Syahid itu Tinggal Mimpi February 6, 2008
Posted by arczre in Cerpen.Tags: Cerpen
trackback
Aku mematut diri di depan cermin. Hari ini presentasi pertamaku. Aku harus terlihat confidence di hadapan dosen dan seluruh teman sekelasku. Kumasukkan seluruh bahan yang kuperlukan ke dalam rangsel hitamku. Kini, aku siap menimba ilmu di kampus.
Si mungil HP terdengar merengek dalam tas ku. Tanda masuknya sebuah panggilan baru..
1 Missed Call
Ratih, sahabat setiaku yang memang hari ini ada rencana untuk berangkat bersamaku. Tak kuhiraukan panggilan itu. Paling-paling dia hanya mengingatkanku untuk segera menjemputnya di rumah.
Segera kustarter motorku. Tentunya setelah kupakai helm dan slayer biru kesayanganku. Bismillahirrohmaanirrohiim. Kalimat singkat itulah yang selalu terucap dari bibirku ketika akan memulai segala sesuatu.
Tilililit….tililit
“Eh iya, dah siap presentasi kan? Laporan kemarin gimana? Ah, udah deh, mending ntar dibahas di rumah aja ya”
“Putri….” Suara sengau terdengar dari seberang sana.
“Ya?”
“Kayaknya hari ini aku ga kuliah”
Kuhentikan motorku.
“Kenapa Tih? Sakit? Ada masalah?” Beruntun pertanyaan kuajukan padanya. Tak ada jawaban. Hanya isak tangis yang kudengar. Ratih menangis? Sungguh sesuatu yang aneh. Ia adalah gadis energik yang pantang putus asa. Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Aku terdiam. Kubiarkan ia meluapkan buliran air matanya.
“Ibu Put…Ibu” Hanya kata itu yang kudengar.
Kumatikan starter motor dan kulepas slayer demi mendengarkan cerita singkat Ratih.
“Ibu? Kenapa Ibu?” Pikiranku langsung teringat pada sosok ibu cantik yang hampir dua minggu ini terbaring lemah di rumah sakit karena stroke yang dideritanya.
“Ibu meninggal”
“Innalillahi wa inna ilaihi roji’un”
Hatiku runtuh. Air mata ini tak kuasa tertahan. Kata-kata motivasi yang biasanya kuucapkan saat sahabatku menangis pun tak sanggup terucap.
“Put…kok diem? Afwan ya kalo buat kamu ikut sedih. Aku cuman mau ngasih tau aja, kalo hari ini aku ga bisa kuliah. Dah sana kamu brangkat. Ntar telat lho” Ratih sepertinya bisa menangkap rasa sedihku dan berusaha mendinginkan suasana.
“Aku kesana sekarang”
“Lho?Huh Jangan. Sekarang kan harus kuliah. Waktunya presentasi lagi. Mending kalo mau kesini, nanti aja abis kuliah”
“Nggak. Mending aku kehilangan nilai presentasi pertama daripada membiarkan saudaraku disana menangis karena kehilangan ibunya”
“Iya, tapi kan…”
“Assalamu’alaikum” Putusku akhirnya, tanpa mempedulikan kata-katanya lagi.
* * *
“Jadi sekarang mau kemana lagi, Tih?” Tanyaku di sela – sela perjalanan menuju masjid kampus.
“Ga tau lah Put, lama – lama capek juga kalo gini terus. Nyari pekerjaan tuh ternyata susah banget ya. Mana adik – adik udah pada minta bayar SPP lagi” Jawabnya dengan nada lelah.
Sudah hampir seminggu ini Ratih mondar mandir mencari pekerjaan untuk menghidupi kedua adiknya yang masih duduk di bangku sekolah. Berbagai cara ia tempuh. Mulai dari melamar ke beberapa perusahaan besar, mengajukan diri sebagai pelayan di restoran, sampai menawarkan diri untuk bekerjasama dengan sebuah Lembaga Bimbingan Belajar. Namun semuanya belum memberikan hasil pasti. Perusahaan yang bergelut di bidang informasi teknik serta merta menolak lamaran Ratih hanya karena tahu bahwa Ratih adalah seorang muslimah taat yang berkerudung. Begitu juga dengan restoran Fast Food yang sempat didatanginya beberapa hari yang lalu. Tanpa pikir panjang, pihak manajemen langsung menyatakan menolak lamaran begitu tahu kalau Ratih adalah wanita yang berkerudung. Entah apa yang ada d benak para manager itu tentang seorang wanita yang berkerudung. Sosok wanita berkerudung seakan – akan menjadi momok bagi mereka. Ah, ga tau lah. Sulit memang kalo bahas hal seperti ini. Hanya pihak LBB lah yang bersedia menerima keberadaan Ratih. Namun sampai saat ini masih belum memberikan hasil. Pihak LBB berjanji akan menelepon jika ada murid yang memerlukan tenaga otak Ratih untuk mengajarnya. Namun hingga detik ini kabar itu belum juga terdengar.
