mana euy, jadinya gw mikir pas baca pertamanya gak semua peri itu cewek, gw kira si jagu sama verta itu cowok ^_^

5. nFath Chibifish - March 12, 2008

Naishoo… naishoo abu-sama… naishoo job..

6. エッス - March 14, 2008

bikin pdf dong bu :D biar bisa dibaca di rumah…