“Put” Sapanya tanpa ekspresi. Pandangannya menyentuh lantai tangga masjid yang kami lalui.
“Hmm” Jawabku enteng, sama dengan sapaannya barusan. Tetap tanpa ekspresi apapun.
“Ga jadi deh”
“Llhhhoooo?Huh Napa sih? Mo ngomong kok ga jadi?” Tanyaku terheran heran dengan sikapnya.
“Ga ah. Lupain”
Ratih menghela nafas. Aku mulai menangkap perasaannya. Pasti ada satu hal penting yang ingin ia sampaikan. Pandangan matanya terlalu sulit untuk menyembunyikan sebuah rahasia.
“Kenapa ukhti?” Bisikku halus.
Ratih masih tertunduk dengan ribuan tanda tanya. Kedua telapak tangannya menyatu dan meremas jari yang satu dengan lainnya. Bibir bawahnya digigit. Sungguh. Gerakan tubuhnya menunjukkan ada sebuah batu ganjalan yang tersemayam di dadanya.
“Misal….aku putus kuliah gimana Put?” Tanyanya akhirnya.
“Jangan” Kata itu spontan keluar dari bibirku dengan nada lumayan mengagetkan.
“Kamu tuh kakak pertama Tih. Harus bisa teladan buat adik – adik kamu. Sekarang kalau kamu mau memutuskan kuliah, lalu gimana dengan adik – adik kamu?”
“Aku pengen kerja”
“Kerja ga harus putus kuliah kan? Sekarang dalam status “mahasiswa” aja kita masih kesulitan nyari pekerjaan. Gimana kalo ga kuliah?”
“Tapi aku udah ga kuat Put. Aku capek. Aku merasa gagal menjadi seorang kakak. Kamu liat sendiri gimana Dini minta SPPnya segera dilunasi? Belum lagi setelah lulus SMA dia mau ikut SPMB dan meneruskan kuliah. Kamu juga tau sendiri gimana Nabil merengek minta dibelikan tas baru? Aku ga tega liat mereka. Aku harus berubah. Aku harus bisa mengalah. Aku ingin melihat kedua adikku bisa tersenyum bangga” Aku terdiam. Mutiara bening Ratih pecah di sela – sela cericit burung di kampusku. Kugenggam tangannya. Kubisikkan sebuah kata di telinga kirinya “Laa tahzan ya ukhti. Laayukallifullaha nafsan illa wus’aha”
***
Pengumuman IP semester keempat sudah keluar. Alhamdulillah, pangkat cum laude masih bertengger di bahu prestasiku. Pintu Ruang Dosen terbuka. Kulihat sosok seorang wanita berkerudung keluar dengan sorot mata tak bersahabat. Ada apa lagi dengan gadis itu?
“Assalamu’alaikum” Sapaku sambil menjabat tangan.
”Wa’alaikumsalam”
“Gimana non, IPnya?”
“Ga usah Tanya IP deh Put”
“Lho? Kok???”
“Aku kan udah bilang, aku pengen berhenti kuliah. Semangatku kuliah udah abis, Put. Dan lihat IPku semester ini. Semua merosot drastis. Pengantar manajemenku hanya dapat BC. BC Put. Nilai apa itu? Padahal dari semester ke semester aku selalu mendapat nilai A” Katanya sambil menunjukkan Indeks Prestasinya padaku.
“Udah lah, ngapain pusing sih. Nilai BC kan masih bisa diperbaikin. Tenang ajaaaa. Buktinya, dulu aku sempet dapet nilai C, dan ternyata sekarang malah dapet A. Bisa kan?” Hiburku sambil merangkulnya dan mengajaknya berjalan menuju kantin. Sepertinya ia menurut saja dengan ajakanku.
“Baksonya dua Pak” Pesanku pada pedagang bakso di kantin.
“Aku ga deh, Put. Jeruk anget aja satu” Katanya sambil menyatukan kepalanya dengan lengan di atas meja.
“Ya udah deh Pak. Baksonya ga jadi. Jeruk angetnya aja dua ya Pak” Putusku akhirnya. Tak mungkin aku menikmati bakso seorang diri, sedang di sebelahku, saudaraku sedang sedih dengan kondisi bathin yang berkecamuk.
Kutepuk pundaknya. “Diminum dulu, biar agak tenang” Lagi – lagi Ratih menurut.
Suasana sepi. Tak ada perbincangan diantara kami. Dari tadi Ratih hanya terdiam sambil menikmati minuman di depannya. Sedangkan aku sudah lelah mencari bahan pembicaraan. Hari ini sepertinya Ratih benar – benar shock dengan masalahnya. Aku paham. Kubiarkan saja ia terdiam lama. Mungkin ia ingin berkomunikasi dengan dirinya sendiri.
***
Tiga hari sudah aku berangkat kuliah tanpa Ratih. Ia sakit. Kata dokter, Ratih menderita asma akut. Kasihan juga melihatnya semakin hari semakin kurus saja. Matanya seringkali terlihat sembab. Mungkin karena terlalu banyak butiran air mata yang dikeluarkannya.
Belakangan ini tingkah lakunya sedikit berubah. Keaktifannya di UKKI semakin berkurang. Sholatnya sering telat. Beberapa hari yang lalu ia sempat menceritakan kegalauan hatinya. Ratih mengalami futur iman.
“Aku butuh duit, Put. Shalat dan aktif di UKKI ga bisa ngasih uang” Katanya suatu ketika di sela – sela obrolan kami di kamarnya.
“Astaghfirullahal’adzim Ratih! Istighfar!”
Kalimat istighfar pun berkali kali dibisikkannya.
“Aku futur Put. Tapi aku bingung gimana cara menghadapi masalah ini. Aku ingin shalat, tapi disisi lain aku merasa percuma. Selama ini aku shalat. Tapi apa hasilnya? Ibu meninggal. Dan sekarang….sekarang aku sulit mendapat pekerjaan. Katanya Allah selalu menolong HambaNya. Tapi mana, Putri?”
“Sabar Tih. Semua pasti ada hikmahnya kok. Bantuan Allah pasti dateng. Kita berusaha aja ya”
“Udah lah. Aku udah capek dengan semua teori itu. Kita berusaha aja ya, semua pasti ada hikmahnya. Ah, teori Put. Aku pengen lepas kerudungku. Mungkin dengan cara itu aku bisa mendapat pekerjaan yang bisa menghidupi keluargaku” Ratih berdiri. Dicangklongnya tas merah jambu miliknya. Kemudian berlalu dari hadapanku.
Ratih masih belum masuk kuliah. Entah ia masih sakit atau memang sengaja bolos. Hari ini aku berniat menjenguknya. Lagipula sudah lama aku tidak bersilaturrahmi dengan kedua adiknya. Dini dan Nabil.
“Assalamu’alaikum” Sapaku setelah melepas helm dan slayer yang kupakai.
“Wa’alaikumsalam. Eeh, mbak Putri. Masuk, Mbak” Jawab Dini yang asyik makan masih dengan seragam SMA yang belum dilepasnya.
“Wah, enak banget nih makanya”
“Hehehe” Tawanya manja sambil melahap suapan selanjutnya.
“Mbak Ratih mana, Din? Udah sembuh sakitnya?” Tanyaku berbasa basi sambil duduk di sampingnya. Sebenarnya aku bisa saja langsung meluncur ke kamarnya dan melihat langsung keadaannya. Namun rasanya kurang pantas bertamu langsung menuju kamar tuan rumahnya.
“Ada tuh di kamar. Sakitnya udah mending kok mbak. Cuman ga tau tuh, males kuliah katanya”
“Ya udah deh, mbak Putri ke kamarnya dulu ya”
Dini mengiyakan. Kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga. Memang, kamar Ratih berada di tingkat dua.
“Mbak Putri” Dini memanggilku. Spontan kuhentikan langkahku dan menoleh ke arahnya.
“Ntar kalo ngobrolnya dah selesai, ajarin aku matematika doong. Bentar lagi UAS nih. Pliiiiis” Mohonnya sambil menyatuka kedua telapak tangannya.
“Insya Allah” Kataku sambil tersenyum. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan menuju kamar Ratih.
Kuketuk pintu sambil mengucap salam. Kulihat Ratih asyik membaca sebuah buku di atas kasur.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam. Masuk Put” Jawabnya tanpa mengalihakn pandangan dari buku yang bersemayam di genggamannya.
“Ganggu ga nih?”
“Ga, biasa aja lagi. Gimana tadi kuliahnya?” Tanya sembari membalikkan tubuhnya menghadapku.
“Kok lama ga kuliah sih? Kata Dini sakitnya dah sembuh?” Tanyaku menyelidik. Seketika itu pula Ratih bangkit dari tidurnya. Buku yang dari tadi tak lepas dari pandangannya kini ditutupnya. Ia memandangku dengan wajah geram. Apa yang salah dengan pertanyaanku?
“Emang yang boleh ga masuk kuliah tuh cuman orang yang sakit ya?”
Aku tersenyum. “Jangan senewen gitu dong non. Ditanya baik – baik kok jawabnya gitu sih? Ga baik lho”
“Aku udah kerja, Put. Waktuku padat. Aku dapet shift pagi sama malem”
“Oh ya? Alhmadulillah….selamat ya. Kerja dimana?”
“Di Restoran” Jawabnya singkat seolah – olah menginginkan aku secepat mungkin mengehentikan runtutan pertanyaan itu.
“Hmm….trus kul….”
“Stop! Aku udah bilang. Aku tuh sibuk, Put. Lagian adik – adikku masih butuh uang banyak. Kalaupun aku gagal kuliah, kan nanti adikku bisa meneruskannya. Yang jelas aku ga mau kalau kedua adikku sampai putus sekolah”
“Mbak Ratiiih….beliin bubur ayam dong. Nabil mau maem” Tiba – tiba sesosok tubuh mungil muncul di depan pintu kamar. Rupanya itu nabil, adik kandung Putri yang masih berusia enam tahun.
“Eeeeh….baru bangun kok langsung minta maem. Mandi dulu gih biar seger. Tuuuh, Mbak Ratih bikinin nasi goreng buat Nabil. Hari ini ga usah beli bubur ayam dulu ya” Kulihat wajah polos Nabil sempat menunjukkan muka masam. Mungkin ia sedikit kecewa dengan keputusan kakaknya. Tubuh kecil tanpa dosa itu pun akhirnya pergi.
“Aaaaaaaaaaarrrgggghhhhh…..”
“Nabil!!!! Astaghfirullaha’adzim. Mbak Ratih….. Nabil, Mbak” Teriakan histeris Dini mengagetkan kami. Spontan kami pun berlari ke tempat suara itu berasal.
“Nabil!!!!” Kepanikan Ratih memuncak ketika dilihatnya tubuh mungil Nabil tergeletak dengan darah mengucur di pelipis kirinya. Rupanya ia terpeleset saat menuruni tangga. Tanpa dikomando, aku berlari ke kamar ratih untuk mengambil beberapa obat yang kurasa bisa sedikit meringankan sakit nabil.
“Kepalanya bocor, Tih. Dibawa ke rumah sakit aja. Kalo ga gitu bisa fatal” Saranku.
Aku duduk di bangku putih Rumah Sakit tempat Nabil dirawat. Kepalanya mengalami pendarahan cukup banyak. Dari tadi kulihat Ratih dengan wajah cemasnya tak henti – hentinya mondar – mandir di ruang ICU.
“Duduk dulu, Tih. Banyak istighfar” Saranku kemudian.
“Istighfar? Eh, Putri Maulani yang baik….istighfar tuh ga bisa nyembuhin Nabil”
“Oh ya? Trus? Apa dengan mondar – mandir kayak gitu bisa nyembuhin Nabil?”
“Alah! Udahlah Put. Aku males berdebat. Kita udah beda. Kamu punya argumen, aku juga. Sepertinya jalan pikir kita udah beda Put”
Kalimat istighfar terlantun dari bibirku. Allah….berilah saudaraku kekuatan tuk melewati batu ujianMu.
***
Nabil sudah diperbolehkan pulang kerumah. Mujahid kecil itu hanya menginap dua hari di rumah sakit. Kini, senyum ceria dan polah tingkah lincahnya mulai menghiasi griya mungil peninggalan ibunda Ratih.
Makin hari kulihat makin banyak perubahan terjadi di keluarga kecil Ratih. SPP Dini sudah terlunasi. Bahkan ketika gadis itu minta dibelikan sebuah ponsel, tanpa pikir panjang Ratih segera membelikannya. Juga ketika Nabil merengek minta dibelikan mobil – mobilan dengan harga yang relatif menguras kantong bagiku. Ratih pun lagi – lagi menuruti keinginan adiknya. Rupanya Ratih sudah dapat menikmati hasil keringatnya selama ini. Alhamdulillah.
“Mbak Ratih ga ada, Mbak Put. Masih kerja. Mungkin orang yang maem di restorannya belom kenyang” Jawab si kecil nabil ketika suatu hari kudatangi rumahnya untuk bersilaturrahmi.
“Iya Mbak. Lagi lembur kali.” Timpal Dini yang baru keluar dari kamar mandi.
“Emang biasanya Mbak Ratih pulang jam brapa, Din?”
“Ga mesti sih. Biasanya jam setengah sepuluh. Tapi kadang juga sampe malem. Mbak Ratih tuh sibuk, Mbak. Kalo pagi, jam sembilan dia udah berangkat. Waktu Mbak Ratih berangkat, aku masih sekolah. Trus waktu pulang, aku sama Nabil udah bobok. Jadi jarang banget ketemu. Untung udah ada Mbak Ina yang mau ngerawat Nabil dan masakin makanan buat kita” Paparnya panjang lebar sambil mengenalkan pembantu barunya.
“Mbak Ratih kerja di mana?”
“Ga tau Mbak. Katanya, ga penting. Yang jelas di restoran katanya. Mbak Putri nginep sini aja. Sekalian nemenin kita”
Tiga jam sudah aku becanda ria dengan mujahid dan mujahidah ini. Namun Ratih belum juga kelihatan batang hidungnya.
“Din, bener Mbak Ratih kalo pulang biasanya malem? Ini udah jam satu dini hari lho” Tanyaku mulai khawatir.
“Ga tau nih Mbak. Biasanya sih paling malem jam sebelas. Tapi kadang juga pernah nginep kok. Begitu pulang udah shubuh”
Rasa penasaran mulai menguasai diriku. Pekerjaan apa sebenarnya yang dilakukan Ratih. Jangan – jangan…..ah. Kok tiba – tiba aku bersu’udzon. Sudahlah, mungkin Ratih memang ada sedikit urusan. Mungkin salah satu rekannya memintanya untuk tidur di rumahnya. Mungkin besok Ratih harus masuk pagi, sehingga dia memilih untuk menginap, agar besok tidak terlalu terlambat datang ke tempat kerja. Atau mungkin benar juga kata Nabil. Mungkin orang yang maem disana belum kenyang. Hihihi…ingin rasanya tertawa mengingat celoteh jundi polos itu.
Berbagai prasangka positif berusaha kubentuk dalam otakku. Sudah jam dua belas malam. Kedua adikku pun sudah terbuai dalam mimpi indahnya. Demikian juga dengan Mbak ina, sang pembantu tangguh yang tak kenal lelah mengurusi rumah ketika Ratih sibuk dengan pekerjaannya.
***
Pagi menyeruak. Sang jago mulai menyombongkan kokok merdunya dengan angkuh. Mentari pagi sudah memancarkan sinar indah keemasannya. Embun pun mulai hinggap dan menyegarkan setiap ujung daun.
Kulihat jam dinding yang tergantung di kamar Ratih. Sudah shubuh. Segera aku membuka pintu kamar dimana Dini dan Nabil masih terlelap. Mungkin Ratih tidur disitu.
Kreeeek….
Decit pintu terdengar lumayan keras dan sempat menggeliatkan tubuh mungil Nabil. Namun sosok Ratih tak kulihat. Kututup kembali pintu kamar itu. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu. Siapa tahu Ratih ketiduran disana. Namun lagi – lagi aku dikecewakan. Ratih tak juga kutemui. Saudaraku….apa yang terjadi padamu?
“Udah bangun Mbak?” Suara Dini membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya nih. Udah shubuh. Shalat jama’ah yuk” Dini pun mengiyakan dan segera mensucikan diri tuk menghadap Sang Pemilik Jagad Raya.
Kriiiiiiing……
Mbak ina dengan sigap mengangkat gagang telepon.
“Assalamu’alaikum” Sapanya ramah.
“Wa’alaikumsalam. Betul ini rumah saudari Ratih Septianingrum?” Tanya suara di seberang sana.
“Benar. Tapi Mbak Ratih nya lagi ga ada tuh Pak”
“Justru kami menelpon untuk mengabarkan keadaan saudari Ratih”
“Sini Mbak” Tiba – tiba Dini menghampiri mbak ina dan mengambil alih gagang telepon.
“Maaf, ada apa ya dengan kakak saya?” Tanya Dini.
“Kami dari rumah sakit Graha Medika, mau mengabarkan bahwa saudari Ratih telah meninggal dunia karena kecelakaan?”
“Semalam ada razia PSK di kawasan lokalisasi. Saudara Ratih berusaha melarikan diri dari kejaran aparat. Namun Saudari Ratih terserempet sebuah mobil saat akan menyeberang”
“B….ba….baik. Saya akan segera kesana, Pak”
Telepon ditutup. Nabil masih menguap walaupun air wudhu telah mengguyur mukanya..
“Kenapa Mbak Ratih Din?” Tanyaku menghampiri Dini yang terbengong setelah menutup gagang telepon.
Dini memelukku erat. Erat sekali. Butiran bening menetes di kedua pelupuk matanya.
“Mbak Ratih meninggal”
“Innalillahi wa inna’ilaihi roji’un….” Air mata pun tak sanggup lagi kutahan. Nabil berlari menghampiriku. Tangisnya pecah.
“Kenapa Mbak Ratih? Katanya Mbak Ratih janji mau bawain siomay kalo Nabil ga nakal. Dari kemaren kan Nabil ga nakal”.
“Mbak Ratih jahat. Kenapa dia tega boong sama kami? Kenapa dia bilang kerja di restoran? Kenapa Mbak?” Sesal Dini di sela – sela tangisnya. Tak ada sepatah kata pun yang sanggup kuucapkan. Hatiku sakit bagai terhujam pedang.
“Pantes waktu itu aku sempet liat Mbak Ratih masukin thank top sama rok mini ke tas nya. Katanya buat temennya yang titip dibeliin di pasar. Mbak Ratih jahat. Jahaaaat!!!! Penipu”
“Mbak Ratih syahid ya Mbak. Kata Mbak Ratih kan kalo orang yang rajin sholat, trus kecelakaan, abis itu meninggal, langsung masuk syurga ya Mbak?” Tanya Nabil.
Aku dan Dini serentak menoleh ke arah adik cerdas itu. Kurangkul tubuhnya. Kupeluk kedua adikku erat. Lebih erat daripada pelukanku bersama Ratih di kamarnya beberapa hari yang lalu.
***
Dua lembar akasia putih luruh di atas kerudung putihku. Ratih dan Nabil sudah pulang bersama warga. Aku duduk di samping nisan bertuliskan namanya.
“Ukhti….inikah Syahid yang dulu kau cita – citakan? Lupakah kau dengan semangat jihad kita? Lupakah dengan mandat khalifah yang diberikan oleh Sang Khaliq? Mana jubah besar itu ukhti? Mana kerudung panjangmu? Kau bimbing kedua adikmu untuk menjadi pejuang sejati. Kau bimbing adik gadismu tuk mengenakan pakaian yang baik. Kau ajarkan adik kecilmu beberapa ayat pendek, bacaan shalat, bahkan kau jelaskan mengenai syahid yang kau cita – citakan. Namun kemana Ratih Sang Mujahidah itu, wahai ukhti? Kemana?” Bening di mataku terus mengalir. Kuremas segenggam tanah. Ingin kuberteriak. Namun untuk apa? Tak ada lagi yang perlu disalahkan dan disesali. Syahid yang dulu Ratih cita – citakan kini hanya sebuah mimpi belaka.
Akasia semakin runtuh dan berserakan di sekitarku. Kulangkahkan kakiku meninggalkan peristirahatan terakhir Ratih
Allah….semaikan benih keistiqomaahan pada hambaMu yang dhoif ini.
ditulis oleh nayla
subhanallah…ceritanya menyentuh hatiq…semoga kelk bisa menyajikan cerita yg lebih menakjubkan…bagus banget…